Halal bihalal keluarga besar Putra Jawa Kelahiran Sumatera (Pujakesuma) Jambi.(28/03)

Harmoni Budaya di Langit Selawat: Syahdu Halal Bihalal Pujakesuma Jambi di Banjuran Budayo

JAMBI, Bungopos.com — Guratan sejarah dan hangatnya persaudaraan melebur menjadi satu di bawah atap Banjuran Budayo, Kota Jambi. Pada Sabtu pagi yang cerah, mulai pukul 08.00 WIB, ratusan pasang mata dari keluarga besar Putra Jawa Kelahiran Sumatera (Pujakesuma) Jambi berkumpul dalam satu ikatan batin yang suci: Halal Bihalal 1447 H.(28/03)

Acara yang berlangsung khidmat ini bukan sekadar pertemuan rutin, melainkan sebuah manifestasi dari pepatah "Rukun Agawe Santoso" yang dibalut dengan nafas religiusitas yang kental.

Getar Selawat yang Membahana

Suasana sakral mulai terasa saat tim Bahagia Berselawat naik ke panggung. Lantunan selawat yang dibawakan oleh ibu-ibu Pujakesuma ini membahana, menyentuh sudut-sudut kalbu setiap hadirin. Suara merdu yang apik berpadu dengan tabuhan rebana menciptakan harmoni yang mengharukan, seolah membawa pesan kedamaian bagi seluruh bumi Jambi.

Lantunan selawat ini menjadi pengingat bahwa di balik keberagaman suku dan budaya, cinta kepada Rasulullah ﷺ adalah simpul mati yang menyatukan segalanya.

Sinergi Pemimpin dan Rakyat

Kemuliaan acara ini kian lengkap dengan kehadiran para tokoh penting. Walikota Jambi hadir bersama Ibu Ketua TP PKK Kota Jambi, membawa semangat pengayoman bagi seluruh warga. Tak ketinggalan, Ketua Baznas Kota Jambi turut hadir memberikan warna spiritual dan kepedulian sosial dalam majelis tersebut.

Kehadiran jajaran pejabat dari Dinas Pendidikan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), serta beberapa Kepala OPD lainnya menunjukkan bahwa sinergi antara pemerintah dan komunitas adat/budaya merupakan kunci pembangunan daerah yang harmonis.

Dalam sambutannya, para pimpinan memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Pujakesuma yang terus konsisten menjaga kerukunan. Motivasi yang disampaikan menghujam pembaca tentang pentingnya menjaga identitas budaya tanpa melupakan kewajiban sebagai warga masyarakat yang religius dan taat aturan.

Tinjauan Syariat: Merajut Kembali yang Sempat Terurai

Halal Bihalal ini tegak berdiri di atas landasan teologis yang sangat kuat, menjadikannya sebuah ibadah sosial yang tak ternilai:

 * Al-Qur'an: Allah ﷻ berfirman dalam QS. Al-Hujurat: 10, "Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu..." Pertemuan di Banjuran Budayo ini adalah wujud nyata dari upaya mendamaikan hati dan mempererat persaudaraan.

 * Hadits: Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ, "Tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga malam." (HR. Bukhari). Momen ini menjadi penghapus sekat-sekat khilaf yang mungkin muncul selama setahun terakhir.

 * Ijma' (Konsensus): Para ulama menyepakati bahwa meminta maaf secara langsung (tabayyun) adalah cara terbaik untuk menggugurkan dosa antar sesama manusia, karena Allah tidak akan mengampuni dosa kepada manusia sebelum manusia itu sendiri saling memaafkan.

 * Qiyas (Analogi): Halal Bihalal di-qiyas-kan dengan prosesi pembersihan diri. Jika mandi wajib membersihkan hadas besar secara fisik, maka Halal Bihalal adalah "mandi batin" yang membersihkan noda-noda dengki dan kesombongan dari dalam dada.

Penutup

Ketika acara berakhir, wajah-wajah haru dan senyum tulus merekah di antara ratusan anggota dan simpatisan Pujakesuma. Mereka pulang tidak hanya membawa kenangan akan lezatnya hidangan atau merdunya selawat, tetapi membawa semangat baru untuk membangun Kota Jambi dengan hati yang bersih.

Banjuran Budayo menjadi saksi bahwa di tanah Jambi, adat bersendi syarak, dan syarak bersendi Kitabullah, benar-benar hidup dalam setiap helaan nafas warganya.(*)

Penulis: Linnaliska
Editor: Linnaliska