TUMBUH : Pertumbuhan ekonomi Tebo dalam lima tahun terakhir

Rp 24,82 Triliun Berputar di Perekonomian Tebo, Tapi dari Kantong Rakyat Bukan Pemerintah

TEBO, bungopos.com — Ketika mendengar istilah pertumbuhan ekonomi, yang terlintas di benak banyak orang biasanya adalah berdirinya pabrik-pabrik besar, proyek infrastruktur bernilai triliunan rupiah, atau masuknya investasi dari luar daerah. Namun, kisah ekonomi Kabupaten Tebo justru berawal dari aktivitas yang jauh lebih sederhana. Seorang ibu yang berbelanja di pasar, petani yang membeli pupuk, orang tua yang membayar biaya sekolah anaknya, hingga warga yang mengisi bahan bakar kendaraan, semuanya menjadi bagian dari denyut perekonomian daerah.

Ribuan transaksi kecil yang berlangsung setiap hari itulah yang ternyata menjadi penggerak utama ekonomi Tebo.

Data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Tebo Menurut Pengeluaran Tahun 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan perekonomian Kabupaten Tebo terus mengalami pertumbuhan dalam lima tahun terakhir. Nilai PDRB atas dasar harga berlaku mencapai Rp24,82 triliun pada 2025, meningkat sekitar 46,5 persen dibandingkan tahun 2021 yang masih berada di angka Rp16,95 triliun.

Pertumbuhan tersebut tidak hanya mencerminkan meningkatnya nilai ekonomi daerah, tetapi juga menunjukkan bahwa aktivitas konsumsi, investasi, perdagangan, dan produksi terus berkembang. Dengan kata lain, uang yang beredar di tengah masyarakat semakin besar dan roda ekonomi bergerak lebih cepat dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya, Prof. Candra Fajri Ananda, mengatakan pertumbuhan ekonomi merupakan indikator utama untuk menilai keberhasilan pembangunan suatu daerah.

"Pertumbuhan ekonomi merupakan indikator keberhasilan pembangunan dalam suatu perekonomian. Pertumbuhan ekonomi mengukur prestasi perkembangan perekonomian dari suatu periode ke periode berikutnya. Pertumbuhan ekonomi pada dasarnya menjelaskan tentang kemajuan ekonomi, perkembangan ekonomi, kesejahteraan ekonomi, serta perubahan fundamental dalam jangka relatif panjang," ujarnya.

Menurut Prof. Candra, angka pertumbuhan ekonomi tidak boleh dipahami hanya sebagai data statistik tahunan. Lebih dari itu, pertumbuhan ekonomi harus mampu menunjukkan adanya perubahan struktur ekonomi yang berdampak pada meningkatnya kesejahteraan masyarakat. Karena itu, keberhasilan pembangunan bukan hanya diukur dari besarnya nilai PDRB, melainkan juga dari sejauh mana masyarakat merasakan manfaatnya.

Data BPS memperlihatkan bahwa pengeluaran konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang terbesar ekonomi Kabupaten Tebo. Sepanjang 2025, masyarakat membelanjakan sekitar Rp11,69 triliun untuk memenuhi berbagai kebutuhan, mulai dari pangan, sandang, pendidikan, kesehatan, transportasi hingga berbagai jasa lainnya. Nilai tersebut hampir mencapai separuh dari total aktivitas ekonomi Kabupaten Tebo.

Sebagai perbandingan, pada 2021 nilai konsumsi rumah tangga masih sebesar Rp8,74 triliun. Dalam kurun lima tahun terjadi peningkatan hampir Rp3 triliun, sebuah indikasi bahwa aktivitas ekonomi masyarakat terus tumbuh. Ketika masyarakat memiliki kemampuan untuk berbelanja, uang akan terus berputar dari konsumen kepada pedagang, produsen, pelaku UMKM, hingga penyedia jasa. Perputaran inilah yang kemudian menciptakan pendapatan baru sekaligus membuka lapangan kerja.

