TERGANTUNG PERTANIAN : masa depan Jambi tergantung dengan pertanian dan perkebunan

Empat dari Sepuluh Pekerja di Jambi Hidup di Sektor Pertanian, Berkeahlian Khusus Masih Minim

JAMBI, bungopos.com — Di balik hijaunya hamparan sawah, kebun karet, dan perkebunan kelapa sawit yang membentang di Provinsi Jambi, terdapat sebuah kenyataan yang masih membentuk wajah ekonomi daerah: pertanian tetap menjadi tempat bergantung sebagian besar masyarakat untuk mencari nafkah.

Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Sakernas Agustus 2025 menunjukkan bahwa 41,10 persen penduduk bekerja di sektor pertanian, kehutanan, perburuan, dan perikanan. Artinya, sekitar empat dari setiap sepuluh pekerja di Jambi masih menggantungkan kehidupan keluarganya pada hasil bumi.

Angka tersebut jauh melampaui sektor lainnya. Posisi kedua ditempati perdagangan dengan 17,66 persen, disusul tenaga produksi, operator alat angkutan, dan pekerja kasar sebesar 20,91 persen berdasarkan klasifikasi jenis pekerjaan, sementara pekerjaan profesional hanya mencapai 7,62 persen.

Namun, di balik dominasi sektor pertanian itu tersimpan dua cerita yang berbeda. Di satu sisi, pertanian masih menjadi penyelamat ekonomi masyarakat. Di sisi lain, ketergantungan yang tinggi terhadap sektor primer menunjukkan bahwa transformasi menuju ekonomi berbasis industri, teknologi, dan jasa modern masih berjalan perlahan.

Data BPS juga memperlihatkan bahwa jika dilihat dari lapangan usaha utama, sektor pertanian masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar dengan 34,68 persen pekerja perempuan dan bahkan mencapai 48,31 persen pekerja laki-laki. Jaraknya terpaut sangat jauh dibandingkan sektor perdagangan yang menyerap 21,87 persen perempuan dan 13,71 persen laki-laki.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kehidupan ekonomi masyarakat Jambi masih sangat dipengaruhi oleh hasil panen, harga komoditas, cuaca, hingga kondisi pasar global. Ketika harga sawit atau karet naik, roda ekonomi desa ikut berputar. Sebaliknya, ketika harga anjlok atau musim tidak bersahabat, ribuan keluarga turut merasakan dampaknya.

Di sisi lain, lapangan pekerjaan yang membutuhkan keterampilan tinggi masih relatif kecil. Pekerjaan sebagai tenaga profesional, teknisi, dan sejenisnya hanya mencapai 7,62 persen, sementara tenaga kepemimpinan dan ketatalaksanaan bahkan berada di bawah 1 persen. Kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi daerah.

Meski demikian, terdapat secercah optimisme. Sektor jasa mulai menunjukkan geliat. Lapangan usaha jasa pendidikan menyerap 11,03 persen tenaga kerja perempuan, sedangkan akomodasi dan makan minum mencapai 10,28 persen perempuan, menandakan ekonomi berbasis layanan mulai berkembang seiring meningkatnya aktivitas pendidikan, pariwisata, dan usaha mikro.

Bagi para ekonom, struktur ketenagakerjaan seperti ini lazim terjadi pada daerah yang sedang berkembang. Tantangan berikutnya bukanlah mengurangi peran pertanian, melainkan meningkatkan nilai tambahnya melalui hilirisasi, teknologi, dan pengolahan hasil sehingga petani memperoleh pendapatan yang lebih baik tanpa harus meninggalkan sektor yang telah menjadi denyut kehidupan masyarakat selama puluhan tahun.

Karena itu, masa depan Jambi tidak hanya ditentukan oleh seberapa luas sawah yang dimiliki atau banyaknya kebun yang ditanami. Masa depan daerah juga bergantung pada keberhasilannya menciptakan lebih banyak pekerjaan berkualitas di sektor industri, jasa modern, ekonomi digital, pendidikan, dan inovasi.

Pada akhirnya, angka-angka statistik ini bukan sekadar deretan persentase. Di balik 41,10 persen pekerja pertanian terdapat jutaan langkah menuju kebun setiap pagi, tangan-tangan yang memanen hasil bumi, serta keluarga yang menggantungkan harapan pada tanah yang mereka olah. Mereka bukan hanya penggerak ekonomi Jambi, tetapi juga fondasi yang menentukan apakah transformasi menuju daerah yang lebih maju dapat benar-benar terwujud. (***)

Editor: Arya Abisatya
Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS), Indikator Pasar Tenaga Kerja Provinsi Jambi, Sakernas Agustus 2025.