MUARA BUNGO, bungopos.com — Delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka menjadi momentum untuk melihat kembali sejauh mana kemerdekaan telah menghadirkan kesempatan yang setara bagi seluruh masyarakat. Di Kabupaten Bungo, salah satu indikator penting menunjukkan capaian yang menggembirakan: hampir seluruh penduduk telah memiliki kemampuan dasar membaca dan menulis.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bungo tahun 2025 mencatat angka melek aksara penduduk usia 15 tahun ke atas mencapai 97,51 persen. Angka ini menegaskan bahwa perjalanan panjang pembangunan pendidikan di Bungo telah membawa perubahan besar, terutama bagi generasi yang tumbuh dalam era pendidikan yang semakin terbuka.
Namun, di balik angka yang mendekati 100 persen itu, masih terdapat satu pekerjaan rumah yang tidak bisa diabaikan. Kemajuan literasi belum dirasakan secara merata oleh semua generasi. Jurang paling lebar justru muncul pada kelompok penduduk lanjut usia, khususnya perempuan.
Pada kelompok usia 60 tahun ke atas, angka melek aksara laki-laki mencapai 100 persen. Sementara itu, perempuan pada kelompok usia yang sama hanya mencapai 78,17 persen. Artinya, terdapat kesenjangan sebesar 21,83 poin persentase antara laki-laki dan perempuan.
Kondisi tersebut sangat kontras dengan generasi muda.
Pada kelompok usia 15–24 tahun, angka melek aksara laki-laki mencapai 100 persen, sementara perempuan berada di angka 98,48 persen. Secara keseluruhan, kelompok usia ini telah mencapai 99,26 persen.
Kesenjangan juga relatif kecil pada kelompok usia 15–59 tahun. Angka melek aksara laki-laki mencapai 99,23 persen, sedangkan perempuan 98,44 persen, dengan angka keseluruhan 98,84 persen. Selisihnya hanya 0,79 poin persentase.
Data tersebut memperlihatkan perubahan yang kuat antargenerasi. Semakin muda penduduk Bungo, semakin kecil pula kesenjangan kemampuan membaca dan menulis antara laki-laki dan perempuan.
Sebaliknya, kelompok usia lanjut menghadirkan gambaran yang berbeda. Angka melek aksara penduduk usia 60 tahun ke atas berada pada level 89,09 persen, menjadi satu-satunya kelompok umur dalam data tersebut yang masih berada di bawah 90 persen.
Jika dibandingkan dengan kelompok usia 15–24 tahun yang mencapai 99,26 persen, terdapat jarak 10,17 poin persentase.
Tetapi kesenjangan paling serius terlihat pada perempuan lanjut usia. Perempuan usia 15–24 tahun telah mencapai angka melek aksara 98,48 persen, sementara perempuan usia 60 tahun ke atas hanya 78,17 persen. Perbedaannya mencapai 20,31 poin persentase.
Angka tersebut bukan sekadar statistik. Di tengah kehidupan modern yang semakin bergantung pada informasi tertulis, kemampuan membaca dan menulis menjadi pintu menuju berbagai kebutuhan dasar: memahami informasi kesehatan, membaca dokumen, mengakses layanan pemerintah, mengikuti prosedur administrasi, memahami informasi keuangan, hingga menggunakan berbagai layanan digital.
Karena itu, capaian 97,51 persen patut ditempatkan sebagai sebuah keberhasilan sekaligus pengingat. Bungo telah bergerak sangat dekat menuju masyarakat yang sepenuhnya melek aksara, tetapi kemerdekaan di bidang pendidikan belum benar-benar tuntas selama masih ada kelompok masyarakat yang tertinggal.
Momentum 81 tahun Indonesia merdeka memberikan makna yang lebih dalam terhadap angka tersebut. Kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan, tetapi juga tentang memastikan setiap warga memiliki kesempatan untuk belajar, memahami informasi, memperoleh pelayanan, dan menjalani kehidupan dengan lebih mandiri.
Generasi muda Bungo telah menunjukkan hasil dari perjalanan pendidikan selama puluhan tahun. Angka melek aksara yang mendekati 100 persen menjadi bukti bahwa investasi pendidikan mampu memutus sebagian besar persoalan literasi antargenerasi.
Kini tantangannya bergeser.
Bukan lagi sekadar bagaimana membuat generasi muda mampu membaca dan menulis, tetapi bagaimana memastikan mereka yang telah lanjut usia—terutama perempuan yang lahir dan tumbuh ketika akses pendidikan belum seluas sekarang—tidak ditinggalkan oleh kemajuan zaman.
Bungo boleh merayakan capaian 97,51 persen. Namun, ukuran keberhasilan sesungguhnya bukan hanya seberapa dekat sebuah daerah dengan angka 100 persen, melainkan seberapa serius daerah tersebut menjemput mereka yang masih berada di belakang angka itu.
Delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka, Bungo telah melangkah jauh. Generasi mudanya hampir seluruhnya melek aksara. Tetapi di usia senja, masih ada perempuan yang menunggu kesempatan untuk merasakan sepenuhnya arti kemerdekaan melalui pendidikan.
Kemerdekaan yang sesungguhnya adalah ketika tidak seorang pun tertinggal hanya karena usia, jenis kelamin, atau keterbatasan kesempatan belajar. (***)