Mohd Haramen

PUASA KE V : Hidup Bersahaja

Posted on 2026-02-23 05:55:47 dibaca 218 kali

DI ERA KINI,  sulit rasanya mencari sosok pejabat publik yang hidup bersahaja. Budaya kapitalisme telah merasuki sendi-sendi kehidupan manusia. Terkadang seorang dihargai bukan karena kepintarannya, tapi karena kekayaan yang dimiliki. Seringkali publik beranggapan orang yang hidupnya kaya raya dianggap cerdas, sehingga segala ungkapannya jadi panutan. Tetapi, orang pintar yang hidup bersahaja dianggap bodoh sehingga ungkapannya dianggap angin lalu.  

Padahal, Napoleon Bonaparte, Kaisar besar Perancis, pernah menyampaikan  ungkapan,  “Kesahajaan adalah dasar segala moral dan kebajikan utama manusia. Tanpa kesederhanaan, manusia tidak ada bedanya dengan Binatang,”.

Di era perjuangan, banyak sekali pejabat yang hidup bersahaja. Bahkan Wakil Presiden RI Pertama, yakni Moh Hatta sangat bersahaja. Selain simbol perjuangan dan dedikasi yang tak tergoyahkan dalam merebut kemerdekaan, kesederhanaannya layak mengilhami generasi saat itu,  dan juga tetap relevan hingga kini. Beliau tidak tergoda oleh kemewahan materi, tetapi lebih mengutamakan pengabdian kepada rakyat dan negara. Sederhana bukanlah sekadar gaya hidup bagi Bung Hatta, melainkan suatu sikap mental yang memandu tindakannya. Demikian tulis Raihan Muhammad di kumparan.com.

BACA JUGA: PUASA KE IV : Membumikan Keadilan

Saat menjabat wakil presidenpun, Hatta tidak menggunakan uang negara untuk keperluan pribadi. Bahkan, ia pernah kesulitan membayar iuran listrik dan iuran lainnya. Selain itu, Hatta selalu mengembalikan sisa uang saku perjalanan dinas ke luar negeri kepada negara karena merasa uang tersebut bukan miliknya.

Hal yang sama juga dilakukan oleh mantan Menteri Agama RI (1962 – 1967),  KH Saifuddin Zuhri.  Dalam tulisan, Prof. Dr. Ahmad Erani Yustika disebutkan bahwa sang menteri, selain menolak rumah dinas, juga selepas jadi Menteri pernah  berdagang beras di Pasar Glodok. Karena uang pensiunnya tidak cukup menghidupi keluarganya.

Menurut Erani, bagi KH Syaifuddin, hidup sahaja adalah pertempuran antara akal dan nafsu. Hasrat untuk hidup berlebih dan mengakumulasi  kekayaan adalah syahwat keburukan. Tugas akal adalah mengendalikan hasrat tersebut. Jika gagal, segala ikhwal yang berupa kejahatan, kelicikan, kekejaman, kebiadaban, dan keculasan pasti terjadi.

Rasulullah pernah bersabda: “Kekayaan yang hakiki adalah kelimpahan iman dan dicerminkan dalam sifat qanaah.” Sifat qanaah/kanaah sangat dijunjung tinggi dalam Islam. Rasulullah selalu menganjurkan kita untuk rela menerima dalam kehidupan, yakni merasa cukup dengan yang dipunyai. Sesuatu yang telah ditentukan oleh Allah ialah rizki yang wajib disyukuri.

BACA JUGA: PUASA KE II : Rahasia Batiniah

Pesan ini pula yang ingin disampaikan Allah dalam kewajiban mengerjakan puasa ramadan.  Ramadhan mengajarkan kita untuk hidup bersahaja meski punya kelebihan harta. Disunnahkan berbuka dengan segelas air putih dan dua butir kurma, meskipun memiliki segudang makanan mewah.

Perhatikanlah nasihat dari sahabat yang mulia Umar bin Khatab radhiallahu ‘anhu ini.

Umar mengatakan, “Gaya hidup boros lebih aku khawatirkan akan menimpa kalian dibanding kemiskinan. Ketahuilah bahwa harta yang sedikit tidak mungkin habis bila engkau pandai mengelolanya. Namun sebaliknya, sebanyak apapun harta kekayaanmu pasti akan segera habis bila engkau salah membelanjakannya.”

BACA JUGA: PUASA I : Multiplayer Effect Sedekah

Puasa mengajarkan kita untuk hidup dengan kesederhanaan. Karena kemuliaan hidup ternyata bukan kepada penampakan kemewahan. Alqur'an berkali-kali mengingatkan, kemewahan dunia itu adalah tipu daya belaka. Dan sebaik-baik bekal jalan pulang adalah takwa.

(Penulis adalah Mohd Haramen, M.E.Sy, Wakil Ketua I Bidang Perhimpunan Zakat Infaq dan Sedekah (ZIS) Baznas Kabupaten Batanghari)

Penulis: Mohd Haramen
Editor: arya abisatya
Copyright 2023 Bungopos.com

Alamat: Graha Pena Jambi Ekspres,
Jl. Kapt. Pattimura No. 35 KM. 08
Kenali Besar, Kec. Alam Barajo, Kota Jambi

Telpon: -

E-Mail: bungoposonline@gmail.com