MUARA BUNGO, bungopos.com – Pagi baru saja dimulai ketika truk pengangkut sawit perlahan melintasi jalan tanah di salah satu pelosok Kabupaten Bungo. Debu beterbangan saat kemarau, tetapi ketika hujan turun, ruas yang sama berubah menjadi lumpur licin yang memaksa kendaraan berjalan merayap. Bagi warga, kondisi itu bukan cerita sesekali, melainkan bagian dari rutinitas yang masih mereka hadapi.
Data Bungo Dalam Angka 2026 yang diterbitkan Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bungo menunjukkan, hingga tahun 2025 masih terdapat 114,33 kilometer jalan kabupaten yang berpermukaan tanah. Angka tersebut setara dengan sekitar 13 persen dari total panjang jalan kabupaten yang mencapai 854,20 kilometer.
Meski jalan beraspal kini mendominasi dengan panjang 633,96 kilometer, keberadaan ruas jalan tanah menunjukkan bahwa tantangan pemerataan infrastruktur masih belum sepenuhnya teratasi.
Kecamatan Pelepat menjadi wilayah dengan jalan tanah terpanjang di Kabupaten Bungo. Dari total jaringan jalan sepanjang 167,76 kilometer, sebanyak 38,42 kilometer masih berupa jalan tanah. Angka ini menjadi yang tertinggi dibanding seluruh kecamatan.
Posisi berikutnya ditempati Tanah Sepenggal dengan 20,64 kilometer, disusul Limbur Lubuk Mengkuang 14,30 kilometer, Rantau Pandan 11,92 kilometer, dan Rimbo Tengah 8,40 kilometer.
Sebaliknya, sejumlah kecamatan telah hampir sepenuhnya mengandalkan jalan beraspal. Pasar Muara Bungo, misalnya, seluruh ruas jalannya tercatat beraspal tanpa jalan tanah. Kondisi serupa juga terlihat di beberapa wilayah perkotaan yang menikmati akses transportasi jauh lebih baik.
Selain jalan tanah, Kabupaten Bungo juga masih memiliki 96,51 kilometer jalan berpermukaan kerikil dan hanya 9,40 kilometer jalan beton. Komposisi ini menunjukkan bahwa peningkatan kualitas jalan masih menjadi pekerjaan besar, terutama di kawasan pedesaan yang menjadi sentra pertanian dan perkebunan.
Bagi masyarakat, kualitas jalan bukan sekadar soal kenyamanan berkendara. Jalan yang baik menentukan biaya angkut hasil panen, waktu tempuh menuju sekolah dan puskesmas, kelancaran distribusi barang, hingga daya tarik investasi di suatu wilayah.
Perbedaan kualitas jalan antar-kecamatan juga menggambarkan tantangan pemerataan pembangunan. Wilayah yang didominasi jalan beraspal menikmati mobilitas yang lebih efisien, sementara kawasan yang masih bergantung pada jalan tanah menghadapi risiko lebih besar ketika cuaca memburuk.
Di sisi lain, data ini juga mencerminkan kemajuan. Sekitar tiga perempat jaringan jalan kabupaten di Bungo kini telah beraspal, menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi daerah. Namun, keberadaan lebih dari 114 kilometer jalan tanah menjadi pengingat bahwa pembangunan infrastruktur belum selesai.
Bagi warga yang setiap hari melintasi ruas-ruas tersebut, kemajuan belum diukur dari panjang jalan yang telah dibangun, melainkan dari kapan jalan tanah terakhir di kampung mereka berubah menjadi jalan yang dapat dilalui dengan aman sepanjang tahun. (***)