TAK SEHAT : Udara yang dihirup di Jambi

Langit Jambi Mengirim Sinyal, Udara Yang Dihirup Tak Lagi Sehat

JAMBI, bungopos.com — Sore biasanya menjadi waktu ketika kota mulai beristirahat. Matahari turun perlahan, kendaraan memenuhi jalan pulang, pedagang menata dagangan, sementara anak-anak bersiap meninggalkan sekolah. Namun pada Minggu, 6 September 2026, ada satu hal yang patut membuat warga Jambi berhenti sejenak: udara yang mereka hirup berada dalam kategori tidak sehat.

Data pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada pukul 17.00 WIB menunjukkan konsentrasi partikulat halus PM2.5 di Muaro Jambi mencapai 120,2 µg/m³, sedangkan Kota Jambi 108,8 µg/m³. Keduanya berada dalam kategori “Tidak Sehat”. Angka tersebut juga terlihat pada tangkapan layar pemantauan BMKG yang menjadi dasar laporan ini. Secara resmi, BMKG menetapkan rentang PM2.5 sebesar 55,5–150,4 µg/m³ sebagai kategori tidak sehat.

Angka 120,2 dan 108,8 mungkin hanya tampak sebagai angka di layar komputer. Tetapi angka itu sesungguhnya sedang bercerita tentang sesuatu yang jauh lebih dekat: tentang setiap tarikan napas warga Jambi.

Udara tidak mengetuk pintu sebelum masuk ke rumah. Ia tidak memilih siapa yang akan menghirupnya. Anak-anak menghirupnya. Pengemudi ojek menghirupnya. Pedagang kaki lima menghirupnya. Pegawai kantor, petani, buruh, mahasiswa, hingga orang tua yang duduk di teras rumah, semuanya berbagi udara yang sama.

Itulah sebabnya kualitas udara bukan sekadar urusan angka.

Ia adalah urusan kehidupan.

PM2.5 merupakan partikel udara berukuran sangat kecil, yakni 2,5 mikrometer atau lebih kecil, yang dipantau BMKG menggunakan metode pengukuran partikulat.

Di Muaro Jambi, konsentrasi 120,2 µg/m³ pada pukul 17.00 WIB menempatkan udara cukup jauh dari kategori aman. Kota Jambi pun tidak lebih baik, dengan 108,8 µg/m³.

Kondisinya terasa seperti paradoks. Kota tetap bergerak ketika kualitas udara sedang memberi peringatan.

Lampu kendaraan menyala. Motor melintas. Orang-orang membeli makanan untuk makan malam. Anak-anak berlari di halaman. Sebagian warga mungkin bahkan tidak menyadari bahwa pada saat yang sama, alat pemantau BMKG sedang mencatat kualitas udara yang masuk kategori tidak sehat. (***)

Editor: Arya Abisatya
Sumber: https://www.bmkg.go.id/