MENDALO, bungopos.com — Di atas panggung Auditorium Gedung Unifac Universitas Jambi, tepuk tangan bergema setiap kali nama finalis dipanggil. Senyum, tepuk tangan, dan sorot lampu seolah menjadi gambaran sebuah ajang pemilihan duta kampus pada umumnya. Namun, di balik pakaian terbaik dan kemampuan berbicara para peserta, tersimpan perjalanan panjang yang tidak terlihat oleh penonton.
Selama hampir satu bulan, puluhan mahasiswa dari berbagai fakultas melewati serangkaian seleksi yang tidak hanya menguji kecerdasan dan kepercayaan diri, tetapi juga kepedulian mereka terhadap persoalan nyata di lingkungan kampus dan masyarakat.
Dari puluhan peserta itu, hanya 14 mahasiswa atau tujuh pasang finalis terbaik yang akhirnya berdiri di panggung Grand Final Pemilihan Duta Kampus Universitas Jambi (UNJA) 2026, Selasa (21/7/2026). Tahun ini, mereka datang membawa tema "Empowering Voices, Inspiring Impact"—sebuah pesan bahwa suara mahasiswa baru memiliki arti ketika mampu menghadirkan perubahan.
Suasana grand final semakin semarak dengan kehadiran Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan UNJA, Prof. Dr. Fauzi Syam, S.H., M.H., Wakil Wali Kota Jambi Diza Hazra Aljosha, S.E., M.A., Ketua Satgas Duta Kampus UNJA Dr. Friscilla Wulan Tersta, S.Pd., M.Pd., para Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dari seluruh fakultas, serta jajaran dewan juri yang berasal dari kalangan akademisi, praktisi, psikolog, dan humas.
Namun, yang paling menarik justru bukan apa yang terjadi di atas panggung.
Beberapa hari sebelumnya, para finalis telah turun langsung ke lapangan. Ada yang mengajak mahasiswa mendaur ulang sampah di lingkungan kampus, ada yang mendatangi pesantren untuk berbagi pengetahuan, sementara yang lain memilih masuk ke sekolah-sekolah atau mendampingi pelaku usaha kecil. Setiap proyek lahir dari kepedulian dan bidang keahlian masing-masing.
Bagi panitia, aktivitas tersebut bukan pelengkap kompetisi, melainkan inti dari proses penilaian.
Ketua Satgas Duta Kampus UNJA, Dr. Friscilla Wulan Tersta, menjelaskan bahwa tahun ini seluruh finalis diwajibkan menjalankan proyek pengabdian kepada masyarakat.
"Selama satu minggu kami menantang 28 finalis untuk menunjukkan apa yang bisa mereka berikan kepada UNJA. Hasilnya luar biasa. Ada yang mendaur ulang sampah, ada yang mengabdi di pesantren, ada yang ke sekolah. Mereka menghadirkan solusi sesuai kreativitas dan kepakaran masing-masing. Dari proses itulah akhirnya terpilih tujuh pasang finalis terbaik," katanya.
Perubahan konsep tersebut memperlihatkan arah baru Duta Kampus UNJA. Gelar duta tidak lagi hanya diukur dari kemampuan berbicara di depan publik atau penampilan di atas panggung, tetapi juga dari seberapa besar dampak yang mampu mereka ciptakan.
Pandangan serupa disampaikan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan UNJA, Prof. Fauzi Syam. Menurutnya, seorang Duta Kampus harus memiliki tiga karakter utama: cakap, unggul, dan berbudaya.
Baginya, kecakapan bukan sekadar kemampuan berbicara, melainkan kesediaan mendengar dan menawarkan solusi. Keunggulan bukan hanya soal deretan prestasi akademik, tetapi juga kemampuan berinovasi dan bekerja sama. Sementara berbudaya berarti menjunjung etika, disiplin, serta mencintai nilai-nilai budaya Melayu Jambi dalam kehidupan sehari-hari.
Komitmen tersebut kini diperkuat secara kelembagaan. Prof. Fauzi mengumumkan bahwa Duta Kampus UNJA telah resmi ditetapkan sebagai Organisasi Mahasiswa Khusus berdasarkan Peraturan Rektor Nomor 4 Tahun 2026, sehingga memiliki sekretariat dan dukungan anggaran untuk menjalankan berbagai program.
Di hadapan para finalis, Wakil Wali Kota Jambi Diza Hazra Aljosha mengingatkan bahwa gelar duta hanya akan bermakna apabila mampu memberikan manfaat yang nyata.
Ia mengutip gagasan sosiolog Émile Durkheim tentang collective effervescence, yaitu energi sosial yang lahir ketika banyak orang bergerak bersama demi kepentingan yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
"Duta ini bukan untuk ganteng-gantengan, cantik-cantikan, gaya-gayaan, atau hanya pintar secara teori. Yang paling penting adalah apakah keberadaannya benar-benar memberi manfaat bagi mahasiswa dan masyarakat," ujarnya.
Pesan itu menjadi penutup yang kuat bagi malam grand final. Di tengah tantangan dunia pendidikan yang semakin kompleks, kampus tidak lagi hanya membutuhkan mahasiswa dengan nilai akademik tinggi. Kampus juga memerlukan generasi yang mampu menghubungkan ilmu dengan aksi, gagasan dengan pengabdian, serta prestasi dengan kepedulian sosial.
Pada akhirnya, selempang yang dikenakan para Duta Kampus UNJA bukanlah simbol kemenangan semata. Ia adalah pengingat bahwa setiap penghargaan membawa tanggung jawab untuk menjadi suara bagi mahasiswa, sekaligus menghadirkan perubahan yang dapat dirasakan oleh masyarakat luas.
Setelah melalui proses seleksi ketat, dewan juri akhirnya mengumumkan para pemenang dari tujuh kategori Duta Kampus UNJA 2026 sebagai berikut:
(***)