Oleh : Mohd Haramen, S.E, M.E.Sy
KISAH Penggodaan oleh Iblis dimulai dari manusia pertama yang diciptakan oleh Allah SWT, yakni Nabi Adam AS dan Siti Hawa. Dengan kelicikannya, Iblis mendekati Adam dan Hawa datang dengan janji yang menggiurkan. Ia membisikkan mimpi tentang kenaikan derajat, jika mereka memakan buah Khuldi, kata Iblis, mereka akan menjadi seperti malaikat atau hidup kekal di surga.
Bujukan itu semakin meyakinkan ketika Iblis bersumpah atas nama Allah. Adam, yang belum pernah mengenal kebohongan, mengira seseorang yang bersumpah atas nama Allah pasti berkata jujur. Akhirnya, keduanya pun memakan buah yang dilarang.
Seketika itu juga, pakaian yang menutupi tubuh mereka lenyap. Rasa malu menyergap. Mereka bergegas menutupi tubuh dengan daun-daun surga. Pada saat itulah mereka menyadari: mereka telah tertipu.
Namun kisah ini bukan sekadar kisah tentang jatuhnya manusia. Ini adalah kisah tentang kekuatan penyesalan.
Adam dan Hawa tidak menyalahkan siapa pun. Mereka tidak mencari alasan. Mereka justru tenggelam dalam penyesalan yang sangat dalam. Dikisahkan dalam beberapa riwayat, tangisan mereka begitu dahsyat hingga tak terbandingkan dengan tangisan manusia mana pun. Bahkan ada riwayat yang menyebut mereka tidak berani menengadah ke langit selama empat puluh tahun karena merasa begitu berdosa di hadapan Allah.
Manusia bukan makhluk yang tidak pernah salah. Tapi menurut kitab Nashoihul Ibad, ciri-ciri manusia yang baik adalah mengakui berbuat dosa, menyesal telah berbuat dosa, lalu memohon ampun dan bertaubat atas dosa yang ia perbuat. Manusia adalah makhluk yang diberi kesempatan untuk kembali.
Menurut riwayat yang dinukil oleh Jalaluddin as-Suyuthi, Adam dan Hawa berdoa dengan penuh kerendahan hati:
"Ya Allah, Engkau mengetahui apa yang tersembunyi dan yang tampak dariku. Terimalah penyesalanku. Engkau mengetahui kebutuhanku, maka kabulkanlah permohonanku. Ampunilah dosaku dan berikanlah kepadaku hati yang penuh iman serta kerelaan atas takdir-Mu."
Tangisan itu bukan sekadar air mata. Itu adalah tangisan yang membuka pintu langit.
Allah menerima taubat mereka.
Meski keduanya tetap diturunkan ke bumi sebagai konsekuensi dari kesalahan, namun mereka tidak lagi menjadi manusia yang terkutuk. Mereka menjadi manusia yang dimuliakan oleh taubat.
Di sinilah pesan besar bagi kita, terutama ketika kita memasuki bulan suci Ramadhan.
Ramadhan bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga. Ramadhan adalah bulan pulang. Bulan ketika manusia kembali kepada Allah setelah tersesat oleh dosa, kelalaian, dan kesombongan.
Karena itu Rasulullah mengajarkan doa yang sangat terkenal, doa yang juga sering dibaca pada malam-malam Ramadhan:
“Allahumma innaka ‘afuwwun kariimun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annaa.”
Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlah kami.
Ulama besar Ibnu Taimiyyah menjelaskan bahwa taubat adalah jalan hidup seorang mukmin. Ada taubat yang wajib—yakni taubat dari dosa dan pelanggaran. Ada pula taubat yang sunnah—yakni taubat karena meninggalkan kebaikan atau melakukan hal yang makruh.
Sementara itu Ibnu Katsir menafsirkan firman Allah dalam Al-Qur'an surat At-Tahrim ayat 8 tentang taubatan nasuha, yaitu taubat yang tulus: meninggalkan dosa sekarang, menyesali yang telah lalu, dan bertekad kuat tidak mengulanginya lagi.
Itulah taubat yang mengubah hidup.
Kisah Adam mengajarkan satu hal yang sangat penting:
Dosa tidak menghancurkan manusia. Yang menghancurkan manusia adalah ketika ia berhenti kembali kepada Allah.
Selama seseorang masih mampu menangis dalam doa, selama ia masih mampu menyesal di hadapan Tuhan, maka pintu langit belum pernah tertutup baginya.
Karena itu, Ramadhan ini adalah kesempatan yang sangat mahal.
Mungkin kita pernah jatuh.
Mungkin kita pernah jauh dari Allah.
Mungkin hati kita pernah dipenuhi kesalahan.
Namun selama kita masih mau berkata, “Ya Allah, ampunilah aku,” maka kisah kita belum selesai. Sebab sejarah manusia dimulai dari sebuah kesalahan, tetapi juga dimuliakan oleh sebuah taubat.
(Penulis adalah Wakil Ketua I Baznas Batang Hari bidang Penghimpunan Zakat, Infaq dan Sedekah)