MUARA BUNGO, bungopos.com — Pola belanja masyarakat Kabupaten Bungo mulai menunjukkan perubahan. Warga kini mengalokasikan porsi pengeluaran yang lebih besar untuk kebutuhan di luar makanan, sementara pengeluaran untuk konsumsi pangan justru mengalami penurunan.
Temuan tersebut tergambar dalam Bungo Dalam Angka 2026 yang diterbitkan Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bungo berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2025.
Secara keseluruhan, rata-rata pengeluaran per kapita masyarakat Bungo justru sedikit menurun dari Rp1.553.782 per bulan pada 2024 menjadi Rp1.533.139 per bulan pada 2025. Penurunan sekitar Rp20.643 atau 1,3 persen ini menunjukkan bahwa pengeluaran masyarakat relatif stabil, meskipun terjadi pergeseran komposisi belanja.
Pengeluaran Makanan MenurunRata-rata pengeluaran untuk kelompok makanan turun dari Rp874.412 menjadi Rp802.836 per kapita per bulan.
Penurunan terlihat pada beberapa komoditas utama, antara lain:
Namun demikian, beberapa komoditas justru mengalami peningkatan pengeluaran, seperti:
Perubahan ini mengindikasikan adanya penyesuaian pola konsumsi rumah tangga terhadap kondisi ekonomi maupun preferensi masyarakat.
Belanja Nonmakanan Justru NaikBerbeda dengan kelompok makanan, pengeluaran nonmakanan meningkat dari Rp679.369 menjadi Rp730.303 per kapita per bulan.
Kenaikan terbesar terjadi pada beberapa komponen, di antaranya:
Sementara itu, pengeluaran untuk perumahan dan fasilitas rumah tangga turun dari Rp350.359 menjadi Rp325.566, begitu pula pakaian, alas kaki, dan tutup kepala yang turun dari Rp63.142 menjadi Rp57.905.
Gambaran Daya BeliPenurunan tipis pada rata-rata pengeluaran per kapita tidak otomatis menunjukkan daya beli masyarakat melemah. Angka tersebut perlu dibaca bersama indikator lain seperti inflasi, pertumbuhan ekonomi, pendapatan, dan tingkat kemiskinan.
Yang lebih menonjol dari data ini adalah perubahan prioritas belanja masyarakat. Warga Bungo tampaknya mulai mengalokasikan lebih banyak dana untuk kebutuhan nonmakanan, terutama pembelian barang tahan lama dan berbagai jasa, sementara pengeluaran untuk konsumsi makanan menjadi lebih efisien.
Dalam ilmu ekonomi, pola seperti ini sering mencerminkan perubahan perilaku konsumsi rumah tangga. Ketika kebutuhan pangan relatif terkendali, masyarakat cenderung meningkatkan belanja pada kebutuhan lain seperti peralatan rumah tangga, jasa, pendidikan, kesehatan, maupun keperluan sosial.
Perubahan komposisi pengeluaran tersebut menjadi salah satu indikator penting bagi pemerintah daerah dan pelaku usaha untuk memahami arah perkembangan ekonomi masyarakat Kabupaten Bungo. (***)