BEASISWA : Kuliah di luar negeri

Mau Studi di Luar Negeri ? Ini Pelatihan Gratis Untuk Para Dosen Dibawah Kemenag

JAKARTA, bungopos.com — Kesempatan dosen perguruan tinggi keagamaan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang doktoral di luar negeri kembali terbuka. Kementerian Agama (Kemenag) bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan meluncurkan Program Persiapan Studi Lanjut (PPSL) 2026.

Program ini dirancang sebagai tahap persiapan bagi dosen yang ingin melanjutkan studi doktoral di berbagai perguruan tinggi luar negeri. Selama tiga bulan, peserta tidak hanya dipersiapkan menghadapi persyaratan akademik, tetapi juga dibekali kemampuan bahasa Inggris, IELTS, penyusunan proposal riset, strategi memperoleh beasiswa, hingga kesiapan mental menghadapi lingkungan akademik internasional.

Kepala Pusat Pembiayaan Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan (Puspenma) Sekretariat Jenderal Kemenag, Ruchman Basori, mengatakan program tersebut secara khusus diarahkan kepada dosen karena kapasitas calon penerima beasiswa doktoral luar negeri dari kalangan dosen masih perlu diperkuat.

Menurut Ruchman, PPSL menjadi ruang persiapan agar calon mahasiswa tidak hanya mampu memenuhi persyaratan administratif, tetapi juga memiliki kesiapan akademik dan mental untuk bersaing di perguruan tinggi luar negeri.

“Ini untuk memberikan pembekalan bahasa Inggris, kesiapan studi secara akademik, serta mental untuk belajar ke luar negeri,” ujar Ruchman kepada NU Online, Jumat (18/9/2026).

Program ini terbuka bagi dosen perguruan tinggi keagamaan Islam negeri, seperti UIN, IAIN, dan STAIN, maupun perguruan tinggi keagamaan Islam swasta. Kesempatan yang sama juga diberikan kepada dosen perguruan tinggi keagamaan di bawah Ditjen Bimas Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, serta Pusat Bimbingan dan Pendidikan Khonghucu.

Kebijakan memfokuskan PPSL kepada dosen tidak terlepas dari evaluasi terhadap kesiapan calon mahasiswa doktoral luar negeri. Ruchman menyebut jumlah pendaftar yang tersedia belum selalu berbanding lurus dengan tingkat kompetitivitas untuk memperoleh penerimaan dari perguruan tinggi luar negeri.

“Kita tawarkan misalkan 50 sampai 70 orang, tapi ternyata belum kompetitif. Nah, kalau sudah diterima juga tingkat keberangkatannya mendapatkan LoA kurang maksimal. Karena itu, tahun ini kita fokuskan kepada para dosen,” katanya.

PPSL 2026 memiliki tiga orientasi utama. Pertama, meningkatkan kemampuan bahasa Inggris sehingga peserta lebih siap memenuhi persyaratan perguruan tinggi tujuan sekaligus memperoleh Letter of Acceptance (LoA).

Kedua, memperkuat kesiapan akademik. Peserta akan diperkenalkan dengan karakter studi doktoral di luar negeri, termasuk beban studi, standar akademik, tuntutan penelitian, serta tingkat kompetisi di perguruan tinggi tujuan.

Ketiga, membangun ketahanan dan kesiapan mental. Peserta akan menghadapi lingkungan akademik, budaya, serta kehidupan sosial yang berbeda ketika melanjutkan pendidikan ke luar negeri.

“Artinya apa? Mentalitas-mentalitas yang mau belajar ke luar negeri mulai ditata,” ujar Ruchman.

Pelatihan juga disusun dengan komposisi yang cukup jelas. Kemampuan bahasa Inggris dan IELTS mendapat porsi terbesar, yakni 45 persen. Selanjutnya, penyusunan proposal riset sebesar 25 persen, strategi memperoleh beasiswa dan studi luar negeri 15 persen, wawasan kebangsaan dan moderasi beragama 10 persen, serta profesionalisme dan jejaring dosen 5 persen.

Peserta diarahkan untuk melanjutkan pendidikan doktoral di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Australia, dan negara-negara di kawasan Timur Tengah.

