BUNGO, bungopos.com — Akses terhadap layanan kesehatan tidak seharusnya baru dipikirkan ketika seseorang jatuh sakit. Pesan itulah yang ditekankan Kepala Kantor Cabang BPJS Kesehatan Bungo, Henny Nursanty, saat mendorong masyarakat untuk mendaftarkan diri lebih awal sebagai peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Menurut Henny, salah satu tantangan yang masih dihadapi adalah kebiasaan sebagian warga mengurus kepesertaan ketika sudah membutuhkan perawatan medis. Padahal, kesiapan administrasi dan status kepesertaan menjadi faktor penting agar masyarakat dapat mengakses layanan kesehatan sesuai ketentuan yang berlaku.
“Banyak masyarakat masih berpikir untuk mendaftar BPJS ketika sudah sakit. Padahal, kita tidak pernah tahu kapan harus masuk rumah sakit. Karena itu, kami bersama pemerintah daerah terus mengedukasi masyarakat agar mendaftar lebih awal,” ujar Henny, Selasa (27/10/2026).
Untuk memperluas jangkauan layanan, BPJS Kesehatan Cabang Bungo mengandalkan strategi jemput bola melalui sejumlah kanal pelayanan. Salah satunya adalah Agen PESIAR Desa, yang berperan membantu sosialisasi dan pendampingan masyarakat dalam memperoleh informasi serta mengurus kepesertaan JKN.
Layanan BPJS Keliling juga dioptimalkan untuk menjangkau warga di desa dan puskesmas berdasarkan kebutuhan serta permohonan masyarakat. Sementara itu, layanan virtual VIOLA memberikan alternatif pengurusan administrasi jarak jauh melalui pertemuan daring menggunakan Zoom, dengan dokumen persyaratan yang disampaikan kepada petugas.
Kombinasi layanan langsung dan digital tersebut diharapkan dapat mengurangi hambatan jarak, waktu, dan akses informasi, terutama bagi warga yang tinggal jauh dari pusat pelayanan.
Di sisi lain, perluasan kepesertaan juga membutuhkan pengelolaan data yang akurat, khususnya untuk masyarakat kurang mampu yang membutuhkan dukungan pembiayaan iuran. BPJS Kesehatan Cabang Bungo memperkuat koordinasi dengan Dinas Sosial dan operator desa guna memperbarui data calon penerima bantuan agar sesuai dengan kriteria dan ketentuan program pemerintah.
Langkah tersebut menjadi penting di tengah kebutuhan untuk menyelaraskan cakupan perlindungan kesehatan dengan kemampuan anggaran daerah. Masyarakat yang mampu didorong memenuhi kewajiban iurannya secara mandiri, sedangkan warga yang memenuhi kriteria bantuan diarahkan agar memperoleh perlindungan melalui skema yang sesuai.
Di luar dukungan pemerintah, BPJS Kesehatan Cabang Bungo juga mengembangkan Program Donasi JKN dengan melibatkan sektor usaha dan masyarakat yang memiliki kemampuan finansial. Melalui program ini, badan usaha, rumah sakit, klinik mitra, serta individu dapat berpartisipasi membantu pembayaran iuran JKN bagi warga kurang mampu.
Menurut Henny, program tersebut telah membantu mendaftarkan sekitar 100 orang dengan pembiayaan iuran selama satu tahun penuh. Capaian ini menunjukkan bagaimana kepedulian sosial dapat menjadi salah satu jalur untuk memperluas perlindungan kesehatan bagi kelompok rentan.
“Kami mengajak para pengusaha dan masyarakat yang mampu untuk membantu membayarkan iuran warga di sekitarnya. Program donasi ini sudah berjalan dan terbuka bagi badan usaha maupun perorangan,” kata Henny.
Bagi BPJS Kesehatan Cabang Bungo, tantangan memperluas kepesertaan JKN tidak hanya berkaitan dengan jumlah peserta, tetapi juga dengan kesadaran masyarakat, kemudahan pelayanan, ketepatan sasaran bantuan, dan keberlanjutan pembiayaan.
Melalui edukasi, layanan jemput bola, digitalisasi administrasi, dan partisipasi sosial, upaya memperluas perlindungan kesehatan diharapkan dapat menjangkau lebih banyak warga. Tujuannya, memastikan masyarakat memiliki akses terhadap jaminan kesehatan sebelum kebutuhan medis mendesak muncul, bukan baru mencari perlindungan ketika risiko sudah di depan mata. (***)