Pelantikan ISMI PW Provinsi Jambi, 19 Juni 2026

BER-ILMU, BERADAT, MEMBANGUN PERADABAN

Khairunnas anfa'uhum linnas” — Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.* 

Oleh: Dr. Fahmi Rasid

Sekretaris ISMI Provinsi Jambi 

Di tengah derasnya arus globalisasi, perkembangan teknologi digital, dan perubahan sosial yang begitu cepat, masyarakat dihadapkan pada tantangan yang semakin kompleks. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa berbagai kemudahan dalam kehidupan manusia. Namun pada saat yang sama, kita juga menyaksikan munculnya berbagai persoalan sosial seperti menurunnya kepedulian sosial, lunturnya identitas budaya, melemahnya nilai gotong royong, serta krisis keteladanan dalam kehidupan bermasyarakat.

Dalam konteks tersebut, kehadiran organisasi kemasyarakatan yang berbasis pada ilmu pengetahuan, nilai budaya, dan pengabdian sosial menjadi sangat penting. Salah satunya adalah Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) Perwakilan Provinsi Jambi yang mengusung tema besar:

“Ber-Ilmu, Beradat, Membangun Peradaban; Sarjana Melayu Hadir dengan Ilmu dan Adat untuk Kemajuan Bangsa.”

Tema tersebut bukan sekadar slogan organisasi, melainkan sebuah gagasan besar tentang bagaimana ilmu pengetahuan dan nilai-nilai budaya dapat berjalan beriringan dalam membangun masyarakat yang maju, bermartabat, dan berkeadaban.

Ilmu Pengetahuan dan Peradaban

Sejarah membuktikan bahwa peradaban besar selalu lahir dari masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan. Sejarawan Muslim terkemuka, Ibnu Khaldun, dalam karya monumentalnya Muqaddimah, menjelaskan bahwa kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas ilmu, pendidikan, dan solidaritas sosial (ashabiyah) yang dimiliki masyarakatnya.

Pandangan tersebut sejalan dengan teori Auguste Comte yang menyatakan bahwa perkembangan masyarakat bergerak menuju tahap yang lebih maju melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan rasionalitas. Sementara itu, Peter Drucker, tokoh manajemen modern, menyebut bahwa masyarakat masa depan adalah knowledge society, yaitu masyarakat yang menjadikan ilmu sebagai modal utama pembangunan.

Namun demikian, ilmu pengetahuan saja tidak cukup. Ilmu yang tidak dibarengi dengan moral dan nilai budaya berpotensi melahirkan berbagai penyimpangan. Oleh karena itu, masyarakat Melayu sejak dahulu telah memiliki falsafah yang sangat luhur:

“ *Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendikan Kitabullah.”* 

Falsafah ini menunjukkan bahwa adat dan budaya Melayu tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai Islam sebagai sumber moral dan etika kehidupan.

Landasan Al-Qur'an dan Sunnah

Islam memberikan perhatian yang sangat besar terhadap ilmu pengetahuan. Allah SWT berfirman:

«“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”

(QS. Al-Mujadilah: 11)»

Ayat ini menegaskan bahwa ilmu merupakan salah satu jalan untuk meningkatkan derajat manusia.

Demikian pula Rasulullah SAW bersabda:

«“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”

(HR. Ahmad)»

Hadis tersebut menjadi landasan moral bahwa ilmu yang dimiliki seseorang harus diwujudkan dalam bentuk manfaat nyata bagi masyarakat.

Karena itu, ISMI hadir bukan semata-mata sebagai wadah berhimpunnya para sarjana Melayu, tetapi juga sebagai ruang pengabdian yang bertujuan menghadirkan manfaat bagi umat, bangsa, dan negara.

Menghidupkan Kembali Identitas Melayu

Globalisasi sering kali membawa budaya luar yang masuk tanpa filter. Akibatnya, banyak generasi muda yang semakin jauh dari akar budaya dan identitasnya sendiri.

Menurut Samuel Huntington, identitas budaya merupakan faktor penting yang menentukan keberlangsungan suatu peradaban. Bangsa yang kehilangan identitas akan kehilangan arah pembangunan sosialnya.

Di sinilah pentingnya upaya pelestarian adat dan budaya Melayu. Budaya Melayu bukan hanya berbicara tentang pakaian adat, tarian, atau upacara tradisional semata. Budaya Melayu adalah sistem nilai yang mengajarkan sopan santun, musyawarah, penghormatan kepada orang tua, kepedulian sosial, serta semangat kebersamaan.

ISMI Provinsi Jambi memiliki komitmen untuk melakukan penguatan budaya Melayu secara berkelanjutan melalui pendidikan, penelitian, pengabdian masyarakat, dan kolaborasi dengan berbagai pihak.

Pengenalan budaya Melayu harus dilakukan sejak usia dini, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, hingga orang tua. Dengan demikian, budaya Melayu tidak hanya menjadi warisan sejarah, tetapi menjadi pedoman hidup yang terus berkembang mengikuti zaman.

