YOGYAKARTA, bungopos.com - Bukan dalam bentuk gelombang yang tiba-tiba membakar kota-kota seperti yang sering terjadi di Eropa atau Timur Tengah. Di Indonesia, ia hadir nyaris tanpa disadari. Matahari memang terasa lebih terik, udara lebih pengap, malam tidak lagi sejuk. Banyak orang menganggapnya sebagai hal biasa. "Namanya juga negara tropis," begitu alasan yang sering terdengar.
Namun para ilmuwan mengingatkan, justru di balik anggapan itulah bahaya sedang tumbuh.
Indonesia memang hanya mengalami kenaikan suhu rata-rata sekitar 0,5 derajat Celsius dalam beberapa dekade terakhir. Angka itu terlihat kecil di atas kertas. Tetapi bagi tubuh manusia, terutama di negara dengan kelembapan udara tinggi seperti Indonesia, perubahan sekecil itu dapat menjadi pemicu gangguan kesehatan yang serius.
Dosen Departemen Perilaku Kesehatan, Lingkungan, dan Kedokteran Sosial Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FKKMK UGM), Aditya Lia Ramadona, mengatakan masyarakat perlu berhenti menganggap panas ekstrem sebagai sekadar cuaca yang tidak nyaman.
"Ketika tubuh tidak lagi mampu membuang panas, suhu tubuh akan meningkat sangat cepat. Mekanisme pendinginan melalui keringat menjadi tidak efektif. Saat itulah organ-organ vital dan otak mulai terganggu," ujarnya, Jumat (10/7).
Kondisi tersebut dikenal sebagai heat stroke, bentuk paling berat dari gangguan akibat paparan panas.
Gejalanya tidak selalu dimulai dengan dramatis. Seseorang bisa merasa sangat lelah, bingung, berbicara tidak jelas, mengalami kejang, lalu kehilangan kesadaran. Tanpa penanganan cepat, heat stroke dapat berakhir dengan kematian.
Yang mengkhawatirkan, sebagian besar masyarakat Indonesia belum mengenali ancaman ini.
Selama ini orang lebih akrab dengan istilah dehidrasi, pusing karena panas, atau sekadar kelelahan. Padahal heat stroke merupakan kondisi medis darurat yang membutuhkan penanganan segera.
Kenaikan Suhu Kecil, Dampaknya Besar
Ramadona mengingatkan bahwa perubahan iklim tidak selalu harus ditandai lonjakan suhu yang ekstrem.
Justru kenaikan kecil yang terjadi terus-menerus dapat menghasilkan dampak kesehatan yang sangat besar.
Penelitian yang dipimpinnya di Yogyakarta menemukan bahwa setiap kenaikan 1 derajat Celsius suhu rata-rata mingguan berkaitan dengan peningkatan sekitar 15,5 persen kunjungan ibu dan anak ke fasilitas layanan kesehatan primer.
Artinya, ketika udara semakin panas, rumah sakit dan puskesmas pun ikut merasakan tekanannya.
Fenomena serupa juga mulai terlihat pada penyakit hipertensi, diabetes melitus tipe 2, hingga gangguan kecemasan yang meningkat ketika suhu udara semakin tinggi.
Bagi tenaga kesehatan, ini menjadi sinyal bahwa perubahan iklim tidak lagi hanya menjadi isu lingkungan.
Ia telah berubah menjadi persoalan kesehatan masyarakat.
Bahaya Ternyata Bersembunyi di Dalam Rumah
Selama ini banyak orang beranggapan risiko terbesar berasal dari aktivitas di luar ruangan.
Ternyata anggapan itu tidak sepenuhnya benar.
Penelitian mahasiswa Program Magister Kesehatan Masyarakat FK-KMK UGM, Anzalia Sabrina, menemukan suhu di dalam rumah lansia di sejumlah kawasan Program Kampung Iklim (ProKlim) Daerah Istimewa Yogyakarta justru lebih tinggi dibandingkan suhu yang dicatat stasiun BMKG.
Rata-rata suhu di dalam rumah mencapai 31 derajat Celsius.
Temuan itu menunjukkan bahwa rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung justru dapat berubah menjadi ruang yang memerangkap panas.
