DI ARAFAH : Jutaan jamaah haji Indonesia menjemput kemabruran

Di Tengah Panas, Jutaan Jemaah Haji Indonesia Menjemput Kemabruran Mulai ke Arafah

MAKKAH, bungopos.com  - Di bawah langit Makkah yang mulai memanas menjelang siang, ribuan bus perlahan bergerak meninggalkan hotel-hotel pemondokan jemaah Indonesia. Tidak ada hiruk-pikuk seperti perjalanan biasa. Yang terdengar justru lantunan talbiyah, doa-doa lirih, serta wajah-wajah yang menyimpan harapan panjang sejak bertahun-tahun lalu.

Hari itu, Senin 25 Mei 2026 atau 8 Dzulhijjah 1447 Hijriah, menjadi awal dari perjalanan paling sakral dalam ibadah haji: bergerak menuju Arafah.

Di kota suci yang menjadi titik temu umat Islam dunia itu, jutaan manusia bersiap memasuki fase Armuzna—Arafah, Muzdalifah, dan Mina—fase yang bukan hanya menguras tenaga, tetapi juga mengguncang batin. Sebab di Arafah, manusia datang bukan membawa jabatan, kekayaan, atau kebesaran dunia. Mereka datang hanya dengan pakaian ihram dan pengakuan paling sederhana: sebagai hamba.

Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah, Maria Ulfa Assegaf, menyebut pergerakan jemaah menuju Arafah dilakukan secara bertahap demi memastikan seluruh proses berjalan aman dan tertib.

“Tahap ini adalah fase yang sangat penting dan membutuhkan kesiapan fisik, mental, serta kedisiplinan seluruh jemaah,” ujarnya.

Perjalanan menuju Arafah bukan sekadar perpindahan lokasi. Ia adalah perjalanan spiritual yang telah menunggu jutaan air mata, doa, dan penantian panjang. Banyak di antara jemaah Indonesia yang harus menunggu belasan hingga puluhan tahun demi mendapatkan kesempatan berhaji. Ada yang menjual hasil kebun sedikit demi sedikit, ada yang menabung dari gaji kecil selama bertahun-tahun, dan ada pula yang datang dengan langkah renta, membawa sisa usia serta harapan agar dapat menyempurnakan rukun Islam terakhirnya.

Di dalam bus-bus menuju Arafah, suasana terasa berbeda. Sebagian jemaah memilih memperbanyak dzikir, sebagian lain menatap keluar jendela dengan mata berkaca-kaca. Gurun pasir yang terbentang luas seakan menjadi pengingat kecilnya manusia di hadapan Sang Pencipta.

Petugas haji Indonesia tampak sibuk memastikan setiap rombongan bergerak sesuai jadwal. Perjalanan dibagi dalam tiga gelombang keberangkatan: pagi, siang, dan sore waktu Arab Saudi. Disiplin menjadi kata kunci, sebab jutaan manusia bergerak hampir dalam waktu bersamaan.

Namun di tengah padatnya mobilitas, ada hal yang lebih besar daripada sekadar urusan teknis: menjaga kekhusyukan ibadah.

Karena itu, pemerintah terus mengingatkan jemaah untuk menjaga ketentuan ihram. Bagi laki-laki, tidak diperkenankan memakai pakaian berjahit yang membentuk tubuh atau menutup kepala dengan penutup yang melekat. Sementara perempuan diminta tidak mengenakan cadar maupun sarung tangan selama ihram berlangsung.

Tetapi sesungguhnya, ihram bukan hanya tentang pakaian. Ihram adalah latihan besar tentang pengendalian diri. Menahan amarah, menjaga ucapan, tidak menyakiti, dan membersihkan hati menjadi bagian penting dari perjalanan menuju kemabruran.

Di tengah suhu panas Makkah yang dapat menyentuh lebih dari 40 derajat Celsius, ketahanan fisik juga menjadi perhatian utama. Fase Armuzna dikenal sebagai puncak paling melelahkan dalam ibadah haji. Jemaah harus berpindah tempat dalam waktu relatif singkat dengan aktivitas yang padat.

Karena itu, imbauan sederhana seperti memperbanyak minum air putih, menggunakan payung, mengenakan masker, hingga membawa obat pribadi menjadi sangat penting. Di tanah suci, menjaga kesehatan bukan hanya kebutuhan pribadi, melainkan bagian dari ibadah itu sendiri.

Pemerintah Indonesia pun memperkuat layanan kesehatan dengan menyiagakan Pos Kesehatan Indonesia di Arafah dan Mina. Ratusan petugas Satgas Arafah ditempatkan di berbagai titik layanan untuk memastikan kebutuhan konsumsi, transportasi, akomodasi, hingga perlindungan jemaah berjalan maksimal.

Namun di atas semua sistem dan persiapan itu, ibadah haji tetaplah tentang kemanusiaan.

Tentang bagaimana seorang jemaah membantu rekannya yang kelelahan. Tentang tangan-tangan yang sigap menuntun lansia agar tidak terpisah dari rombongan. Tentang air minum yang dibagikan dengan tulus kepada sesama jemaah di tengah panas gurun yang membakar.

Di Arafah nanti, jutaan manusia akan berdiri di padang luas yang sama. Tidak ada perbedaan warna kulit, bahasa, ataupun status sosial. Semuanya melebur dalam satu panggilan: memenuhi undangan Allah.

Dan mungkin, di antara jutaan doa yang terangkat ke langit Arafah tahun ini, ada doa-doa sederhana dari jemaah Indonesia: memohon keluarga yang sehat, kehidupan yang berkah, negeri yang damai, serta akhir hidup yang husnul khatimah.

Sebab pada akhirnya, perjalanan haji bukan hanya tentang sampai di Tanah Suci. Tetapi tentang bagaimana manusia pulang dengan hati yang baru. (***)

Editor: Arya Abisatya
Sumber: https://haji.go.id/