PPSL 2026 berlangsung selama tiga bulan, mulai 1 Oktober hingga 30 Desember 2026. Seluruh kegiatan dilaksanakan secara luring di perguruan tinggi yang ditetapkan sebagai penyelenggara, yaitu UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.

Sementara itu, pendaftaran dibuka pada 16–23 September 2026, dengan penetapan peserta dijadwalkan pada 28 September 2026.

Peserta yang lolos program akan memperoleh dukungan berupa dana program, dana hidup bulanan, biaya tes bahasa Inggris atau IELTS, serta transportasi sesuai ketentuan yang berlaku.

Siapa yang Bisa Mendaftar?

PPSL 2026 ditujukan bagi Warga Negara Indonesia (WNI) yang berusia maksimal 45 tahun per 31 Desember 2026. Pendaftar harus telah menyelesaikan pendidikan magister dan belum pernah menempuh pendidikan doktoral.

Calon peserta juga wajib memiliki ijazah dan transkrip nilai S2 dengan IPK minimal 3,25 dari skala 4,00.

Selain itu, pendaftar harus berstatus sebagai dosen tetap pada perguruan tinggi keagamaan. Status tersebut dibuktikan melalui NIDN atau NUPTK dan tercatat dalam pangkalan data perguruan tinggi.

Persyaratan lainnya mencakup surat rekomendasi dari pimpinan, rektor, ketua, atau mudir serta proposal penelitian disertasi sepanjang 1.000–1.500 kata dalam bahasa Inggris yang sesuai dengan rencana studi doktoral di luar negeri.

Peserta juga diwajibkan memiliki sertifikat kemampuan bahasa Inggris dari lembaga resmi yang ditentukan. Nilai yang dipersyaratkan adalah TOEFL ITP minimal 550 atau IELTS minimal 6,0. Sertifikat tersebut harus masih berlaku dan masa berlakunya maksimal dua tahun hingga batas akhir pendaftaran.

Dokumen yang harus disiapkan antara lain KTP dan KK, ijazah serta transkrip nilai S2, NIDN/NUPTK, bukti status dosen tetap, SK pengangkatan sebagai dosen, surat rekomendasi pimpinan, proposal penelitian disertasi, pakta integritas bermeterai Rp10.000, serta sertifikat kemampuan bahasa Inggris.

Pendaftar juga harus menyatakan kesediaannya mengikuti seluruh ketentuan PPSL, mengikuti kegiatan pada perguruan tinggi penyelenggara yang telah ditetapkan Kemenag, serta mendaftarkan diri pada Program Gelar Doktor Luar Negeri Beasiswa Indonesia Bangkit Kemenag.

Untuk mencegah pembiayaan ganda, peserta tidak diperbolehkan sedang atau akan menerima beasiswa dari Kemenag maupun LPDP yang berpotensi menimbulkan double funding selama mengikuti PPSL.

Kesempatan Menuju Kampus Dunia

PPSL 2026 pada dasarnya bukan sekadar program pelatihan bahasa Inggris. Program ini menjadi tahap persiapan untuk mengubah niat melanjutkan studi ke luar negeri menjadi kesiapan yang lebih terukur—mulai dari kemampuan bahasa, rancangan riset, strategi mendapatkan LoA, hingga kesiapan menghadapi lingkungan akademik global.

Bagi dosen perguruan tinggi keagamaan, kesempatan ini juga membuka ruang untuk memperluas jejaring akademik dan membawa pengalaman pendidikan internasional kembali ke lingkungan kampus di Indonesia.

Pendaftaran dilakukan melalui aplikasi pendaftaran beasiswa Kemenag. Karena masa pendaftaran hanya berlangsung pada 16–23 September 2026, calon peserta perlu memastikan seluruh dokumen dan persyaratan telah lengkap sebelum batas waktu berakhir.

Program ini menempatkan dosen sebagai bagian penting dari investasi jangka panjang pendidikan tinggi keagamaan: memperkuat kapasitas akademik hari ini untuk membangun kualitas pendidikan generasi berikutnya. (***)

Editor: Arya Abisatya
Sumber: NU Online