Setiap kenaikan selisih suhu dalam rumah dibanding suhu luar sebesar 1 derajat Celsius, risiko lansia mengalami heat stress meningkat sekitar 32 persen.
Temuan ini menjadi pengingat bahwa kelompok lanjut usia mungkin lebih banyak terpapar panas di ruang tamu atau kamar tidur dibandingkan saat mereka berada di luar rumah.
Kota-kota Indonesia Belum Siap
Menurut Ramadona, menghadapi panas ekstrem tidak cukup hanya mengimbau masyarakat agar lebih banyak minum air putih atau memakai pakaian tipis.
Masalahnya jauh lebih kompleks.
Risiko seseorang terkena dampak panas dipengaruhi oleh kualitas rumah, kepadatan permukiman, ruang terbuka hijau, jenis pekerjaan, akses terhadap air minum, listrik, pendingin ruangan, hingga kesiapan fasilitas kesehatan.
Karena itu, solusi terhadap panas ekstrem tidak bisa hanya dibebankan kepada individu.
Negara juga harus hadir.
Indonesia, kata Ramadona, membutuhkan sistem peringatan dini nasional khusus untuk panas ekstrem, sebagaimana peringatan dini banjir, gempa, atau cuaca buruk.
Namun sistem itu tidak bisa dibuat seragam.
Ambang batas panas di Jakarta tentu berbeda dengan Yogyakarta, Makassar, Medan, Kupang, maupun kawasan dataran tinggi.
Selain suhu udara, sistem peringatan juga perlu mempertimbangkan kelembapan, suhu malam hari, fenomena urban heat island, tingkat kerentanan penduduk, hingga kapasitas layanan kesehatan di setiap daerah.
Lebih dari Sekadar Ramalan Cuaca
Ramadona menilai informasi mengenai suhu tinggi tidak boleh berhenti sebagai angka di layar gawai atau laporan prakiraan cuaca.
Setiap peringatan harus diikuti panduan yang jelas mengenai tindakan yang perlu dilakukan.
Misalnya, kapan sekolah perlu menyesuaikan jam belajar, kapan pekerja luar ruangan harus mengurangi aktivitas berat, kapan fasilitas kesehatan meningkatkan kesiagaan, hingga kapan masyarakat disarankan membatasi aktivitas di luar rumah.
Bagi pekerja lapangan, pendekatannya bukan melarang mereka bekerja.
Sebaliknya, pemerintah dan pemberi kerja perlu menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman melalui pengaturan jam kerja, waktu istirahat di tempat teduh, penyediaan air minum dan elektrolit, serta sistem saling mengawasi agar gejala heat stroke dapat dikenali sejak dini.
Kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, anak-anak, dan penyandang penyakit kronis memerlukan perlindungan yang lebih aktif melalui edukasi, pemantauan kesehatan, ventilasi rumah yang lebih baik, hingga penyediaan ruang teduh di tingkat komunitas.
Krisis yang Sedang Datang Diam-Diam
Perubahan iklim sering dibayangkan sebagai ancaman yang akan terjadi puluhan tahun mendatang.
Padahal, dampaknya sudah dirasakan hari ini.
Ia hadir ketika ruang kelas terasa semakin panas, ketika pekerja konstruksi harus bertahan di bawah terik matahari, ketika lansia sulit tidur karena rumah menyimpan panas sepanjang malam, atau ketika ruang gawat darurat menerima lebih banyak pasien saat suhu udara meningkat.
"Panas ekstrem bukan lagi sekadar cuaca yang tidak nyaman," kata Ramadona. "Ia telah menjadi isu kesehatan masyarakat sekaligus persoalan ketahanan sosial."
Pesannya sederhana, tetapi mendesak.
Indonesia memang harus belajar hidup berdampingan dengan iklim yang semakin panas. Namun adaptasi tidak cukup dilakukan oleh individu semata. Ia membutuhkan kota yang lebih hijau, rumah yang lebih sejuk, aturan kerja yang melindungi, layanan kesehatan yang siap, serta komunikasi risiko yang jelas.
Sebab, ketika panas mulai mengancam kesehatan, persoalannya bukan lagi soal cuaca. Ini adalah soal bagaimana sebuah bangsa melindungi warganya dari krisis yang datang perlahan, tetapi nyata. (***)