Mohd Haramen

PUASA KE XX : Air Mata Langit

Oleh : Mohd Haramen, S.E, M.E.Sy

DI SEBUAH kota kecil yang sunyi, hiduplah seorang ulama sufi bernama Syekh Abdul Qadir. Hidupnya sederhana, bahkan sangat sederhana. Namun hatinya dipenuhi cahaya yang tidak terlihat oleh mata manusia.

Setiap malam, ketika manusia terlelap dalam mimpi, ia berdiri sendirian di atas sajadahnya. Lampu minyak kecil menjadi satu-satunya cahaya yang menemani. Tidak ada pujian manusia, tidak ada tepuk tangan, tidak ada yang menyaksikan selain Allah.

Di saat itulah ia menangis.

Tangisnya bukan karena kehilangan dunia. Bukan pula karena luka dari manusia. Ia menangis karena satu hal yang paling ia takuti: hatinya tidak lagi murni di hadapan Allah.

Bagi Syekh Abdul Qadir, yang paling menakutkan bukanlah kemiskinan, bukan pula penderitaan, tetapi ketika hati menjadi keras dan lupa kepada Sang Pencipta.

Suatu hari, seorang fakir tua datang ke rumahnya. Tubuh lelaki itu gemetar menahan lapar. Wajahnya pucat, langkahnya tertatih.

Tanpa berpikir panjang, Syekh Abdul Qadir mengambil satu-satunya roti yang ia miliki dan memberikannya kepada lelaki tua itu.

Seorang murid yang melihat peristiwa itu terkejut. Dengan penuh keheranan ia berkata,

“Wahai Guru, bukankah engkau juga belum makan sejak kemarin?”

Syekh Abdul Qadir tersenyum lemah. Matanya berkaca-kaca. Lalu ia berkata dengan suara yang lembut namun penuh makna:

“Anakku… aku lebih takut lapar di akhirat daripada lapar di dunia. Jika roti ini bisa menjadi saksi bahwa aku pernah peduli kepada hamba Allah yang lain, maka biarlah perutku kosong… asalkan hatiku kenyang dengan ridha-Nya.”

Malam itu ia kembali berdiri dalam shalat. Tubuhnya lemah. Perutnya kosong. Namun jiwanya terasa penuh.

Pada sujud terakhir, ia menangis lebih lama dari biasanya. Air matanya jatuh di atas sajadah, membentuk noda yang seakan tak pernah benar-benar kering.

Dengan suara terbata, ia berbisik kepada Tuhannya:

“Ya Rabb… aku tidak membawa emas, tidak membawa istana, tidak membawa kebesaran. Aku hanya membawa hati yang rapuh ini. Jika Engkau menolakku… ke mana lagi aku harus pulang?”

Tak lama setelah malam itu, Syekh Abdul Qadir jatuh sakit. Hari-harinya semakin lemah. Murid-muridnya berkumpul di sekelilingnya pada saat-saat terakhir hidupnya.

Dengan napas yang tersisa, ia berpesan:

“Jangan bangga dengan ibadahmu. Jangan merasa suci dengan amalmu. Menangislah di hadapan Allah… karena air mata orang yang menyesal lebih dicintai-Nya daripada kesombongan orang yang merasa saleh.”

Lalu senyum tipis terukir di wajahnya.

Air mata terakhir mengalir dari sudut matanya… dan pada saat itulah ruhnya kembali kepada Sang Pemilik Hidup.

Rasulullah SAW pernah bersabda:

“Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis karena takut kepada Allah sampai susu yang telah diperah bisa kembali ke tempat keluarnya.”
(HR. Tirmidzi)

Dalam hadis lain disebutkan:

“Ada dua mata yang tidak akan tersentuh api neraka: mata yang menangis karena takut kepada Allah, dan mata yang berjaga di malam hari menjaga kaum muslimin.”
(HR. Tirmidzi)

Karena itu para ulama mengatakan, air mata karena Allah bukanlah tanda kelemahan, melainkan tanda hidupnya hati.

Terlebih pada malam-malam terakhir Ramadhan. Malam-malam yang mungkin di dalamnya tersimpan Lailatul Qadar, malam yang lebih baik daripada seribu bulan.

Para ulama menyebutkan bahwa salah satu tanda seseorang mendapatkan malam kemuliaan itu adalah hatinya menjadi lembut, kulitnya merinding, dan air matanya mengalir tanpa ia sadari. Tangisan itu bukan sekadar emosi, tetapi getaran jiwa yang menyadari betapa kecilnya diri di hadapan Allah.

Dikatakan pula bahwa pada malam itu malaikat turun membawa ketenangan. Bahkan malaikat Jibril menyapa hamba-hamba yang sedang beribadah dengan penuh khusyuk. Tangisan yang jatuh di sajadah bisa menjadi saksi bahwa seorang hamba sedang mengetuk pintu ampunan Tuhannya.

Maka di sepuluh malam terakhir Ramadhan, jangan hanya memperbanyak kata dalam doa. Biarkan hati ikut berbicara.

Jika mata terasa basah saat sujud, jangan ditahan.
Jika dada terasa sesak karena menyesal atas dosa, jangan disembunyikan.

Sebab mungkin saja satu tetes air mata di hadapan Allah lebih bernilai daripada ribuan kata yang kita ucapkan. Karena pada akhirnya, yang menyelamatkan manusia bukanlah seberapa banyak ia dipuji di dunia, tetapi seberapa tulus ia menangis di hadapan Tuhannya.

(Penulis adalah Wakil Ketua I Baznas Kabupaten Batang Hari bidang penghimpunan Zakat, Infaq dan Sedekah) 

Penulis: Mohd Haramen
Editor: arya abisatya