MUARO JAMBI, bungopos.com - Di sebuah desa kecil bernama Lopak Aur, Kecamatan Pemayung, Kabupaten Batanghari, puluhan tahun silam, seorang anak laki-laki tumbuh di tengah keterbatasan yang nyaris menjadi takdir bagi banyak keluarga pedesaan pada zamannya. Jalan-jalan masih berlumpur, akses pendidikan belum semudah sekarang, dan kehidupan ekonomi masyarakat berjalan dalam kesederhanaan yang keras.
Namun dari desa yang jauh dari gemerlap kota itu, lahirlah seorang akademisi yang kelak berdiri di puncak tertinggi dunia pendidikan tinggi Indonesia.
Dialah Prof. Dr. A. Zarkasi, S.H., M.Hum.
Pada 25 Mei 2026, Universitas Jambi resmi mengukuhkan putra Batanghari tersebut sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Jambi, sebuah pencapaian yang tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga simbol kemenangan pendidikan atas keterbatasan.
Bagi sebagian orang, gelar profesor mungkin terlihat sebagai prestasi akademik semata. Namun bagi Prof. Zarkasi, gelar itu adalah jejak panjang perjuangan yang dibangun oleh kerja keras, kesabaran, dan keyakinan bahwa pendidikan mampu mengubah nasib manusia.
"Pendidikan adalah jalan paling kuat untuk memutus rantai kemiskinan," menjadi keyakinan yang terus ia pegang sejak muda.
Ketika Keterbatasan Menjadi Guru KehidupanMasa kecil Prof. Zarkasi berlangsung pada era ketika Lopak Aur masih menghadapi berbagai keterbatasan infrastruktur. Jalan yang sulit dilalui, minimnya fasilitas publik, dan kondisi ekonomi keluarga yang sederhana menjadi bagian dari kesehariannya.
Namun justru dari lingkungan itulah lahir daya juang yang luar biasa.
Keterbatasan tidak membuatnya menyerah. Sebaliknya, keadaan tersebut membentuk ketahanan mental, kedisiplinan, dan kemampuan beradaptasi yang kemudian menjadi fondasi penting dalam perjalanan akademiknya.
Ia memahami sejak dini bahwa masa depan tidak boleh ditentukan oleh keadaan lahir, melainkan oleh keberanian untuk belajar dan terus melangkah.
Mencari Keadilan Lewat Dunia HukumSetelah menyelesaikan pendidikan menengah, Zarkasi memilih melanjutkan studi pada Program Studi Ilmu Hukum Universitas Jambi.
Pilihan itu bukan tanpa alasan.
Di tengah berbagai persoalan sosial yang ia saksikan, ia melihat masih banyak praktik hukum yang belum sepenuhnya menghadirkan kepastian dan keadilan bagi masyarakat.
Kegelisahan itulah yang kemudian mengantarkannya mendalami ilmu hukum secara serius.
Perjalanannya berlanjut ke Program Magister Ilmu Hukum di Universitas Padjadjaran Bandung, salah satu pusat pendidikan hukum terbaik di Indonesia. Tidak berhenti di sana, ia kemudian menyelesaikan pendidikan doktoralnya di Universitas Jambi hingga akhirnya mencapai puncak karier akademik sebagai Guru Besar.
Baginya, hukum bukan sekadar kumpulan pasal dan aturan.
"Hukum harus menjadi instrumen perubahan sosial yang membawa masyarakat menuju kehidupan yang lebih adil dan bermartabat," tegasnya.
Profesor yang Tidak Lahir dari Zona NyamanPerjalanan menuju jabatan profesor bukanlah perjalanan yang mulus.
Berbagai tantangan akademik, tuntutan penelitian, publikasi ilmiah, hingga birokrasi perguruan tinggi harus dilalui dengan ketekunan luar biasa.
Ada masa-masa ketika hasil kerja keras belum mendapat pengakuan. Ada pula saat-saat ketika keraguan datang dari berbagai arah.
Namun Prof. Zarkasi memilih menjadikan setiap penolakan sebagai pelajaran.
Baginya, keberhasilan akademik bukan ditentukan oleh seberapa cepat seseorang mencapai tujuan, melainkan oleh kemampuannya bertahan ketika menghadapi kegagalan.
Karena itu, ketika akhirnya dikukuhkan sebagai profesor, ia memandang jabatan tersebut bukan sebagai garis akhir.
"Profesor bukanlah akhir pencarian. Ini adalah amanah untuk menjadi lokomotif peradaban melalui kepemimpinan akademik dan pembinaan generasi penerus," ujarnya.
Ilmu Harus MemanusiakanDi tengah perkembangan zaman yang semakin digital, Prof. Zarkasi tetap memegang prinsip sederhana namun mendalam.
"Ilmu harus memanusiakan, bukan meninggikan."
Filosofi itu selalu ia tanamkan kepada mahasiswa yang diajarnya.
Menurutnya, kecerdasan intelektual tanpa kerendahan hati hanya akan melahirkan kesombongan akademik.
Sebaliknya, ilmu yang dipadukan dengan empati akan melahirkan pemimpin yang mampu menghadirkan solusi bagi masyarakat.
Karena itu, ia selalu mendorong mahasiswa untuk tidak hanya mengejar nilai, tetapi juga membangun karakter, integritas, dan kepedulian sosial.
Pesan untuk Generasi DigitalDi era media sosial yang serba instan, Prof. Zarkasi menyampaikan kritik yang relevan bagi generasi muda.
Ia mengingatkan mahasiswa agar tidak terjebak dalam budaya copy-paste dan pencitraan semu yang sering mendominasi ruang digital.
Menurutnya, bangsa ini membutuhkan generasi yang berpikir kritis, rajin membaca, dan berani terjun langsung menyelesaikan persoalan masyarakat.
Ia mengajak anak-anak muda kembali membuka karya-karya para pemikir besar, memperluas wawasan, serta menjadikan ilmu sebagai alat untuk mengurangi ketimpangan sosial.
Karena masa depan bangsa tidak dibangun oleh mereka yang hanya viral di media sosial, tetapi oleh mereka yang mampu menghadirkan perubahan nyata bagi masyarakat.
Sebuah Pelajaran dari Lopak AurKisah Prof. Zarkasi adalah bukti bahwa tempat lahir tidak menentukan sejauh mana seseorang dapat melangkah.
Dari jalan-jalan berlumpur di Lopak Aur hingga berdiri di mimbar profesor Universitas Jambi, perjalanan hidupnya mengajarkan bahwa ketekunan selalu memiliki cara untuk mengalahkan keterbatasan.
Di akhir refleksinya, Prof. Zarkasi menyampaikan pesan yang sederhana namun sangat mendalam.
Bahwa keberhasilan sejati bukanlah tentang jabatan, harta, atau popularitas.
Keberhasilan sejati adalah ketika seseorang mampu berdamai dengan dirinya sendiri, menerima masa lalu dengan lapang, menjalani masa kini dengan syukur, dan melangkah menuju masa depan dengan keyakinan.
Sebab pada akhirnya, manusia tidak diingat karena apa yang dimilikinya, tetapi karena makna yang berhasil ia tinggalkan bagi kehidupan orang lain.
Dan Prof. Zarkasi telah membuktikan bahwa dari sebuah desa kecil di Batanghari, lahir seorang akademisi yang tidak hanya mengajar hukum, tetapi juga mengajarkan arti keteguhan hidup. (***)