TEBO, bungopos.com – Industri kecil dan menengah (IKM) berbasis pangan menjadi tulang punggung ekonomi rakyat di Kabupaten Tebo. Di tengah tantangan ekonomi, usaha pengolahan tempe, tahu, kerupuk, keripik, hingga peyek terbukti bukan sekadar menopang kebutuhan pangan masyarakat, tetapi juga menjadi sektor yang paling besar menghasilkan nilai ekonomi sekaligus membuka lapangan pekerjaan.
Data Kabupaten Tebo Dalam Angka 2026 yang bersumber dari Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Tenaga Kerja Kabupaten Tebo mencatat, sepanjang 2025 terdapat 1.962 unit usaha IKM yang menyerap 4.189 tenaga kerja dengan total nilai produksi mencapai Rp465.097.116.
Dari seluruh sektor tersebut, industri tempe dan tahu tampil sebagai penyumbang nilai produksi terbesar. Sebanyak 398 unit usaha menghasilkan nilai produksi mencapai Rp221.994.890, atau hampir 48 persen dari total nilai produksi seluruh IKM di Kabupaten Tebo. Industri ini juga mempekerjakan 876 tenaga kerja, menjadikannya salah satu penggerak utama ekonomi masyarakat.
Besarnya nilai produksi tersebut menunjukkan bahwa industri tempe dan tahu telah berkembang menjadi usaha yang tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan lokal, tetapi juga memiliki kontribusi ekonomi yang signifikan terhadap perputaran usaha mikro di Kabupaten Tebo.
Sementara itu, dari sisi penyerapan tenaga kerja, industri kerupuk, keripik, peyek, dan makanan sejenis menjadi sektor paling dominan. Dengan 902 unit usaha, sektor ini mempekerjakan 1.989 orang, atau hampir setengah dari seluruh tenaga kerja IKM di Kabupaten Tebo. Nilai produksinya mencapai Rp80.177.196, menjadikannya salah satu sektor paling produktif sekaligus paling banyak membuka peluang kerja bagi masyarakat.
Dominasi industri makanan ringan ini menunjukkan bahwa usaha rumahan masih menjadi pilihan utama masyarakat dalam membangun ekonomi keluarga. Selain modal yang relatif terjangkau, produk-produk olahan pangan memiliki permintaan pasar yang stabil sehingga mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.
Di luar sektor pangan, industri mebel atau furniture juga memberikan kontribusi penting terhadap penciptaan lapangan kerja. Sebanyak 385 unit usaha mempekerjakan 693 orang, meski nilai produksinya tercatat sebesar Rp13.516.780. Industri ini menjadi ruang penghidupan bagi para pengrajin kayu dan tenaga kerja terampil di berbagai wilayah Kabupaten Tebo.
Sementara itu, industri batu bata dan genteng menunjukkan produktivitas yang cukup tinggi. Masing-masing menghasilkan nilai produksi sekitar Rp71.979.600, meskipun jumlah unit usahanya relatif sedikit, yakni 46 usaha batu bata dan 22 usaha genteng. Kondisi ini mencerminkan masih tingginya kebutuhan material bangunan seiring berkembangnya pembangunan perumahan dan infrastruktur di daerah.
Secara keseluruhan, data tersebut memperlihatkan bahwa wajah industri kecil Kabupaten Tebo masih didominasi sektor pengolahan pangan. Industri tempe dan tahu menjadi penghasil nilai ekonomi terbesar, sementara industri kerupuk, keripik, peyek, dan makanan sejenis menjadi penyerap tenaga kerja terbanyak. Kombinasi keduanya menjadikan sektor pangan sebagai fondasi utama ekonomi kerakyatan di Kabupaten Tebo. (***)