VOKASI : Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Prof. Stella Christie

Sarjana Tak Lagi Jadi Raja? Data Pemerintah Ungkap Lulusan Vokasi Lebih Cepat Direkrut Industri

YOGYAKARTA, bungopos.com - Di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap tingginya angka pengangguran lulusan perguruan tinggi, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Prof. Stella Christie, justru membawa kabar yang mengubah cara pandang terhadap pendidikan tinggi. Menurutnya, masa depan dunia kerja Indonesia tidak lagi hanya bertumpu pada gelar akademik, tetapi semakin ditentukan oleh lulusan vokasi yang memiliki keterampilan siap pakai.

Berbicara di hadapan 1.945 mahasiswa baru Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam Talkshow Pionir Permadani di Grha Sabha Pramana, Kamis (6/8), Stella mengungkapkan data yang menjadi perhatian serius. Berdasarkan hasil tracer study Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi sepanjang 2021–2024, sekitar 77 persen lulusan pendidikan vokasi berhasil terserap ke dunia kerja, lebih tinggi dibandingkan lulusan program akademik jenjang sarjana (S1) yang mencapai sekitar 72 persen.

"Penyerapan tenaga kerja lulusan vokasi lebih tinggi daripada lulusan akademik S1," tegasnya.

Data tersebut sekaligus membantah anggapan lama bahwa pendidikan vokasi merupakan pilihan kedua setelah pendidikan akademik. Di tengah transformasi industri yang berlangsung sangat cepat, perusahaan justru semakin membutuhkan tenaga kerja yang telah memiliki kompetensi praktis dan mampu langsung berkontribusi sejak hari pertama bekerja.

Menurut Stella, keberhasilan sebuah negara dalam menarik investasi tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan modal atau sumber daya alam, tetapi juga oleh kualitas tenaga kerja terampil yang dimilikinya. Tanpa pasokan SDM yang kompeten, industri akan kehilangan daya saing, bahkan investor akan memilih berinvestasi di negara lain.

"Perguruan tinggi vokasi memiliki peran paling penting dalam merespons kebutuhan pasar kerja," ujarnya.

Untuk menggambarkan besarnya dampak pendidikan vokasi terhadap pertumbuhan ekonomi, Stella mencontohkan Shenzhen Polytechnic University di Tiongkok yang membangun kolaborasi erat dengan perusahaan-perusahaan teknologi kelas dunia seperti Huawei dan BYD. Sinergi antara kampus dan industri tersebut melahirkan ekosistem inovasi yang menjadikan kawasan Greater Bay Area—meliputi Shenzhen, Hong Kong, dan Guangzhou—menghasilkan nilai ekonomi sekitar 2,15 triliun dolar AS, melampaui produk domestik bruto Indonesia yang berada di kisaran 1,55 triliun dolar AS.

Menurut Stella, keberhasilan kawasan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan vokasi bukan sekadar mencetak lulusan siap kerja, melainkan menjadi mesin utama yang menggerakkan industri, inovasi, dan pertumbuhan ekonomi nasional.

"Itulah mengapa saya mengatakan vokasi adalah kunci masa depan Indonesia," katanya.

Keunggulan pendidikan vokasi juga terlihat di berbagai negara maju lainnya. Stella menyebut Swiss sebagai contoh bagaimana lulusan sarjana terapan memperoleh penghargaan tinggi di pasar kerja dengan rata-rata pendapatan mencapai 102.114 Swiss Franc per tahun, atau setara sekitar Rp2 miliar. Sementara itu, Korea Selatan terus memperkuat sistem pendidikan vokasinya karena menyadari bahwa kemajuan industri nasional tidak mungkin tercapai tanpa dukungan tenaga kerja yang memiliki keterampilan tinggi.

Belajar dari berbagai negara tersebut, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi kini mempercepat transformasi pendidikan vokasi melalui tiga strategi utama, yakni penyelarasan kurikulum dengan kebutuhan industri (industry match curriculum), menghadirkan praktisi industri sebagai pengajar (industry match instructors), serta membangun fasilitas pembelajaran yang sesuai dengan teknologi industri (industry match infrastructure).

Salah satu implementasi nyata kebijakan tersebut diwujudkan melalui kerja sama dengan perusahaan alat berat multinasional asal Tiongkok, LiuGong. Program ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) memperoleh beasiswa sekaligus menjalani magang selama satu tahun di fasilitas LiuGong, baik di Indonesia maupun di Tiongkok, sehingga mereka mendapatkan pengalaman langsung di lingkungan industri global.

Pada kesempatan yang sama, mantan Direktur Utama PT Semen Gresik, Muchammad Supriyadi, mengingatkan para mahasiswa baru bahwa kompetensi teknis saja tidak cukup untuk meraih kesuksesan. Dunia kerja, katanya, membutuhkan pribadi yang berintegritas, berani mengambil tanggung jawab atas setiap keputusan, serta tidak mudah menyalahkan orang lain ketika menghadapi tantangan.

Ia juga mengajak seluruh mahasiswa untuk menjaga nama baik almamater di mana pun mereka berkarya.

"Jagalah integritas, keyakinan, dan karakter UGM agar dapat membawa nama almamater terbang lebih tinggi," pesannya.

Pesan yang mengemuka dari forum tersebut sangat jelas. Di era ketika kecerdasan buatan, otomatisasi, dan transformasi industri mengubah wajah pasar kerja secara drastis, keahlian praktis, kemampuan beradaptasi, dan kolaborasi erat antara kampus dengan industri menjadi modal utama memenangkan persaingan global. Pendidikan vokasi kini bukan lagi alternatif, melainkan salah satu fondasi terpenting dalam membangun daya saing ekonomi Indonesia di masa depan. (***)

Editor: Arya Abisatya
Sumber: https://ugm.ac.id/