ILUSTRASI : Konsumsi buah kurma

Anda Ingin Selalu Sehat, Yuk Ikuti "Terapi Kurma", Begini Manfaatnya

JAMBI, bungopos.com - Di tengah berbagai metode pengobatan yang berkembang, “terapi kurma” sebenarnya paling tepat dipahami sebagai terapi gizi. Ia bukan pengganti obat, tetapi sahabat alami bagi tubuh yang membutuhkan energi dan nutrisi. Kurma adalah salah satu anugerah alam yang padat manfaat: dalam setiap butir kecilnya tersimpan energi, serat, serta mineral penting yang membantu tubuh tetap kuat menjalani aktivitas.

Dalam sekitar 100 gram kurma Deglet Noor, terkandung kurang lebih 282 kalori energi, 75 gram karbohidrat, gula alami sekitar 63,4 gram, serta 8 gram serat. Kurma juga menyimpan berbagai mineral penting seperti kalium 656 mg, magnesium 43 mg, kalsium 39 mg, dan zat besi sekitar 1 mg. Angka-angka ini menyampaikan satu pesan sederhana namun penting: kurma adalah “bahan bakar cepat” bagi tubuh sekaligus paket mikro-nutrien yang menyehatkan.

Namun kebijaksanaan dalam memahami kurma juga penting. Kurma bukanlah satu-satunya sumber yang mampu memperbaiki kekurangan nutrisi berat. Ia bekerja paling baik ketika menjadi bagian dari pola makan yang seimbang, bukan dijadikan “ramuan tunggal” yang diharapkan menyelesaikan semua masalah kesehatan.

Ketika berbicara tentang anemia, terutama anemia akibat kekurangan zat besi, kurma bisa menjadi pendamping yang cerdas, tetapi bukan solusi tunggal. Zat besi dalam kurma memang ada, namun jumlahnya relatif moderat. Dalam dunia kesehatan, yang menentukan bukan hanya berapa banyak zat besi yang kita makan, tetapi berapa banyak yang benar-benar diserap oleh tubuh.

Di sinilah seni sederhana dari terapi kurma dimulai. Kurma akan bekerja lebih baik bila dipadukan dengan makanan yang kaya vitamin C, karena vitamin C dikenal mampu meningkatkan penyerapan zat besi dari makanan. Kombinasinya pun sangat mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari:

  • kurma dengan jeruk,
  • kurma dengan jambu biji,
  • atau kurma dengan kiwi.

Perpaduan kecil ini dapat membantu tubuh memaksimalkan manfaat nutrisi yang masuk.

Namun ada satu hal yang sering luput dari perhatian. Teh, kopi, dan minuman tinggi polifenol dapat menghambat penyerapan zat besi dari makanan. Karena itu, jika tujuan kita adalah membantu mengatasi anemia, sebaiknya minuman seperti teh hijau atau kopi tidak diminum bersamaan dengan kurma atau suplemen zat besi. Berikan jeda waktu sekitar satu hingga dua jam, agar tubuh memiliki kesempatan menyerap nutrisi secara optimal.

Dengan cara yang bijak seperti ini, kurma menjadi jembatan energi dan kesehatan. Tubuh tidak mudah lemas, nafsu makan lebih stabil, dan aktivitas sehari-hari dapat dijalani dengan lebih baik. Namun satu hal yang tidak boleh dilupakan: penyebab anemia tetap harus dicari secara medis.

Anemia bisa terjadi karena banyak hal—mulai dari perdarahan haid yang berlebihan, infeksi cacing, peradangan kronis, hingga kekurangan asam folat atau vitamin B12. Di sinilah peran tenaga medis menjadi sangat penting untuk menemukan akar masalahnya.

Akhirnya, kurma mengajarkan kita sebuah pelajaran sederhana tentang kesehatan: alam menyediakan nutrisi, ilmu pengetahuan memberikan arah, dan kebijaksanaan membantu kita memadukan keduanya. Kurma membantu tubuh kita, sementara diagnosis dan pengobatan yang tepat memastikan kita benar-benar pulih. Dari perpaduan keduanya, lahirlah kesehatan yang lebih utuh dan bermakna. (***)

Editor: Arya Abisatya
Sumber: https://ayosehat.kemkes.go.id/