FLORES, bungopos.com — Ketika Merah Putih mulai berkibar di berbagai sudut negeri menyambut Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, sebagian masyarakat Flores justru menyambut hari-hari itu dengan air mata. Di saat panggung-panggung perayaan dipenuhi lagu perjuangan dan tawa anak-anak, bumi berguncang, rumah-rumah runtuh, dan banyak keluarga harus menerima kabar yang tak pernah mereka bayangkan.
Duka itu menjalar begitu cepat. Dalam hitungan detik, telepon yang semula membawa kabar biasa berubah menjadi suara tangis dan kepanikan. Gempa dahsyat yang mengguncang Flores dan wilayah sekitarnya meninggalkan jejak kehilangan yang terasa hingga ke tanah rantau.
Farud Tarwih, yang tinggal di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), melalui akun facebooknya menyatakan keluarganya berusaha bertahan di tengah kepanikan.
“Rasanya tidak berdaya. Kami hanya bisa mendengar tangis. Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Yang kami harapkan sekarang hanyalah keluarga di Flores tetap diberi keselamatan,” ujar Farud.
Di balik reruntuhan bangunan, kabar paling memilukan datang dari keluarga besar warga Terang. Ibu Marhawa, sosok yang selama ini dipanggil dengan penuh kasih sebagai Nenek dan Mama, meninggal dunia setelah gempa mengguncang. Kepergiannya meninggalkan ruang kosong yang tak mudah tergantikan bagi keluarga yang selama ini menjadikannya tempat pulang dan sumber kehangatan.
Kabar duka itu segera menyebar ke berbagai daerah tempat warga NTT merantau. Dari Malang hingga kota-kota lain, doa dan ucapan belasungkawa terus mengalir. Jarak yang memisahkan tak mampu mempertemukan mereka secara fisik, tetapi panggilan telepon, pesan singkat, dan doa menjadi pengikat yang menguatkan satu sama lain.
Bagi Farud, musibah ini memberi makna baru tentang kemerdekaan. Menurutnya, di tengah perayaan nasional, yang paling dibutuhkan keluarganya saat ini bukanlah gemerlap pesta, melainkan keselamatan, solidaritas, dan kepedulian sesama anak bangsa.
“Kami hanya bisa berdoa semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan. Semoga Flores segera bangkit dari duka ini,” tuturnya.
Di tengah kibaran Merah Putih yang melambangkan persatuan, duka Flores menjadi pengingat bahwa makna kemerdekaan bukan hanya tentang merayakan sejarah, tetapi juga tentang hadir bagi sesama ketika bencana datang. Sebab, kekuatan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari kemeriahan peringatannya, melainkan dari kemampuannya berdiri bersama saat salah satu saudaranya sedang terluka. (***)