Oleh Mohd Haramen
PELUIT panjang di Stadion MetLife, New Jersey, Senin (20/7/2026) dini hari WIB membuat sejarah tentang Spanyol kembali ditulis. Gol tunggal yang mengantarkan Spanyol mengalahkan Argentina 1-0 bukan sekadar memastikan La Roja merengkuh trofi Piala Dunia untuk kedua kalinya setelah 2010. Lebih dari itu, kemenangan tersebut menempatkan Spanyol pada posisi yang belum pernah dicapai negara mana pun: juara dunia sepak bola putra dan putri secara bersamaan, setelah tim putri lebih dahulu menjuarai Piala Dunia Wanita 2023.
Bagi dunia olahraga, ini adalah kisah tentang konsistensi, investasi jangka panjang, dan revolusi sepak bola.
Namun bagi sejarawan, kemenangan itu membangkitkan ingatan kita tentang sebuah negeri yang pernah menjadi pusat peradaban dunia ketika nama Spanyol belum dikenal seperti sekarang. Saat itu, dunia mengenalnya sebagai Al-Andalus.
Jauh sebelum stadion-stadion megah berdiri di Madrid, Sevilla, atau Barcelona, tanah Spanyol pernah menjadi jantung salah satu peradaban paling maju dalam sejarah manusia.
Pada tahun 711 M, pasukan Muslim di bawah pimpinan Thariq bin Ziyad menyeberangi Selat Gibraltar. Penaklukan itu bukan sekadar ekspansi wilayah. Ia membuka babak baru lahirnya masyarakat yang menjadikan ilmu pengetahuan sebagai fondasi kekuatan.
Selama hampir delapan abad, Al-Andalus berkembang menjadi laboratorium peradaban. Kota-kota seperti Cordoba, Granada, Toledo, dan Sevilla menjadi pusat astronomi, kedokteran, filsafat, matematika, arsitektur, hingga sastra.
Sejarawan Inggris Thomas Arnold, dalam The Preaching of Islam, menggambarkan bahwa kehadiran Islam di Andalusia melahirkan masyarakat yang menjadikan ilmu sebagai jalan menuju kemajuan, bukan sekadar simbol kemegahan politik.
Sementara sejarawan Amerika Will Durant, dalam The Story of Civilization, menulis:
"Peradaban Islam menjadi cahaya dunia ketika Eropa masih berada dalam kegelapan."
Pernyataan itu bukan retorika.
Cordoba pada abad ke-10 telah memiliki jalan-jalan yang diterangi lampu, perpustakaan dengan ratusan ribu manuskrip, rumah sakit modern, sistem sanitasi, universitas, hingga pusat penerjemahan ilmu Yunani dan Persia—ketika banyak kota di Eropa bahkan belum mengenal fasilitas serupa.
Kejayaan Tidak Pernah Berdiri di Atas Pedang SemataBanyak orang mengira kekuatan Andalusia lahir karena kemenangan militer.
Padahal para pemikir Islam klasik justru menunjukkan sebaliknya.
Ibnu Khaldun, bapak sosiologi dunia, dalam Muqaddimah menulis bahwa suatu peradaban mencapai puncaknya ketika masyarakat memiliki solidaritas (ashabiyah), keadilan, dan penghormatan terhadap ilmu. Namun ketika kemewahan menggantikan kerja keras, ketika elite tenggelam dalam perebutan kekuasaan, dan ketika moral melemah, keruntuhan tinggal menunggu waktu.
Sejarawan Inggris Philip K. Hitti dalam History of the Arabs juga menegaskan bahwa kemajuan Islam di Spanyol dibangun oleh kecintaan terhadap ilmu pengetahuan yang menjadikan Andalusia sebagai pusat intelektual dunia.
Dengan kata lain, kejayaan bukan diwariskan oleh pedang, tetapi oleh perpustakaan.
Ketika Perang Salib Mengubah Peta DuniaNamun sejarah tidak pernah berhenti.
Mulai abad ke-11, Eropa memasuki fase baru melalui Perang Salib. Meski perang tersebut berlangsung terutama di kawasan Timur Tengah, dampaknya menjalar hingga Semenanjung Iberia melalui gerakan Reconquista, yakni upaya kerajaan-kerajaan Kristen merebut kembali wilayah-wilayah Muslim di Spanyol.
Selama berabad-abad, konflik militer, perpecahan politik internal, serta melemahnya kekuasaan Islam perlahan menggerus kejayaan Andalusia.
Tahun 1492, ketika Granada—benteng terakhir Islam di Spanyol—jatuh ke tangan Raja Ferdinand dan Ratu Isabella, berakhirlah hampir delapan abad pemerintahan Islam di wilayah itu.
Sejarawan Inggris Karen Armstrong pernah mengingatkan bahwa keruntuhan Andalusia tidak hanya mengubah peta politik Eropa, tetapi juga mengakhiri salah satu eksperimen terbesar dalam sejarah mengenai kehidupan multikultural yang mempertemukan Muslim, Kristen, dan Yahudi dalam satu ruang peradaban.
Pelajaran untuk Dunia IslamBanyak umat Islam mengenang Andalusia dengan nostalgia.
Namun sejarah tidak pernah meminta kita sekadar bernostalgia.
Jutaan penggemar sepak bola muslim yang mungkin memadati stadion-stadion dan di depan televisi hari ini mungkin tidak menyadari bahwa Spanyol dahulu pernah menjadi pusat peradaban Islam.
Granada, Sevilla, Toledo, hingga Cordoba bukan hanya nama kota dalam peta Spanyol. Kota-kota itu pernah menjadi laboratorium ilmu pengetahuan dunia.
Istana Alhambra di Granada menjadi saksi kecanggihan arsitektur Islam yang hingga kini masih mengagumkan. Masjid Agung Cordoba, yang kini berubah menjadi katedral, tetap menyimpan keindahan seni bangunan Islam yang tak tertandingi.
Malik bin Nabi, pemikir besar Aljazair, mengingatkan bahwa kemunduran umat Islam bukan terutama karena kekuatan musuh, melainkan karena hilangnya kemampuan membangun peradaban.
Ia menulis bahwa sebuah bangsa akan kehilangan masa depannya ketika berhenti mencintai ilmu dan lebih sibuk memuliakan masa lalu daripada menciptakan masa depan.
Pesan serupa juga pernah disampaikan oleh Muhammad Iqbal, filsuf dan penyair Muslim dari India:
"Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang hidup dari kenangan sejarahnya, melainkan bangsa yang mampu menciptakan sejarah baru."
(Penulis adalah Pemikir, Penulis, Pendidik dan Putra Mersam)