ILUSTRASI : Sejarah banjir yang terus berulang

Banjir di Kabupaten Bungo, Pesan Alam Yang Terabaikan

MUARA BUNGO, bungopos.com - Air selalu menemukan jalannya. Dari hulu yang jauh di perbukitan hingga bermuara di sungai-sungai besar, aliran itu membawa kehidupan bagi masyarakat Kabupaten Bungo sejak dahulu kala. Namun, ketika hujan turun terlalu lama dan alam kehilangan keseimbangannya, air yang seharusnya menjadi sahabat berubah menjadi ancaman yang berulang.

Banjir di Kabupaten Bungo bukanlah cerita baru. Ia adalah sejarah panjang yang terus berulang dari generasi ke generasi. Warga yang tinggal di tepian Sungai Batang Bungo dan Sungai Batang Tebo memahami betul bagaimana derasnya air dapat mengubah suasana kampung hanya dalam hitungan jam. Rumah-rumah yang pagi harinya masih dipenuhi aktivitas, mendadak harus ditinggalkan karena air mulai naik perlahan hingga mencapai lutut, pinggang, bahkan atap rumah.

Catatan sejarah menunjukkan bahwa banjir besar pernah melanda wilayah Jambi, termasuk daerah aliran sungai di Bungo, pada tahun 1955. Kala itu, sebagian besar kawasan terdampak akibat menurunnya fungsi daerah aliran sungai. Peristiwa tersebut menjadi salah satu banjir historis yang masih dikenang oleh para orang tua di kampung-kampung sepanjang aliran sungai.

Waktu berganti, tetapi banjir tetap datang.

Pada Desember 2012, Sungai Batang Bungo kembali meluap. Sebanyak 2.383 rumah terendam. Empat tahun berselang, tepatnya April 2016, banjir bandang datang lebih ganas. Air bah menerjang permukiman warga, merendam 2.820 rumah, merusak puluhan rumah lainnya, bahkan menghanyutkan ternak milik masyarakat.

Awal tahun 2022 menjadi masa sulit berikutnya. Sebanyak 12 kecamatan terdampak banjir dan lebih dari 4.000 keluarga harus berhadapan dengan genangan air yang tak kunjung surut. Lalu pada Februari 2024, intensitas hujan tinggi menyebabkan Sungai Batang Uleh meluap dan merendam ratusan rumah warga.

Kini, tahun 2026 kembali mencatat luka yang sama.

Namun sesungguhnya, banjir bukan hanya tentang hujan deras. Alam memang memiliki siklusnya sendiri, tetapi manusia juga memiliki andil besar dalam menentukan apakah air tetap terkendali atau berubah menjadi bencana.

Alih fungsi lahan menjadi perkebunan, pembabatan hutan di daerah hulu, hingga pendangkalan sungai perlahan mengurangi kemampuan alam menyerap air. Hutan yang dahulu menjadi penyangga kini semakin terbuka. Tanah kehilangan daya ikatnya. Ketika hujan turun dengan intensitas tinggi, air tak lagi terserap sempurna dan akhirnya meluap ke permukiman warga.

Ironisnya, masyarakat sebenarnya telah memberi banyak pelajaran tentang bagaimana hidup berdampingan dengan alam. Orang-orang tua dahulu menjaga kawasan hulu, memelihara pepohonan di sekitar sungai, dan memahami tanda-tanda alam sebelum banjir datang. Mereka tahu bahwa sungai bukan sekadar aliran air, tetapi nadi kehidupan yang harus dihormati.

Peristiwa demi peristiwa seharusnya menjadi pengingat bahwa penanganan banjir tidak cukup hanya saat air datang. Kabupaten Bungo membutuhkan langkah jangka panjang: menjaga kawasan hulu, memperbaiki fungsi daerah aliran sungai, menghentikan kerusakan hutan, serta membangun kesadaran bersama bahwa alam bukan warisan yang bisa dihabiskan sesuka hati.

Sebab jika alam terus kehilangan ruang bernapas, maka banjir akan terus menjadi sejarah yang berulang. Dan di balik setiap genangan air yang datang, sesungguhnya alam sedang mengirim pesan agar manusia kembali belajar menjaga keseimbangan. (***)

Editor: Arya Abisatya
Sumber: https://disasterchannel.co/