UCAPAN SELAMAT : Rektor Unja, Prof Helmi mengucapkan selamat kepada guru besar Unja yang baru dikukuhkan

UNJA Cetak Sejarah Baru, Lahirkan 100 Guru Besar untuk Jambi dan Indonesia

MUARO JAMBI, bungopos.com - Suasana khidmat menyelimuti Auditorium Gedung UNIFAC Lantai 1, Kampus Mendalo, Senin (25/5/2026). Di ruang yang dipenuhi para akademisi, keluarga, dan tamu undangan itu, Universitas Jambi menorehkan tonggak sejarah baru: resmi memiliki 100 Guru Besar dari berbagai fakultas di lingkungan kampus hijau kebanggaan Provinsi Jambi tersebut.

Momentum bersejarah itu ditandai dengan pengukuhan empat Guru Besar baru dalam Rapat Terbuka Senat Universitas Jambi. Bukan sekadar seremoni akademik, pengukuhan ini menjadi simbol kuat bahwa dunia pendidikan tinggi di Jambi terus bertumbuh dan bergerak menuju pusat keilmuan yang semakin diperhitungkan di tingkat nasional.

Empat akademisi yang dikukuhkan masing-masing membawa kepakaran yang sangat relevan dengan tantangan zaman. Mereka adalah Mairizal, M.Si., sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Mikrobiologi dan Enzimatik dalam Teknologi Pakan Unggas dan Non Ruminansia dari Fakultas Peternakan; Retno Kusniati, S.H., M.H., Guru Besar Bidang Hukum Internasional; A. Zarkasi, S.H., M.H., Guru Besar Bidang Ilmu Hukum dari Fakultas Hukum; serta Hary Soedarto Harjono, M.Pd., Guru Besar Bidang Pendekatan dan Strategi Pembelajaran Bahasa dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.

Keempat profesor tersebut menyampaikan orasi ilmiah yang tidak hanya sarat gagasan akademik, tetapi juga menawarkan jawaban atas berbagai persoalan nyata di tengah masyarakat.

Prof. Hary Soedarto Harjono mengangkat tema pembelajaran Bahasa Indonesia bagi penutur asing sebagai strategi diplomasi bahasa di kancah global melalui studi kasus BIPA di lingkungan Melayu Jambi. Gagasan tersebut memperlihatkan bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga jembatan budaya dan identitas bangsa di mata dunia.

Sementara itu, Prof. Retno Kusniati menyoroti pentingnya keselarasan perjanjian internasional dengan konstitusi negara dalam menjaga validitas hukum internasional. Di tengah dinamika global yang terus berubah, isu tersebut menjadi semakin relevan bagi masa depan tata hukum Indonesia.

Dari bidang demokrasi dan ketatanegaraan, Prof. A. Zarkasi menghadirkan refleksi mendalam tentang hukum kepemiluan sebagai pilar demokrasi konstitusional. Ia menekankan pentingnya rekonstruksi sistem pemilu Indonesia agar semakin adil, kuat, dan berpihak pada kualitas demokrasi bangsa.

Tak kalah strategis, Prof. Mairizal menghadirkan gagasan tentang kedaulatan pakan melalui bioteknologi. Ia menawarkan rekayasa mikrobiologi dan teknologi enzimatis untuk optimalisasi bungkil inti sawit sebagai pakan broiler, sebuah inovasi yang berpotensi memperkuat sektor peternakan sekaligus mendukung pemanfaatan sumber daya lokal secara berkelanjutan.

Pengukuhan ini turut dihadiri berbagai tokoh penting, mulai dari jajaran rektorat dan senat universitas, hingga sejumlah tokoh daerah dan mantan pimpinan kampus. Hadir pula Bupati Bambang Bayu Suseno, S.P., M.M., M.Si., Rektor UNJA periode 2003–2012 Kemas Arsyad Somad, S.H., M.H., serta Rektor UNJA periode 2020–2024 Sutrisno, M.Sc., Ph.D.

Ketua Senat UNJA, Syamsurijal Tan, S.E., M.A., menegaskan bahwa gelar profesor bukan hanya tentang pencapaian akademik semata.

“Bukan sekadar gelar akademik, tetapi lebih mencerminkan amanah moral dan integritas dalam menjalankan ilmu pengetahuan untuk kesejahteraan masyarakat, khususnya demi pengembangan Universitas Jambi ini,” ujarnya.

Pernyataan tersebut seakan menjadi pengingat bahwa profesor bukan hanya penjaga ilmu di ruang kampus, melainkan juga penjaga nurani peradaban.

Rektor Helmi, S.H., M.H., menyebut orasi ilmiah yang disampaikan para Guru Besar sangat relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini.

“Apa yang disampaikan oleh beliau berempat ini memang menjawab solusi permasalahan yang ada di masyarakat,” kata Rektor.

Dengan genapnya 100 Guru Besar, Universitas Jambi tidak hanya mencatat angka simbolik dalam sejarah akademiknya. Lebih dari itu, pencapaian ini menandai lahirnya kekuatan intelektual baru yang diharapkan mampu membawa perubahan nyata bagi daerah, bangsa, bahkan dunia.

Di tengah tantangan global yang semakin kompleks, kampus bukan lagi sekadar tempat belajar, tetapi ruang lahirnya solusi. Dan dari Mendalo, cahaya ilmu pengetahuan itu kini semakin terang menyala. (***)

Editor: Arya Abisatya
Sumber: https://www.unja.ac.id/