MUARA BUNGO, bungopos.com -
Di tengah derasnya arus digital yang kerap menyita perhatian generasi muda, sebuah langkah inspiratif lahir dari kolaborasi antara pimpinan madrasah dan Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Daya Murni. Kamis siang, 6 Juni, menjadi momentum penting ketika kedua lembaga tersebut duduk bersama dalam sebuah pertemuan strategis untuk merumuskan masa depan pendidikan keagamaan yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Pertemuan yang dihadiri para Wakil Kepala Madrasah Bidang Kurikulum, Sarana Prasarana, dan Hubungan Masyarakat bersama jajaran PRNU Daya Murni itu tidak sekadar menjadi forum diskusi biasa. Lebih dari itu, pertemuan tersebut melahirkan sebuah komitmen bersama untuk membangun benteng moral dan spiritual bagi generasi muda melalui penguatan kegiatan keagamaan yang terintegrasi antara madrasah dan masyarakat.
Salah satu terobosan utama yang disepakati adalah pelaksanaan Gerakan Mengaji Antara Magrib dan Isya atau Magrib Mengaji. Program ini hadir sebagai jawaban atas berbagai tantangan yang dihadapi anak-anak dan remaja saat ini, khususnya pengaruh negatif penggunaan gawai yang berlebihan serta minimnya aktivitas keagamaan pada waktu-waktu krusial setelah senja.
Melalui Magrib Mengaji, masjid dan musala kembali dihidupkan sebagai pusat pembelajaran Al-Qur’an. Tradisi yang dahulu menjadi denyut kehidupan masyarakat muslim ini diharapkan kembali tumbuh dan menjadi budaya yang melekat dalam keseharian para siswa. Dengan mengisi waktu antara magrib dan isya untuk membaca serta mempelajari Al-Qur’an, generasi muda tidak hanya memperoleh ilmu agama, tetapi juga membangun kedisiplinan, ketenangan jiwa, dan karakter yang kuat.
Tak hanya itu, pertemuan tersebut juga memberikan perhatian serius terhadap penguatan Program Tahfidz Al-Qur’an. PRNU Daya Murni menyatakan komitmennya untuk mendukung program ini melalui pendampingan ustaz dan ustazah yang kompeten, serta melakukan monitoring hafalan siswa hingga ke lingkungan rumah. Pendekatan ini menjadi bukti bahwa pendidikan Al-Qur’an bukan hanya tanggung jawab madrasah, melainkan juga tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat, dan organisasi keagamaan.
Wakil Kepala Madrasah Bidang Kurikulum menegaskan bahwa keberhasilan program tahfidz memerlukan sinergi yang kuat antara pembelajaran di sekolah dan pembiasaan di luar sekolah. Menurutnya, integrasi tersebut akan menciptakan ekosistem pendidikan yang mampu menjaga konsistensi hafalan dan meningkatkan kualitas pemahaman keagamaan siswa.
Sementara itu, dari sisi fasilitas, Wakil Kepala Bidang Sarana Prasarana menyampaikan kesiapan madrasah dalam menyediakan berbagai kebutuhan pendukung, mulai dari ruang belajar hingga perlengkapan mengaji. Langkah ini menunjukkan bahwa komitmen terhadap pendidikan karakter tidak hanya diwujudkan melalui program, tetapi juga melalui penyediaan sarana yang memadai.
Di bidang hubungan masyarakat, kolaborasi ini dinilai sebagai jembatan yang memperkuat hubungan antara madrasah, orang tua, dan masyarakat Nahdliyin. Ketika seluruh elemen pendidikan bergerak dalam satu visi yang sama, maka proses pembentukan karakter anak akan berlangsung lebih efektif dan berdampak luas.
Ketua PRNU Daya Murni, Abdul Haq Assyafi, menyambut antusias kerja sama tersebut. Menurutnya, sinergi antara lembaga pendidikan formal dan struktur NU di tingkat ranting merupakan langkah strategis dalam mencetak generasi Qur’ani yang tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga kokoh dalam akhlak dan spiritualitas.
“Pendidikan terbaik adalah pendidikan yang melibatkan seluruh unsur masyarakat. Ketika madrasah, keluarga, dan organisasi keagamaan berjalan bersama, maka kita sedang menyiapkan generasi yang siap menghadapi masa depan tanpa kehilangan nilai-nilai keislamannya,” ujarnya.
Kemitraan antara madrasah dan PRNU Daya Murni ini menjadi contoh nyata bagaimana kolaborasi lokal dapat melahirkan gerakan besar yang berdampak bagi masa depan bangsa. Di tengah berbagai tantangan zaman, langkah sederhana berupa menghidupkan kembali tradisi mengaji dan memperkuat tahfidz Al-Qur’an sesungguhnya adalah investasi peradaban yang nilainya jauh melampaui batas waktu.
Dari Daya Murni, sebuah pesan penting kembali digaungkan: membangun generasi unggul tidak cukup hanya dengan kecerdasan akademik, tetapi harus ditopang oleh kekuatan iman, akhlak, dan kedekatan dengan Al-Qur’an. Melalui Magrib Mengaji dan penguatan Tahfidz Al-Qur’an, harapan itu kini mulai diwujudkan menjadi gerakan nyata. (***)