Mohd Haramen

PUASA VIII : Kaya Tapi Zuhud

Posted on 2026-02-26 14:06:17 dibaca 140 kali

Oleh : Mohd Haramen, M.E.Sy

Di tengah terik yang membakar padang pasir dan musim paceklik yang menyesakkan, tahun ke-9 Hijriyah mencatat satu episode berat dalam sejarah Islam: Perang Tabuk. Ekspedisi ini bukan sekadar perjalanan militer menuju perbatasan Syam untuk menghadapi kekuatan Kekaisaran Romawi Timur, tetapi juga ujian iman yang menguji isi hati kaum Muslimin.

Cuaca panas ekstrem, krisis ekonomi, dan jarak tempuh yang jauh menjadikan pasukan ini dikenal sebagai Jaisyul Usrah—pasukan dalam kesulitan. Logistik minim, kendaraan terbatas, dan perbekalan tak mencukupi. Di saat sebagian orang diliputi kegelisahan, bahkan ada yang mencari alasan untuk tidak berangkat, justru di situlah keimanan sejati menemukan panggungnya.

Di tengah kondisi tersebut, tampil sosok dermawan yang namanya harum sepanjang zaman: Utsman bin Affan. Tanpa ragu, ia menyumbangkan 300 ekor unta lengkap dengan pelana dan bekalnya, 50 hingga 100 ekor kuda, serta 1.000 dinar emas. Sumbangan itu bukan sekadar angka—ia adalah napas bagi pasukan yang kelelahan, harapan bagi barisan yang hampir patah.

Melihat kedermawanan itu, Muhammad ﷺ bersabda:

“Tidak ada yang dapat membahayakan Utsman setelah apa yang ia lakukan hari ini.”

Doa itu bukan hanya pujian, melainkan pengakuan atas keikhlasan yang melampaui kepentingan diri. Utsman tidak memberi karena ingin dikenang, tetapi karena ia memahami satu hal mendasar: harta hanyalah titipan.

Beberapa waktu sebelumnya, di Kota Madinah pernah dilanda krisis air. Hanya ada satu sumur produktif bernama Sumur Raumah, milik seorang Yahudi yang menjual air dengan harga tinggi. Kaum Muslimin kesulitan mendapatkan air, kebutuhan paling mendasar bagi kehidupan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Siapa yang membeli sumur Raumah dan menjadikannya untuk umat, maka baginya surga.”

Sekali lagi, tanpa menunggu orang lain, Utsman membeli sumur itu dan menghibahkannya untuk masyarakat. Sejak saat itu, air mengalir gratis bagi seluruh kaum Muslimin. Ia tidak memasang papan nama. Ia tidak meminta balasan. Ia hanya ingin ridha Allah.

Dari Tabuk hingga Sumur Raumah, kita belajar bahwa kekayaan di tangan orang beriman bukan alat kesombongan, tetapi sarana pengabdian.

Namun sejarah juga mengingatkan bahwa musuh terbesar manusia bukan hanya pasukan Romawi atau kekeringan padang pasir, melainkan penyakit hati. Dalam karya monumentalnya, Ihya' Ulumiddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan tiga induk keburukan: hasad (iri), tama’ (rakus), dan ujub atau takabur (sombong).

Iri membuat seseorang tersiksa melihat kebahagiaan orang lain. Rakus menjadikan dunia sebagai tujuan akhir. Sombong menumbuhkan ilusi bahwa diri lebih tinggi dari yang lain—penyakit yang dahulu menjerumuskan Iblis.

Rasulullah ﷺ mengingatkan:

“Cinta harta dan kedudukan menumbuhkan sifat munafik dalam hati sebagaimana air menumbuhkan tanaman hijau.”

Dan kepada Ali RA beliau bersabda bahwa kehancuran manusia bersumber dari mengikuti hawa nafsu dan cinta pujian.

Imam Al-Ghazali bahkan menegaskan, ketika hati telah dikuasai hubb al-jah—cinta kedudukan—maka seluruh amal berisiko berubah menjadi sandiwara. Ibadah dilakukan demi sorotan manusia, bukan demi Allah. Kebaikan dipamerkan untuk tepuk tangan, bukan untuk keselamatan akhirat.

Di sinilah puasa menemukan maknanya. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi latihan membunuh keserakahan, memadamkan iri, dan meruntuhkan kesombongan. Saat seseorang rela menahan yang halal demi perintah Allah, ia sedang membersihkan akar cinta dunia dari dalam dirinya.

Dalam riwayat yang disebutkan oleh Imam Ahmad, disebutkan bahwa mencintai dunia adalah sumber dari segala kesalahan. Dunia bukan untuk dibenci, tetapi jangan sampai dicintai melebihi akhirat.

Kisah Utsman bin Affan mengajarkan kita bahwa kekayaan tidak salah. Yang salah adalah ketika harta menguasai hati. Usman membuktikan bahwa orang paling kaya bisa menjadi yang paling zuhud; bahwa pemilik dinar bisa menjadi hamba yang paling dermawan; bahwa kedudukan tidak harus melahirkan kesombongan. Di tengah krisis Tabuk, ia memberi. Di tengah krisis air, ia berbagi. Di tengah potensi pujian, ia tetap merendah. Sejarah mencatat namanya bukan karena hartanya, tetapi karena hatinya.

Dan hari ini, pertanyaannya sederhana: ketika kita diuji dengan kelapangan, apakah kita akan seperti Utsman—atau justru menjadi tawanan cinta dunia ?  Perang terbesar sesungguhnya bukan di Tabuk. Ia ada di dalam dada kita —antara iman dan ambisi, antara ikhlas dan ingin dipuji. Semoga dalam momen puasa ini kita menunaikan zakat kita dan berbagi lewat sedekah terbaik kita. 

(Penulis adalah Wakil Ketua I Baznas Kabupaten Batang Hari bidang Penghimpunan Zakat, Infak dan Sedekah)

Penulis: Mohd Haramen
Editor: arya abisatya
Copyright 2023 Bungopos.com

Alamat: Graha Pena Jambi Ekspres,
Jl. Kapt. Pattimura No. 35 KM. 08
Kenali Besar, Kec. Alam Barajo, Kota Jambi

Telpon: -

E-Mail: bungoposonline@gmail.com