DATA : Jumlah profesor di Provinsi Jambi hingga tahun 2025

Jambi Kalah dari Enam Provinsi se Sumatera, Hanya Miliki 130 Profesor

JAMBI, bungopos.com — Di tengah perlombaan membangun ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-based economy), jumlah profesor kerap dijadikan salah satu tolok ukur kemajuan sebuah daerah. Namun, bagi Provinsi Jambi, persoalannya bukan lagi sekadar berapa banyak guru besar yang dimiliki, melainkan sejauh mana ilmu dan riset mereka mampu mengubah kehidupan masyarakat.

Data Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Tahun 2025 menunjukkan Jambi memiliki 130 profesor, menempatkannya di peringkat ketujuh di Pulau Sumatera. Posisi itu masih berada di bawah Sumatera Utara (562 profesor), Sumatera Barat (502), Aceh (341), Lampung (251), Riau (215), dan Sumatera Selatan (214).

Meski unggul atas Bengkulu yang memiliki 121 profesor, Kepulauan Riau (13), dan Kepulauan Bangka Belitung (8), angka tersebut memperlihatkan bahwa Jambi masih memiliki pekerjaan rumah besar untuk mengejar ketertinggalan dibanding provinsi-provinsi lain di Sumatera.

Namun bagi Pengamat Publik, Bahren Nurdin, S.Sos., M.A., mengejar jumlah profesor hanyalah satu sisi dari persoalan.

"Secara kuantitas kita memang harus terus mengejar ketertinggalan dari provinsi lain. Universitas di Jambi harus terus mendorong dosen-dosennya untuk meraih jabatan Guru Besar. Perlu pendampingan yang serius, sekaligus fasilitas yang memadai agar dosen mampu menghasilkan dan menerbitkan karya ilmiah bereputasi internasional," kata Bahren.

Menurutnya, peningkatan jumlah profesor merupakan investasi jangka panjang bagi kualitas pendidikan tinggi. Semakin banyak dosen mencapai jenjang guru besar, semakin besar pula peluang lahirnya riset, inovasi, dan sumber daya manusia unggul yang dibutuhkan daerah.

Namun, Bahren mengingatkan bahwa keberhasilan perguruan tinggi tidak boleh berhenti pada statistik akademik.

Ia menilai, tantangan sesungguhnya adalah memastikan para profesor hadir sebagai pemimpin intelektual yang mampu menjawab persoalan riil masyarakat.

"Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kontribusi guru besar itu tidak hanya terasa di lingkungan kampus, tetapi juga di tengah masyarakat. Penelitian mereka harus menjadi tawaran solusi atas berbagai persoalan daerah. Ide dan gagasan mereka harus menjadi penawar bagi penyakit-penyakit sosial, ekonomi, maupun pembangunan yang dihadapi masyarakat," ujarnya.

Bahren menegaskan, ukuran keberhasilan seorang profesor bukan hanya gelar akademik yang disandang, melainkan dampak nyata yang dihasilkan.

"Intinya, jangan hanya banyak secara jumlah, tetapi juga berkualitas. Buat apa memiliki banyak profesor jika keberadaannya tidak memberi dampak bagi kampus maupun masyarakat?" tegasnya.

Pandangan serupa disampaikan oleh mahasiswa program doktor di salah satu perguruan tinggi di Australia. Menurutnya, negara-negara dengan sistem pendidikan tinggi yang maju tidak menjadikan jumlah profesor sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai instrumen untuk mendorong inovasi dan pembangunan.

Ia menilai, universitas di Jambi perlu membangun budaya riset yang lebih kuat sehingga profesor tidak hanya aktif memenuhi indikator akademik, tetapi juga menghasilkan penelitian yang relevan dengan kebutuhan daerah.

Menurutnya, persoalan seperti produktivitas pertanian, hilirisasi komoditas unggulan, pengelolaan lingkungan, transformasi digital, hingga pengentasan kemiskinan seharusnya menjadi ruang pengabdian utama para guru besar.

"Universitas yang kuat bukan diukur semata dari banyaknya profesor, tetapi dari sejauh mana pengetahuan yang dihasilkan mampu mengubah kebijakan, memperkuat industri, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Profesor harus menjadi agen perubahan, bukan hanya pemegang jabatan akademik tertinggi," katanya.

Pandangan tersebut sejalan dengan tren pendidikan tinggi global. Di berbagai universitas terkemuka dunia, reputasi seorang profesor tidak hanya dibangun melalui publikasi ilmiah, tetapi juga melalui kontribusinya terhadap penyelesaian persoalan publik, kolaborasi dengan pemerintah dan dunia usaha, serta kemampuan menghadirkan inovasi yang berdampak luas.

Bagi Jambi, keberadaan 130 profesor merupakan modal akademik yang patut diapresiasi. Namun, angka itu juga menjadi pengingat bahwa perjalanan menuju pusat keunggulan ilmu pengetahuan masih panjang.

Selain mempercepat lahirnya guru besar baru melalui pembinaan karier dosen, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan dunia usaha perlu memperkuat ekosistem riset, meningkatkan dukungan pendanaan penelitian, memperluas kolaborasi internasional, serta mendorong hilirisasi hasil riset menjadi kebijakan publik maupun inovasi ekonomi.

Pada akhirnya, tantangan terbesar bukan sekadar mengejar posisi dalam daftar jumlah profesor di Sumatera. Tantangan sesungguhnya adalah memastikan setiap guru besar mampu menghadirkan ilmu pengetahuan yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Sebab, sebagaimana dikatakan Bahren Nurdin, keberhasilan sebuah daerah tidak diukur dari banyaknya profesor yang dimiliki, tetapi dari seberapa besar gagasan mereka mampu mengubah wajah pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (***) 

Editor: Arya Abisatya
Sumber: Kemendiktisaintek tahun 2025