Mohd Haramen

PUASA KE XXV : Tangisan Terakhir di Neraka

Posted on 2026-03-15 16:41:23 dibaca 185 kali

Oleh : Mohd Haramen, S.E, M.E.Sy

DIANTARA kisah-kisah yang menggugah hati tentang akhir perjalanan manusia, terdapat sebuah kisah yang dinukil oleh Ibnu Katsir dalam kitab An-Nihayah fi al-Fitan wa al-Malahim. Kisah itu tentang seorang lelaki bernama Juhainah—seseorang yang kelak menjadi manusia terakhir yang keluar dari neraka dan terakhir pula masuk ke surga.

Dikisahkan, suatu hari di alam akhirat, malaikat memanggil nama Juhainah. Saat nama itu disebut, seluruh penghuni neraka menangis tersedu-sedu. Tangisan itu bukan sekadar kesedihan biasa. Tangisan itu adalah tangisan keputusasaan yang paling dalam.

Mengapa?

Karena ketika Juhainah dipanggil keluar dari neraka untuk menuju surga, itu menjadi tanda bahwa tidak ada lagi orang yang akan keluar setelahnya. Dialah yang terakhir. Mereka yang tersisa akan tinggal di neraka untuk selama-lamanya.

Nama itu menggema di antara jeritan dan ratapan.
“Juhainah… Juhainah…”

Bagi penghuni neraka lainnya, panggilan itu adalah pengumuman terakhir bahwa harapan telah berakhir.

Namun kisah Juhainah juga menyimpan pesan yang sangat dalam tentang rahmat Allah.

Juhainah bukanlah orang kafir. Ia adalah seorang yang beriman, tetapi membawa dosa yang sangat besar. Dosa-dosa itulah yang membuatnya harus menjalani penyucian yang panjang di dalam neraka. Ia menanggung azab dalam waktu yang sangat lama hingga akhirnya menjadi orang terakhir yang dibersihkan dari dosa-dosanya.

Setelah semua orang beriman yang berdosa keluar lebih dahulu, barulah tiba gilirannya.

Nama Juhainah kembali disebut dalam riwayat yang dikutip oleh ulama besar Jalaluddin as-Suyuthi dalam kitab Jami’ul Ahadits. Dalam hadits yang diriwayatkan dari Abdullah ibn Umar disebutkan sabda Rasulullah:

"Orang terakhir yang masuk surga adalah seorang laki-laki dari suku Juhainah yang bernama Juhainah."

Bayangkan perjalanan hidup seseorang yang harus melewati neraka begitu lama hanya untuk akhirnya sampai ke gerbang surga.

Kisah ini mengajarkan satu kenyataan besar tentang kehidupan manusia:
Akhir perjalanan kita hanya bermuara pada dua tempat—surga atau neraka.

Surga adalah tempat yang diimpikan oleh setiap jiwa. Di sana tidak ada lagi kesedihan, tidak ada luka, tidak ada ketakutan. Yang ada hanyalah kedamaian, kenikmatan, dan kebahagiaan yang tidak pernah berakhir. Allah menjanjikan tempat mulia ini bagi hamba-hamba-Nya yang beriman, taat, dan berusaha menjaga diri dari dosa.

Sebaliknya, neraka adalah tempat yang penuh dengan azab. Di sana terdengar jeritan penyesalan dari orang-orang yang dahulu di dunia mengabaikan perintah Allah, menuruti hawa nafsu, dan menolak kebenaran.

Kisah Juhainah seakan berkata kepada kita:
Jangan pernah meremehkan dosa, karena satu dosa saja bisa memperpanjang perjalanan menuju surga.

Namun kisah itu juga membawa harapan:
Selama seseorang masih memiliki iman, pintu rahmat Allah tidak pernah benar-benar tertutup.

Karena itu, Allah menghadirkan bulan yang sangat istimewa bagi manusia: bulan Ramadhan.

Di bulan ini, langit seakan membuka semua pintunya. Rasulullah menjelaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muhammad dan dicatat dalam kitab-kitab hadits seperti Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim bahwa ketika Ramadhan tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.

Artinya, Allah sedang memberi kesempatan besar kepada manusia untuk memperpendek perjalanan menuju surga.

Puasa, shalat tarawih, membaca Al-Qur’an, bersedekah, memperbanyak doa, serta mengejar malam Lailatul Qadar adalah jalan-jalan yang disediakan untuk menghapus dosa-dosa kita.

Bahkan bagi orang yang berpuasa dengan penuh keimanan, Allah menyediakan pintu khusus di surga bernama Ar-Rayyan—pintu yang hanya akan dimasuki oleh orang-orang yang berpuasa.

Karena itu, Ramadhan bukan sekadar rutinitas tahunan.
Ramadhan adalah kesempatan emas untuk mengubah akhir perjalanan kita.

Kisah Juhainah seharusnya membuat kita merenung:
jika seseorang harus menunggu begitu lama di neraka sebelum akhirnya masuk surga, betapa beruntungnya mereka yang bisa langsung melangkah menuju surga tanpa harus melewati azab terlebih dahulu.

Selama kita masih hidup, cerita kita belum ditulis sampai akhir.

Ramadhan datang setiap tahun membawa pesan yang sama:
perbaiki diri sebelum penyesalan datang terlambat.

Sebab pada akhirnya, setiap manusia akan berdiri di hadapan dua pintu:
pintu surga yang penuh cahaya,
atau pintu neraka yang penuh penyesalan.

Dan keputusan tentang pintu mana yang akan kita masuki—
sedang kita tulis hari ini, dengan setiap amal yang kita lakukan.

(Penulis adalah Wakil Ketua I Baznas Kabupaten Batang Hari bidang Penghimpunan Zakat, Infaq dan Sedekah)

Penulis: Mohd Haramen
Editor: arya abisatya
Copyright 2023 Bungopos.com

Alamat: Graha Pena Jambi Ekspres,
Jl. Kapt. Pattimura No. 35 KM. 08
Kenali Besar, Kec. Alam Barajo, Kota Jambi

Telpon: -

E-Mail: bungoposonline@gmail.com