MUARA BUNGO, bungopos.com – Di balik ramainya aktivitas pasar tradisional setiap pagi, tersimpan cerita yang dirasakan hampir setiap keluarga. Uang belanja yang dulu cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, kini harus dibelanjakan dengan lebih cermat. Harga kebutuhan pokok memang tidak melonjak tajam dalam sebulan terakhir, tetapi kenaikan yang terjadi secara perlahan terus memberi tekanan terhadap daya beli masyarakat.
Kondisi tersebut tergambar dalam data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) Muara Bungo pada Juni 2026 mencapai 4,72 persen, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 113,83. Sementara itu, inflasi bulanan (month-to-month/m-to-m) hanya 0,04 persen, menandakan bahwa kenaikan harga selama Juni relatif terkendali. Namun jika dibandingkan dengan awal tahun, inflasi telah mencapai 2,10 persen, menunjukkan bahwa tekanan harga terus berlangsung secara bertahap.
Di antara berbagai kelompok pengeluaran, makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi penyumbang terbesar inflasi. Dalam setahun terakhir, kelompok ini mengalami kenaikan harga sebesar 7,18 persen dan memberikan andil 2,09 persen terhadap inflasi keseluruhan. Fakta ini menunjukkan bahwa beban terbesar masyarakat masih berasal dari kebutuhan yang tidak bisa ditunda, seperti beras, lauk-pauk, bumbu dapur, hingga berbagai kebutuhan konsumsi harian.
Lebih menarik lagi, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya justru mencatat lonjakan harga paling tinggi. Inflasinya mencapai 17,36 persen dalam setahun, tertinggi dibandingkan seluruh kelompok pengeluaran. Meskipun kontribusinya terhadap inflasi umum sebesar 1,48 persen, kenaikan tersebut memperlihatkan bahwa biaya hidup masyarakat kini tidak hanya dipengaruhi oleh harga pangan, tetapi juga oleh meningkatnya biaya berbagai layanan dan kebutuhan pribadi.
Di sektor transportasi, kondisi menunjukkan dinamika yang berbeda. Secara bulanan terjadi deflasi sebesar 0,29 persen, namun secara tahunan harga masih lebih tinggi dibandingkan tahun lalu dengan inflasi 2,54 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun ada penurunan harga dalam jangka pendek, biaya mobilitas masyarakat masih belum kembali ke tingkat sebelumnya.
Di tengah tekanan kenaikan harga, terdapat beberapa kabar yang cukup melegakan. Kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya mengalami deflasi tahunan sebesar 0,77 persen, sedangkan perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga turun 0,16 persen. Penurunan pada kedua kelompok tersebut membantu menahan laju inflasi agar tidak meningkat lebih tinggi.
Meski angka inflasi bulanan tergolong rendah, kenyataan di lapangan sering kali terasa berbeda bagi masyarakat. Sebab, sebagian besar pengeluaran rumah tangga dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan pangan. Ketika harga bahan makanan naik, meskipun hanya beberapa persen, dampaknya langsung dirasakan oleh jutaan keluarga yang harus menyesuaikan kembali anggaran belanja mereka.
Karena itu, menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok menjadi tantangan penting bagi pemerintah. Kelancaran distribusi barang, kecukupan pasokan pangan, serta pengendalian harga komoditas strategis akan menjadi faktor utama dalam menjaga daya beli masyarakat agar tetap kuat di tengah dinamika ekonomi.
Pada akhirnya, inflasi bukan sekadar angka yang tercantum dalam laporan statistik. Di balik 4,72 persen itu tersimpan kisah para pedagang yang berusaha mempertahankan usahanya, petani yang berharap hasil panennya bernilai lebih baik, dan keluarga yang setiap hari berupaya memenuhi kebutuhan hidup dengan penghasilan yang terbatas. Menjaga inflasi tetap terkendali berarti menjaga ketenangan dapur masyarakat, mempertahankan daya beli, dan memastikan roda perekonomian daerah terus berputar secara sehat. (***)