YOGYAKARTA, bungopos.com — Cuaca ekstrem kembali menjadi perhatian serius menjelang pergantian tahun. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan hampir seluruh wilayah di Pulau Jawa berpotensi mengalami hujan lebat hingga hujan disertai petir dalam rentang waktu 29 Desember 2025 hingga 10 Januari 2026. Kondisi ini menuntut kewaspadaan ekstra, khususnya bagi masyarakat yang melakukan mobilitas di jalan raya.
BMKG mengimbau pengguna jalan untuk meningkatkan kehati-hatian saat berkendara di tengah curah hujan tinggi. Masyarakat diminta selalu mematuhi rambu lalu lintas serta menggunakan perlengkapan keselamatan, seperti helm bagi pengendara sepeda motor dan sabuk pengaman bagi pengemudi kendaraan roda empat.
Peringatan serupa juga disampaikan Pakar Transportasi Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Ir. Dewanti, MS. Ia mengingatkan bahwa keselamatan berkendara tidak hanya ditentukan oleh kondisi kendaraan dan cuaca, tetapi juga kesiapan fisik pengemudi.
“Sebelum melakukan perjalanan, masyarakat sebaiknya mempersiapkan diri dengan menjaga kondisi kesehatan. Kondisi fisik yang sehat sangat penting selama berkendara,” ujar Dewanti, Selasa (30/12).
Menurutnya, kelelahan dan menurunnya konsentrasi di tengah cuaca buruk dapat meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas. Oleh karena itu, pengendara dianjurkan untuk beristirahat cukup serta tidak memaksakan diri ketika kondisi tubuh tidak prima.
Selain kesiapan fisik, Dewanti menekankan pentingnya perencanaan perjalanan. Pengendara diminta mencermati rute yang akan dilalui dengan mempertimbangkan daerah rawan longsor, banjir, maupun titik-titik kecelakaan. Pemantauan prakiraan cuaca dan kondisi lalu lintas secara berkala juga dinilai sangat krusial.
“Sekarang ini tengah musim hujan dan potensi bencana hidrometeorologis bisa muncul dari mana saja,” katanya.
Dewanti menambahkan, pemerintah sebenarnya telah berperan aktif dalam menyediakan informasi terkait wilayah rawan bencana, potensi kemacetan, hingga ketersediaan lokasi istirahat atau rest area. Informasi tersebut diharapkan dapat membantu pengendara mengambil keputusan perjalanan yang lebih aman.
“Titik rawan bencana seperti longsor, kemacetan lalu lintas, ketersediaan rest area dan fasilitasnya harus diinformasikan jauh hari, sekaligus memastikan kondisi jalan dan rambu lalu lintas berfungsi dengan baik,” ujarnya.
Tak hanya pengguna kendaraan pribadi, perhatian juga diarahkan kepada operator transportasi umum. Dewanti menegaskan perlunya koordinasi yang solid antarpenyedia layanan transportasi untuk memastikan kelayakan armada sebelum beroperasi.
“Operator harus selalu memastikan kondisi kendaraan agar tidak terjadi kecelakaan atau tabrakan di jalan raya,” tegasnya.
Ia optimistis, dengan pengelolaan arus lalu lintas yang baik serta kolaborasi berbagai pihak, kelancaran berkendara dapat terwujud dan angka kecelakaan lalu lintas bisa ditekan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Keselamatan pengguna jalan harus menjadi prioritas utama, apalagi dalam kondisi cuaca ekstrem. Kolaborasi antara pemerintah, operator transportasi, dan masyarakat semakin penting untuk mewujudkan perjalanan yang aman dan lancar,” pungkas Dewanti. (***)