Sahuri

Air Mata, Amarah, dan Doa Ibu : Jalan Panjang Prof Sahuri Lasmadi Menuju Gelar Profesor

MUARO JAMBI, bungopos.com – Suasana khidmat menyelimuti Universitas Jambi saat kampus kebanggaan Provinsi Jambi itu resmi mengukuhkan Prof. Dr. Sahuri L, S.H., M.Hum sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Hukum pada Fakultas Hukum. Prosesi sakral tersebut berlangsung di Balairung Pinang Masak, Kampus Mendalo, Kamis (12/02/2025).

Pengukuhan ini bukan sekadar seremoni akademik. Ia adalah puncak dari perjalanan panjang seorang anak daerah yang lahir dan dibesarkan di Kota Jambi, tumbuh dalam nuansa tradisi Melayu yang kental, dan ditempa oleh tekad pantang menyerah.

Sejak kecil, Sahuri telah menapaki jalan pendidikan dengan mimpi besar. Ia mengawali sekolah di SDN 9 Kota Jambi, lalu melanjutkan ke SMP Negeri 5 Kota Jambi. Di bangku SMP itulah benih cita-cita besar mulai tumbuh. Kekagumannya kepada Muhammad Yamin bukan sekadar rasa hormat pada tokoh nasional, tetapi menjadi api yang membakar ambisi.

Dengan polos namun penuh keyakinan, ia kerap menuliskan nama panjangnya lengkap dengan gelar impian di buku tulis: “Prof. Dr. H. Sahuri S.H., M.H.” Teman-temannya menjadikannya bahan guyonan, namun bagi Sahuri muda, itu adalah doa yang dititipkan pada masa depan.

“Saya waktu masih SMP mengidolakan Prof. Muhammad Yamin. Saya suka menulis nama lengkap dengan gelar itu sampai teman-teman tahu dan menjadikannya bahan guyonan,” ujarnya sambil tersenyum mengenang.

Masa SMA di SMA Negeri 1 Kota Jambi menjadi fase pembuktian. Pernah diragukan oleh seorang guru dan dianggap tak akan mampu menyelesaikan kuliah, Sahuri justru menjadikan keraguan itu sebagai bahan bakar semangat. Ia membuktikan diri dengan meraih beasiswa PPA dan melanjutkan pendidikan tinggi dengan tekad yang tak goyah.

Namun, jalan menuju gelar profesor tidak pernah mulus. Keputusan untuk kuliah sempat membuatnya berselisih dengan orang tua yang menginginkannya segera bekerja, bahkan telah menyiapkan peluang di bea cukai. Dengan keberanian yang mungkin dianggap nekat, ia memilih mendaftar kuliah menggunakan biaya sendiri—tanpa restu.

“Waktu awal ada niat ingin kuliah, saya sempat bentrok dengan orang tua karena mereka ingin saya bekerja. Saya bahkan diminta bekerja di bea cukai. Namun saya diam-diam memilih kuliah dengan biaya sendiri. Saat orang tua tahu saya kuliah, ayah marah dan membuang semua buku-buku saya. Ibu hanya bisa menyuruh saya untuk bersabar,” kenangnya.

Luka batin itu tak memadamkan semangatnya. Justru dari situlah karakter tangguhnya terbentuk.

Sebelum sepenuhnya menekuni dunia akademik, ia sempat menjadi pengacara selama satu tahun. Pengalaman tersebut memberinya pemahaman nyata tentang praktik hukum di lapangan. Namun panggilan untuk mendalami ilmu lebih dalam membawanya melanjutkan studi Magister (S2) di Universitas Airlangga.

Perjuangan berlanjut saat menempuh pendidikan doktor (S3). Masa itu ia sebut sebagai periode paling berat dalam hidupnya. Tuntutan literatur berbahasa Inggris, keterbatasan referensi, hingga kondisi finansial yang serba pas-pasan menjadi ujian yang menguras tenaga dan mental.

“Perjalanan saya menempuh Pendidikan S3 itu berat sekali. Dosen meminta literatur yang berbahasa Inggris semua. Saya jalani saja, meski sering dimarahi. Pada saat itu biaya juga terbatas, masa S3 itu paling menderita,” ungkapnya jujur.

Hari ini, di hadapan sivitas akademika dan keluarga besar kampus, semua derita itu menjelma menjadi kebanggaan. Dari buku-buku yang pernah dibuang, dari ejekan masa remaja, dari keraguan yang menghantui, lahirlah seorang Guru Besar.

Pengukuhan Prof. Sahuri bukan hanya capaian pribadi, tetapi juga pesan kuat bagi generasi muda Jambi: bahwa mimpi yang ditertawakan hari ini bisa menjadi kenyataan esok hari—asal diperjuangkan dengan keberanian, kesabaran, dan keyakinan yang tak pernah padam. (***)

 
Editor: arya abisatya
Sumber: https://www.unja.ac.id/