Mohd Haramen

PUASA KE II : Rahasia Batiniah

SUATU ketika, Rasulullah Muhammad SAW sedang sakit  parah-parahnya, dimana kondisi tubuhnya semakin lemah bahkan hampir tak berdaya. Tetiba beliau teringat uang tujuh dinar yang pernah ia simpan di rumahnya. Dan beliau memanggil Aisyah RA (istrinya) untuk mengambil uang tersebut. Lalu Rasulullah meminta agar uang tersebut  dibagikan kepada yang membutuhkan. Beliau tidak tenang sampai uang itu dibagi habis. Beliau ingin menghadap Allah SWT dengan harta “SALDO NOL”.

“Alangkah malunya Saya kepada Allah SWT jika masih menyimpan harta,” Sabda Nabi yang mulia itu.

Rasulullah membuktikan, sebagai Rasul sekaligus kepala negara, dia tidak mau mewariskan emas permata dan harta kepada keluarga dan sahabatnya. Dan dia membuktikan pemimpin sejati adalah ia yang paling terakhir kenyang, dan paling awal merasa lapar.

Muhammad SAW bukan tidak mampu membeli kemewahan. Beliau sendiri pengelolah tanah fadak dan khaibar yang pendapatannya setara puluhan miliar per tahun. Bahkan kunci Baitul Maal pun ada di beliau. Tapi disinilah bedanya dengan kita yang hidup di masa kini. Rasul memperlakukan harta seperti air dipipa, bukan air di bendungan. Harta hanya mampir di tangan sementara, lalu segera ia alirkan kepada yang lapar dan dahaga. Beliau berusaha menjadi kaya agar bisa menjadi pemberi, bukan ingin  pamer.

Hal ini kontras dengan fenomena kehidupan hari ini. Terkadang dalam bersedekah dan membayar zakatpun ingin pamer. Padahal, membayar zakat dan bersedekah adalah ibadah wajib dan sunnah. Dan Allahpun sudah mengingatkan dalam Alqur’an terkait bahaya riya ini, yakni dalam Surat  Al-Baqarah ayat 264 yang artinya :

Orang yang menafkahkan harta karena riya, perumpamaannya seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, lalu ditimpa hujan lebat, maka tinggallah batu itu bersih (tidak ada tanahnya). Artinya, amalan tersebut lenyap dan tidak bernilai pahala,”

Sampai disini kita harus tahu, media paling baik untuk membayar kewajiban zakat dan bersedekah tanpa riya adalah melalui Baznas. Dengan melalui Baznas, mustahiq tidak perlu tahu muzakkinya, dan muzakki tidak perlu tahu mustahiqnya. Tangan kanan boleh selalu memberi, dan  tidak perlu memberitahu tangan kiri.  Selain itu, Baznas merupakan satu-satunya lembaga yang berwenang mengumpulkan dan menyalurkan ZIS yang dibentuk pemerintah. Dan yang terlebih penting, bukti pembayaran zakat yang dikeluarkan oleh Baznas bisa menjadi pengurang pajak.

Kembali ke konteks berpuasa, selain mengajarkan kita untuk berempati, puasa juga mengajarkan kita agar tidak suka pamer. Melalui puasa kita bisa merasakan penderitaan kaum papa, sekaligus juga melatih batin kita menjadi bersih tanpa riya. Ibadah lain bisa dilihat orang lain, shalat, zakat, sedekah dan haji. Tetapi puasa adalah ibadah Istimewa yang bersifat batiniah. Ibadah ini melatih keikhlasan murni, dan tidak riya. Sehingga Allah sendiri yang akan memberikan balasannya secara langsung tanpa batas. Hal ini langsung difirmankan Allah SWT dalam hadist qudsi yang artinya "Puasa itu milik-Ku dan Aku sendiri yang akan memberikan balasannya" (HR. Bukhari dan Muslim).

Puasa adalah rahasia batiniah. Orang-orang yang berpuasa, idealnya bisa menjadi insan yang tidak riya, dan suka pujian. Biarlah dipuji mahluk yang ada di langit dan dicintai Al Khalik.  Kalau masih suka pamer ? Ibadah puasanya patut dipertanyakan.

(Penulis adalah Penulis adalah Mohd Haramen, M.E.Sy, Wakil Ketua bidang Penghimpunan Zakat Infak dan Sedekah Baznas Kabupaten Batang Hari)

Penulis: Mohd Haramen
Editor: arya abisatya