JAMBI, bungopos.com — Di tengah euforia Piala Dunia yang sedang menyita perhatian masyarakat global, sebuah pesan sederhana namun sarat makna menggema dalam Apel Rutin Aparatur Sipil Negara (ASN) Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jambi, Selasa (23/6/2026). Bukan tentang skor pertandingan atau pemain bintang, melainkan tentang nilai kepemimpinan, kerja sama, dan pentingnya menghargai peran setiap individu dalam sebuah tim.
Pesan inspiratif tersebut disampaikan Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Provinsi Jambi, Dedi Irama Silalahi, yang mengajak seluruh ASN merefleksikan dinamika organisasi melalui filosofi permainan sepak bola yang sedang menjadi sorotan dunia.
Menurutnya, keberhasilan sebuah tim tidak pernah ditentukan oleh satu orang saja. Sebesar apa pun talenta seorang pemain bintang, kemenangan tidak akan tercapai tanpa dukungan dan kontribusi seluruh anggota tim yang menjalankan tugasnya dengan baik.
"Kehebatan satu orang pemain bintang tidak akan mampu membawa timnya menjadi juara ketika kontribusi pemain lain tidak ada. Seperti layaknya para pemain yang mengambil peran dalam posisinya masing-masing, mulai dari penyerang, gelandang, pemain bertahan hingga penjaga gawang," ujar Dedi di hadapan peserta apel.
Organisasi yang Kuat Dibangun oleh Semua ElemenAnalogi tersebut, menurut Dedi, sangat relevan dengan kehidupan organisasi modern, termasuk dalam lingkungan pemerintahan. Ia menegaskan bahwa keberhasilan sebuah institusi tidak hanya bergantung pada kemampuan pimpinan, tetapi juga pada komitmen, loyalitas, dan profesionalisme seluruh pegawai yang ada di dalamnya.
"Sehebat apa pun seorang pimpinan, tujuan besar organisasi tidak akan pernah terealisasi tanpa adanya dukungan dan bantuan dari seluruh staf dan karyawan," tegasnya.
Pesan tersebut menjadi pengingat penting bahwa setiap individu memiliki kontribusi yang sama berharganya dalam mewujudkan target organisasi. Tidak ada peran yang lebih tinggi atau lebih rendah, karena setiap posisi memiliki fungsi strategis yang saling melengkapi.
Fokus pada Peran, Maksimalkan Tanggung JawabDalam arahannya, Dedi juga mengingatkan bahwa bekerja sama bukan berarti mencampuri tugas dan fungsi orang lain. Sebaliknya, kolaborasi yang efektif lahir ketika setiap individu memahami perannya dan menjalankan tanggung jawab secara maksimal.
Ia menggambarkan bagaimana seorang gelandang bertugas mengatur aliran permainan, pemain bertahan fokus menjaga lini belakang, sementara penjaga gawang tetap menjaga area pertahanan sebagai benteng terakhir tim.
Filosofi tersebut mencerminkan pentingnya profesionalisme dalam birokrasi, di mana setiap pegawai diharapkan mampu menjalankan tugas pokok dan fungsinya secara optimal demi tercapainya tujuan bersama.
Tiga Kunci Bekerja dengan Bahagia dan HarmonisSelain menekankan pentingnya kerja tim, Kabid Pendidikan Madrasah juga membagikan tiga prinsip sederhana yang dapat menciptakan lingkungan kerja yang sehat, nyaman, dan produktif.
Ketiga prinsip tersebut adalah:
Pesan tersebut mendapat perhatian khusus karena dinilai relevan dalam membangun budaya kerja yang positif, mengurangi konflik internal, serta memperkuat hubungan antarsesama pegawai.
Di tengah tantangan birokrasi yang semakin kompleks, lingkungan kerja yang harmonis menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan produktivitas dan kualitas pelayanan publik.
Pesan Bijak yang Menyentuh HatiMenjelang akhir arahannya, Dedi menyampaikan sebuah kutipan yang mengundang perenungan mendalam bagi seluruh peserta apel.
"Saya lebih memilih menjadi orang bodoh tetapi bisa menghargai dan memanusiakan manusia, daripada terlihat pintar tetapi merendahkan orang lain dan merasa diri paling tinggi."
Kalimat tersebut seketika menjadi pesan moral yang kuat tentang pentingnya kerendahan hati, empati, dan penghormatan terhadap sesama dalam kehidupan profesional maupun sosial.
Di tengah era yang sering mengedepankan kompetisi dan pencapaian individu, pesan tersebut mengingatkan bahwa nilai kemanusiaan tetap menjadi fondasi utama dalam membangun organisasi yang sehat dan berkelanjutan. (***)