MUARO JAMBI, bungopos.com - Sore seharusnya menjadi waktu ketika masyarakat mengakhiri aktivitas, anak-anak bermain, dan keluarga menikmati udara yang lebih sejuk. Namun, di tengah senja pada Jumat, 18 September 2026, pemantauan kualitas udara yang ditampilkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) justru menghadirkan kabar yang patut diwaspadai. Udara di sejumlah wilayah berada dalam kategori tidak sehat, bahkan berbahaya.
Dalam tampilan pemantauan BMKG pada pukul lima sore waktu Indonesia Barat, kualitas udara Kota Jambi tercatat mencapai 255,9 dan masuk kategori berbahaya. Sementara itu, Kabupaten Muaro Jambi mencatat angka 155,1 dengan kategori sangat tidak sehat.
Angka-angka tersebut bukan sekadar informasi yang terpampang di layar. Di baliknya, ada pertanyaan tentang udara yang setiap hari dihirup masyarakat, tentang anak-anak yang beraktivitas di luar rumah, serta kelompok rentan yang mungkin menghadapi risiko kesehatan lebih besar akibat paparan polusi.
Kondisi serupa juga terlihat di sejumlah wilayah lain yang ditampilkan dalam pemantauan tersebut. Sintang tercatat dengan angka 155,2 dan masuk kategori sangat tidak sehat. Adapun Mempawah berada pada angka 144,5, sedangkan Kubu Raya mencapai 136,4. Kedua wilayah itu tercantum dalam kategori tidak sehat.
Perbedaan kondisi antarwilayah menunjukkan bahwa kualitas udara dapat berubah sesuai dengan lokasi dan keadaan lingkungan. Namun, angka pemantauan tersebut belum cukup untuk menjelaskan secara pasti sumber pencemaran, jenis polutan yang dominan, maupun faktor cuaca yang memengaruhinya. Diperlukan informasi lebih lanjut dari instansi terkait untuk memahami kondisi secara menyeluruh.
Bagi masyarakat, kualitas udara yang buruk bukan persoalan yang seharusnya diabaikan. Polusi udara dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang-orang yang memiliki masalah pernapasan. Ketika kualitas udara memburuk, aktivitas di luar ruangan perlu dipertimbangkan dengan memperhatikan informasi dan anjuran kesehatan yang berlaku.
Persoalan polusi udara sering kali tidak terlihat secara langsung. Berbeda dengan banjir yang menggenangi jalan atau hujan deras yang membasahi permukiman, udara tercemar dapat hadir tanpa selalu menunjukkan tanda yang mudah dikenali. Namun, paparan polutan tertentu dapat memengaruhi kesehatan, bergantung pada konsentrasi, durasi paparan, dan kondisi setiap individu.
Karena itu, pemantauan kualitas udara menjadi bagian penting dalam membantu masyarakat memahami keadaan lingkungan tempat mereka tinggal. Informasi BMKG dapat menjadi salah satu rujukan untuk meningkatkan kewaspadaan, sementara rincian parameter pengukuran dan panduan resmi dari instansi kesehatan diperlukan untuk menentukan langkah perlindungan yang sesuai.
Bagi Jambi dan Muaro Jambi, informasi pemantauan tersebut menjadi pengingat bahwa kualitas lingkungan membutuhkan perhatian berkelanjutan. Pemerintah daerah, instansi terkait, dan masyarakat memiliki peran dalam memperkuat pemantauan, menyediakan informasi yang mudah diakses, serta mengambil langkah yang tepat ketika kondisi udara memburuk.
Udara yang sehat bukan sekadar pelengkap kehidupan. Ia adalah kebutuhan dasar yang memengaruhi kesehatan, kenyamanan, dan masa depan masyarakat. Anak-anak membutuhkan lingkungan yang aman untuk tumbuh, para pekerja membutuhkan udara yang layak dihirup, dan keluarga membutuhkan kepastian bahwa ruang hidup mereka tidak terus-menerus terancam oleh pencemaran.
Data pemantauan BMKG pada sore itu semestinya tidak berhenti sebagai angka di layar. Ia perlu menjadi bahan perhatian, evaluasi, dan langkah nyata untuk memahami kondisi udara serta melindungi masyarakat.
Sebab, ketika udara yang seharusnya menjadi sumber kehidupan berubah menjadi sumber kekhawatiran, yang dipertaruhkan bukan hanya kenyamanan senja. Yang dipertaruhkan adalah hak setiap orang untuk menghirup udara yang sehat dan hidup dalam lingkungan yang layak. (***)