Ustadz Ahmadi (berpeci) saat menyampaikan hasil pengumpulan ZIS nya ke Wakil Ketua I Baznas Batang Hari, Mohd Haramen

Ustadz Ahmadi, Lifetime Achievement Baznas Batang Hari yang Door To Door ke Rumah Muzakki

MUARA BULIAN, bungopos.com - Ada orang yang menginspirasi karena suaranya lantang. Ada pula yang mengubah banyak hal justru karena kelembutannya.

Ustadz Ahmadi termasuk dalam golongan yang kedua.

Di tengah derasnya berbagai strategi penghimpunan zakat, infak, dan sedekah (ZIS), ia memilih jalan yang sederhana: mengetuk pintu, menyapa dengan senyum, lalu mengajak dengan ketulusan. Tidak ada retorika yang berlebihan. Tidak ada cara-cara yang memaksa. Yang ia bawa hanyalah keyakinan bahwa setiap rezeki memiliki hak orang lain di dalamnya.

Atas dedikasi panjang, konsistensi, dan kontribusinya yang terus mengalir bagi gerakan zakat, Ustadz Ahmadi layak menyandang predikat Lifetime Achievement BAZNAS Kabupaten Batang Hari.

Sepanjang periode Januari - Juni 2026, ia berhasil mengumpulkan dana ZIS sebesar Rp35.770.002, dengan rata-rata Rp5.961.667 setiap bulan. Angka itu menempatkannya di peringkat kedua di antara seluruh tenaga da'i BAZNAS Kabupaten Batang Hari—sebuah pencapaian yang semakin mengagumkan karena diraih hanya dari satu wilayah binaan, yakni Desa Danau Embat.

Di saat banyak orang menganggap semakin luas wilayah berarti semakin besar peluang menghimpun dana, Ustadz Ahmadi justru membuktikan bahwa kedekatan dengan masyarakat jauh lebih bernilai daripada luasnya cakupan.

"Saya setiap kali akhir bulan mendatangi rumah orang kaya menawarkan mereka untuk berzakat. Kalau tidak berzakat, ya berinfak," tuturnya sederhana.

Kalimat itu terdengar biasa. Namun di baliknya tersimpan filosofi dakwah yang telah ia jalani bertahun-tahun: jangan menunggu orang datang untuk berbuat baik, tetapi datangi mereka dengan penuh hormat dan ajak mereka menjadi bagian dari kebaikan.

Sosoknya memang jauh dari kesan ingin menonjol. Pembawaannya sederhana. Sikapnya kebapak-bapakan. Cara bicaranya pelan, lembut, dan menenangkan. Tatapan matanya seolah selalu menyampaikan harapan, sementara senyum yang nyaris tak pernah lepas dari wajahnya membuat siapa pun merasa dihargai.

Kepercayaan masyarakat tidak ia bangun dalam sehari. Ia menumbuhkannya melalui keteladanan.

Sebagai da'i Pemerintah Kabupaten Batang Hari, setiap kali mengisi pengajian di majelis taklim Desa Danau Embat, ia tidak pernah lupa membawa satu benda sederhana: kotak infak BAZNAS.

"Setiap kali mengisi pengajian majelis taklim saya membawa kotak infak BAZNAS," ujarnya.

Dari kebiasaan kecil yang terus diulang itulah lahir sebuah budaya. Anggota-anggota majelis taklim mulai menjadikan infak sebagai amalan rutin, bukan lagi sekadar kegiatan insidental. Sedikit demi sedikit, kepedulian tumbuh menjadi kebiasaan, dan kebiasaan menjelma menjadi gerakan sosial yang memberi manfaat bagi banyak mustahik.

Prestasi Ustadz Ahmadi mengajarkan satu pelajaran penting: keberhasilan penghimpunan zakat tidak selalu ditentukan oleh luasnya wilayah, besarnya tim, atau megahnya program. Sering kali, keberhasilan justru lahir dari hubungan yang tulus dengan masyarakat, dari keberanian mengetuk satu pintu demi satu pintu, serta dari kesabaran merawat kepercayaan yang dibangun selama bertahun-tahun.

Warisan terbesar yang ditinggalkannya bukanlah angka Rp35,77 juta yang berhasil dihimpun. Warisan itu adalah keyakinan bahwa dakwah yang paling kuat bukanlah yang paling keras terdengar, melainkan yang paling konsisten menyentuh hati.

Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh target, Ustadz Ahmadi menunjukkan bahwa ketulusan masih menjadi strategi paling ampuh untuk menggerakkan orang berbagi. Dan mungkin, itulah makna sejati dari sebuah Lifetime Achievement—bukan sekadar penghargaan atas apa yang telah dicapai, tetapi penghormatan atas kehidupan yang telah dipersembahkan untuk menyalakan kebaikan bagi sesama. (***)

Penulis: Arya Abisatya
Editor: Arya Abisatya