ILUSTRASI : Anak-anak yang tidak konsentrasi

Anak Anda Sering Lupa dan Susah Fokus, Itu Pertanda Gejala Penderita Penyakit Ini

JAMBI, bungopos.com - Kasus gangguan pemusatan perhatian dan perilaku yang umum atau ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) yang terjadi pada anak-anak terus meningkat. Meski kondisi gangguan ini terjadi pada anak-anak, namun dapat berlanjut hingga usia dewasa. Hal ini kerap kali tidak disadari oleh orang awam dan bisa mengganggu produktivitas sehari-hari.

Pada orang dewasa, gejala ini biasanya muncul dalam bentuk yang samar, akan tetapi tetap saja mereka yang mengalami gejala ini akan mengalami kesulitan untuk fokus, kesulitan mengelola waktu, dan sulit mengendalikan emosi sehingga dapat mengganggu produktivitas sehari-hari.

Psikolog dari Fakultas Psikologi UGM, Diana Setiyawati, S.Psi., MHSc., Ph.D., Psikolog mengatakan ADHD pada orang dewasa terjadi akibat terlambat didiagnosis karena sering menganggap gejala bagi penderita ADHD ini tidak terlalu mengganggu. Apalagi masih ada stigma yang mengatakan bahwa orang dengan ADHD terlihat baik-baik saja, padahal sebenarnya mungkin mereka sedang melawan kondisi yang dialami tersebut.

“Memang ADHD nggak terlalu mengganggu dan sering dianggap baik-baik saja, tapi sebenarnya mungkin dia tengah struggle (berjuang) atau mengalami kondisi tidak produktif dalam hidup,” terangnya, Jumat (17/4).

Lebih jauh, Diana menerangkan bahwa jika hal ini tidak segera teratasi akan menimbulkan dampak bagi penderitanya. Mereka akan mengalami kondisi tidak produktif, sehingga banyak hal yang tidak dapat dilakukan. Para penderita dari gejala ADHD akan kerap menjadi pelupa dan sulit untuk berkonsentrasi dalam mengerjakan sesuatu. Bahkan dampak dari gejala ADHD dapat menyebabkan mengalami underachiever. Ia menegaskan bahwa kondisi tersebut sudah pasti dialami oleh orang dengan gangguan mental.

“Salah satu ciri mental illness adalah tidak produktif karena sering pelupa dan susah fokus,” jelasnya.

Meskipun begitu, Diana mengungkapkan penderita ADHD pada orang dewasa tentu masih bisa disembuhkan. Bagi Diana, melalui pendekatan terapi atau psikiater dengan saran konsumsi obat untuk menjaga fokus, gejala ini perlahan dapat disembuhkan. Namun, ia menegaskan bahwa untuk mengatasi hal tersebut utamanya datang dari manajemen diri yang didampingi psikolog atau psikiater.

“Sebenarnya sih cara yang paling efektif adalah dari kesadaran untuk bisa me-manage diri me-manage distraksi. Ini perlu terapi dan perlu multidisiplin antara psikiater dan psikolog,” terangnya. (***)

Editor: Arya Abisatya
Sumber: https://ugm.ac.id/