Oleh: Ustadz Khairon - Dai Muda Jambi

Ketika Kebaikan dicurigai: Membaca Filantropi Hj.Ernawati Dari Kacamata Agama dan Sosial

Oleh: Ustadz Khairon - Dai Muda Jambi*

Akhir-akhir ini kita menyaksikan fenomena yang menyedihkan. Ketika ada seorang hamba Allah berbuat nyata, membantu yatim, memberangkatkan umroh, membangun SPBU untuk kemandirian ekonomi umat, yang muncul bukan doa, tapi curiga. Katanya cuci uang, katanya pencitraan Pilgub, katanya ada udang di balik batu.

Maka perlu kita luruskan dari dua kacamata: agama dan sosial.

*1. Dalam Kacamata Agama: Niat Adalah Urusan Allah, Manfaat Adalah Urusan Manusia.*

Dalam Islam, kaidah ini sangat jelas. Rasulullah SAW bersabda: _“Innamal a’malu binniyat”_ - Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya. (HR. Bukhari & Muslim).

Tugas kita sebagai manusia bukan menjadi hakim niat. Niat itu adalah wilayah paling rahasia antara hamba dengan Rabb-nya. Allah yang Maha Tahu. Kita tidak pernah diperintahkan untuk membelah dada seseorang untuk memeriksa niatnya.

Yang menjadi tugas kita adalah melihat manfaat. Kaidah fikih menyebutkan: _Al-ibrah bil manfa’ah, la bin niyyah._ Ukuran kebaikan publik dilihat dari manfaatnya.

Jika 500 anak yatim ekstrem mendapat makan, sekolah, dan pesantren, apakah anak itu peduli dananya dari mana? Yang ia tahu, malam ini ia bisa tidur kenyang dan besok bisa mengaji.

Jika 100 orang miskin yang seumur hidup hanya bisa melihat Ka’bah dari kalender, akhirnya bisa sujud di depan Ka’bah karena program umroh gratis, apakah mereka akan bertanya ini untuk Pilgub atau bukan? Tidak.

Allah berfirman: _“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa.”_ (QS. Al-Hujurat: 12).

Mencurigai harta Hj. Ernawati sebagai cuci uang tanpa bukti, tanpa audit, tanpa putusan pengadilan, adalah bentuk _su’udzon_ yang dilarang agama. Dari mana asal uang itu? Jelas. Bintang Global Group, hotel di Mekkah, katering jamaah haji dan umroh, travel umroh dan haji, ticketing. Usaha yang semua orang bisa lihat fisiknya, bisa di-google, bisa diaudit. SPBU Simpang Karmeo yang diresmikan Agustus 2026 itu berdiri nyata, bukan fiktif. Dari mana celah cuci uangnya? Justru logika cuci uang itu menyembunyikan uang, bukan membagikannya terang-terangan 500 juta per bulan dan mengumumkan 100 umroh gratis di Instagram.

Jika niatnya untuk Pilgub? Maka dalam agama, kita kembalikan kepada Allah. Jika niatnya karena Allah, pahalanya sempurna. Jika niatnya karena dunia, ia tetap dapat dunia, tapi urusan akhiratnya dengan Allah. Tugas kita bukan memvonis, tugas kita adalah memastikan manfaatnya sampai kepada umat. Dan manfaat itu sampai.

*2. Dalam Kacamata Sosial: Kita Miskin Keteladanan, Bukan Miskin Orang Kaya.*

Secara sosiologi, masyarakat Jambi sedang mengalami krisis kepercayaan. Terlalu lama melihat elite yang hanya mengambil, sehingga ketika ada yang memberi, kita kaget dan curiga. Ini penyakit sosial.

Hj. Ernawati membalik logika kapitalis. Logika umum pengusaha adalah mengakumulasi modal di Mekkah, lalu membangun istana di Jambi. Yang beliau lakukan adalah mengakumulasi modal di Mekkah melalui hotel, katering, travel, lalu merepatriasikan keuntungannya untuk membiayai yatim di Jambi. Ini adalah model filantropi _reverse remittance_, uang dari Tanah Suci untuk peradaban Melayu Jambi.

Secara sosial, programnya sangat cerdas. Ia tidak memberi ikan, tapi membangun kolam. Program 500 yatim ekstrem yang datanya disinkronkan dengan Baznas, anaknya disekolahkan di Pesantren Darul Tauhid dan PKP Al Hidayah, adalah upaya memutus rantai kemiskinan struktural. Bantuan 8 panti asuhan dengan 230 anak sebelum pelantikan adalah bukti kerja senyap, bukan seremoni.

Jika semua ini disebut persiapan Pilgub, maka pertanyaannya: kapan lagi orang kaya mau bersiap dengan cara memuliakan yatim dan memberangkatkan umroh? Jika Pilgub harus begini caranya, maka perbanyaklah Pilgub. Karena yang untung adalah rakyat kecil.

Jambi tidak kekurangan orang kaya. Jambi kekurangan orang kaya yang berani mengikatkan dirinya pada komitmen publik sebesar Rp 10 miliar per tahun. Dengan mengumumkan di Instagram, Hj. Ernawati sedang mengikat lehernya sendiri untuk ditagih publik.

Berhentilah menjadi hakim niat. Jadilah saksi manfaat.

Biarlah Tuhan yang menilai niat Hj. Ernawati, karena Dia Maha Mengetahui. Tugas kita adalah memastikan 500 yatim itu sekolah, 100 jamaah itu berangkat, dan SPBU itu menjadi sumber dana umat.

Jika ada yang masih curiga, datanglah, auditlah yayasannya, tanyakan laporan keuangannya. Jangan memfitnah dari balik keyboard.

Semoga Allah menjaga Hj. Ernawati dari fitnah, dan menjaga kita dari penyakit hati yang susah melihat orang lain berbuat baik.

_Wallahu a’lam bishawab._

Penulis: Ustadz Khairon - Dai Muda Jambi