Selain konsumsi rumah tangga, komponen yang mengalami pertumbuhan paling pesat adalah ekspor neto. Nilainya melonjak dari Rp3,21 triliun pada 2021 menjadi Rp6,82 triliun pada 2025. Kenaikan lebih dari dua kali lipat tersebut menunjukkan bahwa nilai barang dan jasa yang dipasarkan keluar daerah semakin besar dibandingkan barang dan jasa yang masuk ke Kabupaten Tebo.

Bagi daerah yang masih mengandalkan sektor perkebunan, pertanian, dan sumber daya alam, peningkatan ekspor menjadi sinyal positif bahwa komoditas unggulan Tebo tetap memiliki daya saing di pasar. Semakin besar ekspor, semakin besar pula pendapatan yang mengalir masuk ke daerah dan memperkuat aktivitas ekonomi masyarakat.

Komponen lain yang turut memperkuat pertumbuhan adalah Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi. Pada 2021 nilainya tercatat Rp3,79 triliun, kemudian meningkat menjadi Rp4,87 triliun pada 2025. Investasi tersebut mencerminkan bertambahnya pembangunan gedung, jalan, perkebunan, pembelian alat produksi, hingga infrastruktur penunjang kegiatan ekonomi lainnya.

Dalam teori pembangunan, investasi merupakan fondasi pertumbuhan jangka panjang. Semakin besar investasi yang masuk, semakin tinggi pula peluang peningkatan produktivitas, terbukanya lapangan kerja baru, serta berkembangnya sektor usaha yang mampu menciptakan nilai tambah bagi daerah.

Di sisi lain, pengeluaran konsumsi pemerintah meningkat lebih lambat, dari sekitar Rp990,5 miliar pada 2021 menjadi Rp1,12 triliun pada 2025. Kondisi ini memperlihatkan bahwa pertumbuhan ekonomi Kabupaten Tebo tidak lagi semata-mata ditopang oleh belanja pemerintah. Aktivitas masyarakat dan dunia usaha justru menjadi kekuatan utama yang menjaga stabilitas ekonomi daerah.

Sementara itu, pengeluaran Lembaga Nonprofit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT), seperti yayasan, organisasi sosial, dan lembaga keagamaan, mencapai Rp151,19 miliar pada 2025. Walaupun porsinya relatif kecil dibandingkan komponen lainnya, kontribusi sektor nonprofit tetap menunjukkan tren yang meningkat dan ikut mendukung dinamika ekonomi daerah.

Meski berbagai indikator menunjukkan perkembangan yang menggembirakan, tantangan yang dihadapi Kabupaten Tebo masih cukup besar. Struktur ekonomi yang masih bertumpu pada konsumsi rumah tangga dan komoditas primer membuat daerah ini rentan terhadap penurunan daya beli masyarakat maupun fluktuasi harga komoditas di pasar global.

Prof. Candra menilai, pertumbuhan ekonomi yang sehat harus diikuti dengan perubahan yang lebih mendasar melalui peningkatan produktivitas dan nilai tambah ekonomi. Karena itu, pengembangan industri pengolahan, hilirisasi komoditas unggulan, penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta perluasan investasi produktif menjadi langkah penting agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya tinggi secara angka, tetapi juga berkualitas dan berkelanjutan.

Pada akhirnya, nilai PDRB sebesar Rp24,82 triliun bukan sekadar deretan angka dalam laporan statistik. Angka tersebut adalah cerminan dari jutaan aktivitas ekonomi yang dilakukan masyarakat setiap hari. Tantangan terbesar ke depan adalah memastikan pertumbuhan itu benar-benar diterjemahkan menjadi kesejahteraan yang lebih merata, melalui peningkatan pendapatan masyarakat, bertambahnya kesempatan kerja, dan kualitas hidup yang semakin baik bagi seluruh warga Kabupaten Tebo. (***)

Editor: Arya Abisatya
Sumber: BPS Kabupaten Tebo dan https://feb.ub.ac.id/