TEBO, bungopos.com — Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 di Kabupaten Tebo mulai memasuki tahap persiapan serius. Yang menarik, agenda nasional yang setiap tahun menjadi panggung penghormatan terhadap peran santri tersebut tidak dirancang oleh pemerintah dan Kementerian Agama semata.
Organisasi kemasyarakatan Islam, pondok pesantren, dan madrasah ikut duduk dalam satu meja untuk menentukan arah pelaksanaan HSN di Tebo.
Kolaborasi lintas unsur itu terlihat dalam Rapat Koordinasi Persiapan Hari Santri Nasional yang digelar di ruang kerja Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tebo, baru buru ini.
Pertemuan tersebut dihadiri unsur Pemerintah Kabupaten Tebo, Kemenag, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Tebo, pimpinan pondok pesantren, serta kepala madrasah se-Kabupaten Tebo.
MAN 1 Tebo juga mengambil bagian dalam forum tersebut melalui kehadiran kepala madrasah dan Wakil Kepala Madrasah bidang Kesiswaan.
Keterlibatan banyak unsur ini menunjukkan bahwa Hari Santri tidak lagi dipandang sekadar sebagai agenda seremonial tahunan. Di Tebo, peringatannya mulai diarahkan menjadi kerja bersama yang melibatkan pihak-pihak yang sehari-hari bersentuhan langsung dengan pendidikan keislaman dan kehidupan masyarakat.
Rapat tersebut membahas dua persoalan utama: menentukan lokasi pelaksanaan puncak HSN dan menyusun kepanitiaan resmi.
Pemilihan lokasi menjadi salah satu perhatian karena kegiatan puncak diproyeksikan melibatkan santri, guru, pimpinan pesantren, madrasah, organisasi Islam, pemerintah daerah, serta tamu undangan lainnya.
Sementara pembentukan kepanitiaan diarahkan untuk membangun koordinasi lintas sektor, mulai dari teknis pelaksanaan, rangkaian acara hingga aspek pengamanan.
Kabag Kesra Pemerintah Kabupaten Tebo hadir mewakili pemerintah daerah. Dari Kemenag Kabupaten Tebo, jajaran pimpinan dan pejabat terkait turut mengikuti pembahasan. Sementara PCNU Tebo hadir membawa perspektif organisasi kemasyarakatan Islam bersama unsur pesantren dan madrasah.
Di sinilah makna penting rapat tersebut muncul: Hari Santri dirancang bukan hanya oleh mereka yang berada di balik meja pemerintahan, tetapi juga oleh unsur masyarakat yang menjadi bagian langsung dari ekosistem pesantren dan pendidikan Islam.
Bagi MAN 1 Tebo, keterlibatan dalam forum tersebut menjadi bagian dari komitmen untuk membangun sinergi dengan pemerintah daerah, Kemenag, organisasi Islam, dan lembaga pendidikan keagamaan.
Namun, tantangan penyelenggaraan HSN tidak berhenti pada persoalan teknis.
Hari Santri memiliki dimensi historis dan sosial yang lebih luas. Peringatan ini menjadi ruang untuk mengingat kontribusi santri, ulama, pesantren, dan masyarakat dalam perjalanan bangsa sekaligus melihat kembali relevansi nilai-nilai kepesantrenan di tengah perubahan zaman.
Karena itu, keterlibatan ormas Islam dalam persiapan HSN menjadi penting. Mereka tidak hanya hadir sebagai peserta kegiatan, tetapi juga dapat menjadi bagian dari proses membangun substansi peringatan agar tidak berhenti sebagai seremoni tahunan. (***)