Melayu dan Peluang Ekonomi Global

Sering kali budaya dipahami hanya sebagai warisan masa lalu. Padahal budaya juga memiliki nilai ekonomi yang sangat besar.

Ekonom pemenang Nobel, Amartya Sen, menjelaskan bahwa pembangunan sejati tidak hanya diukur melalui pertumbuhan ekonomi, tetapi juga melalui penguatan kapasitas manusia dan identitas budaya.

Dalam konteks Melayu, potensi tersebut sangat besar. Batik Jambi, kerajinan tradisional, kuliner khas Melayu, seni pertunjukan, hingga produk UMKM lokal memiliki peluang untuk dipasarkan secara nasional maupun internasional.

Karena itu, ISMI mendorong lahirnya semangat:

 *“Saya Bangga Menjadi Anak Melayu.”* 

Kebanggaan tersebut harus diwujudkan melalui inovasi, kewirausahaan, dan kreativitas. Ketika budaya mampu menjadi sumber ekonomi masyarakat, maka pelestarian budaya tidak lagi menjadi beban, melainkan menjadi kekuatan pembangunan.

Gotong Royong sebagai Modal Sosial

Salah satu kekuatan terbesar masyarakat Melayu adalah semangat gotong royong.

Sosiolog terkenal Robert Putnam menyebut semangat kebersamaan dan kepercayaan sosial sebagai social capital (modal sosial), yaitu kekuatan yang mampu mempercepat pembangunan masyarakat.

Dalam budaya Melayu, nilai gotong royong telah diwariskan secara turun-temurun. Semangat saling membantu, saling menghormati, dan saling menguatkan menjadi bagian dari identitas masyarakat.

Nilai tersebut pula yang menjadi landasan berbagai program sosial ISMI Provinsi Jambi.

Pada bulan suci Ramadan, ISMI melaksanakan program berbagi makanan berbuka puasa selama satu bulan penuh dengan rata-rata sekitar 700 porsi setiap hari bagi masyarakat yang membutuhkan.

Kemudian pada Hari Raya Iduladha, ISMI turut berpartisipasi dalam pelaksanaan dan pendistribusian hewan kurban kepada masyarakat.

Kegiatan tersebut merupakan implementasi nyata dari firman Allah SWT:

« *“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa.”* 

(QS. Al-Maidah: 2)»

Bagi ISMI, pengabdian sosial bukan sekadar program kerja, tetapi bagian dari ibadah dan tanggung jawab moral kepada sesama.

Niat Tulus untuk Kemaslahatan Umat

Setiap organisasi pada hakikatnya akan dinilai bukan dari seberapa besar namanya, melainkan dari seberapa besar manfaat yang diberikan kepada masyarakat.

Niat utama ISMI adalah menghadirkan kebermanfaatan.

 *Rasulullah SAW bersabda:* 

«“Apabila manusia meninggal dunia maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”

(HR. Muslim)»

Hadis ini menjadi inspirasi bagi seluruh pengurus ISMI untuk menjadikan organisasi sebagai sarana pengabdian, bukan sarana mencari kedudukan.

Kepemimpinan dalam ISMI bukanlah kehormatan yang harus dibanggakan, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan.

Karena itu, Ketua Umum ISMI Provinsi Jambi beserta seluruh pengurus berkomitmen menjalankan organisasi dengan niat yang tulus, ikhlas, dan semata-mata untuk kemaslahatan umat.

ISMI ingin menjadi rumah besar bagi para sarjana Melayu untuk berpikir, berkarya, berinovasi, dan mengabdi. Menjadi mitra strategis pemerintah dalam pembangunan daerah. Menjadi penjaga marwah budaya Melayu. Serta menjadi jembatan yang menghubungkan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan masyarakat.

Membangun peradaban bukan pekerjaan satu generasi. Ia merupakan perjalanan panjang yang membutuhkan ilmu, akhlak, budaya, dan kerja sama seluruh elemen masyarakat.

ISMI Provinsi Jambi hadir dengan semangat untuk mengambil bagian dalam perjalanan tersebut.

Dengan berpegang pada falsafah Melayu, nilai-nilai Islam, dan semangat pengabdian kepada masyarakat, ISMI berharap dapat menjadi organisasi yang tidak hanya dikenal karena keilmuan anggotanya, tetapi juga karena manfaat yang dirasakan oleh masyarakat.

Karena pada akhirnya, kemuliaan seseorang tidak diukur dari jabatan yang dimilikinya, melainkan dari seberapa besar manfaat yang ditinggalkannya.

Sebagaimana pesan Rasulullah SAW:

“ *Khairunnas anfa'uhum linnas” — Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.* 

Semoga ISMI Provinsi Jambi senantiasa menjadi bagian dari ikhtiar besar membangun masyarakat Melayu yang berilmu, beradat, religius, maju, dan berperadaban.Wallahu A'lam Bish Shawab.(*)

Penulis: Fahmi Rasid
Editor: Linnaliska