ALVIN TEDJO / Instagram Alvin Tedjo

Alvin Tedjo, Keturunan Indonesia yang Terpilih Jadi Walikota di Kanada

MISSISSAUGA — Alvin Tedjo, politikus keturunan Tionghoa-Indonesia, terpilih sebagai Wali Kota Mississauga, Kanada, setelah mengungguli dua nama besar politik lokal, yakni wali kota petahana Carolyn Parrish dan mantan Wali Kota Bonnie Crombie. Kemenangan ini menandai babak baru dalam perjalanan politik Tedjo di salah satu kota besar di Provinsi Ontario.

Berdasarkan hasil pemilihan yang dikutip CBC, Tedjo meraih 74.479 suara atau 39,2 persen. Parrish berada di posisi kedua dengan 51.853 suara atau 27,3 persen, sedangkan Crombie memperoleh 43.191 suara atau 22,7 persen.

Usai kemenangan diumumkan, Tedjo menyampaikan terima kasih kepada warga yang telah memberikan kepercayaan kepadanya. Melalui akun Instagram, ia menegaskan bahwa hasil tersebut merupakan buah dukungan masyarakat.

“Mississauga, kami tidak bisa melakukannya tanpa Anda. Kota kami siap untuk perubahan, dan saya tidak sabar untuk memulainya,” tulis Tedjo, sebagaimana dikutip pada Rabu (28/10/2026).

Kemenangan itu terasa signifikan jika melihat perjalanan kampanyenya. Pada Agustus, jajak pendapat Liaison Strategies menempatkan Tedjo di posisi keempat dengan dukungan 12 persen. Saat itu, Parrish dan Crombie masing-masing memperoleh 35 persen.

Namun, peta persaingan berubah menjelang pemungutan suara. Survei pada 22 Oktober menunjukkan dukungan kepada Tedjo meningkat menjadi 31 persen, melampaui Parrish yang meraih 28 persen. Crombie masih berada di posisi teratas dengan 35 persen. Hasil akhir pemilihan kemudian menempatkan Tedjo sebagai pemenang.

Bagi Tedjo, persaingan menuju kursi wali kota bukan pengalaman pertamanya. Ia telah menjadi anggota Dewan Kota Mississauga untuk Ward 2 sejak 2022. Dalam pemilihan sela pada 2024, ia juga pernah maju sebagai calon wali kota dan menempati posisi kedua dengan 25 persen suara, di bawah Parrish yang memperoleh 31 persen.

Tedjo mengakui perjuangannya tidak mudah. Ia menyebut tim kampanyenya telah memahami beratnya persaingan sejak awal, termasuk menghadapi keraguan dari sejumlah pihak terhadap peluang kemenangan mereka.

“Ketika kami memulai ini enam bulan lalu, kami tahu ini akan sulit. Orang-orang mengatakan kepada kami bahwa kami tidak bisa menang dan bahwa kami seharusnya tidak ikut campur,” ujarnya.

Mengutip Toronto Star, Tedjo memiliki latar belakang keluarga Tionghoa-Indonesia dan pindah ke Mississauga saat berusia empat tahun. Ketertarikannya terhadap dunia pemerintahan tumbuh sejak masa sekolah. Ketika duduk di bangku SMA, ia pernah menjadi ketua pelajar sekaligus anggota komite penasihat pemuda bagi wali kota.

Pada pertengahan 1990-an, Tedjo mendapat penghargaan Young Citizen of the Year dan berkesempatan bertemu dengan Hazel McCallion, wali kota Mississauga saat itu. Pengalaman tersebut menjadi salah satu bagian dari perjalanan awalnya dalam mengenal kepemimpinan publik.

Sebelum terjun ke politik lokal, Tedjo membangun karier di bidang pemerintahan, pendidikan tinggi, dan komunikasi. Ia pernah menjadi penasihat sekaligus staf politik di Kementerian Perguruan Tinggi dan Universitas Ontario. Setelah itu, ia bekerja selama empat tahun di bidang hubungan pemerintahan Sheridan College sebelum memimpin divisi strategi dan komunikasi di Toronto Metropolitan University.

Kini, perjalanan panjang dari dunia pendidikan dan birokrasi menuju politik elektoral mengantarkan Tedjo ke jabatan tertinggi pemerintahan kota Mississauga. Kemenangannya sekaligus menunjukkan bagaimana latar belakang keluarga, pengalaman profesional, dan keterlibatan dalam pemerintahan lokal dapat berpadu dalam perjalanan seorang politikus di tengah masyarakat yang beragam. (***)

Editor: Arya Abisatya
Sumber: https://www.nu.or.id/nasional