MUARA BULIAN, bungopos.com — Di antara puing-puing kayu yang menghitam dan sisa atap yang roboh, harapan itu kembali dinyalakan. Ketua Badan Amil Zakat Nasional Kabupaten Batang Hari, H. Muslim M.Sy, menyerahkan langsung bantuan kepada korban kebakaran, Leni Marlina—yang akrab disapa Maklen—di desa Suka Ramai, Kecamatan Muara Tembesi, Kabupaten Batang Hari.
Musibah kebakaran tersebut terjadi pada Sabtu, 28 Februari 2026, sekitar pukul 11.30 WIB. Rumah semi permanen milik Maklen yang juga menjabat sebagai Ketua BPD di desa Suka Ramai itu hangus terbakar saat dalam keadaan kosong. Saat api melalap bangunan, Maklen tengah pergi berbelanja ke pasar untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga menjelang bulan suci Ramadan.
Dalam hitungan menit, kobaran api membesar dan menghanguskan hampir seluruh bagian rumah. Tak ada harta benda yang berhasil diselamatkan. Yang tersisa hanyalah pakaian di badan dan keteguhan hati untuk menerima takdir.
Kehadiran BAZNAS Batang Hari bukan sekadar membawa bantuan materi, tetapi juga menghadirkan empati. H. Muslim M.Sy menyampaikan bahwa musibah adalah ujian, namun di dalamnya selalu ada ruang bagi kebaikan untuk tumbuh.
“Kita tidak pernah berharap musibah terjadi. Tapi ketika itu datang, kita harus memastikan saudara kita tidak merasa sendirian,” ujarnya dengan penuh kehangatan.
Bantuan yang diserahkan diharapkan dapat meringankan beban Maklen dan keluarga, terutama dalam Ramadan ini. Momentum ini menjadi pengingat bahwa zakat, infak, dan sedekah yang dihimpun dari masyarakat benar-benar kembali kepada masyarakat yang membutuhkan.
Maklen, dengan mata berkaca-kaca, mengucapkan terima kasih atas perhatian dan kepedulian yang diberikan Baznas. Baginya, bantuan tersebut bukan hanya soal nilai rupiah, tetapi tentang rasa dihargai dan diperhatikan.
Di desa Suka Ramai, abu kebakaran itu memang masih terlihat. Namun di baliknya, tersimpan cerita tentang kemanusiaan—tentang bagaimana lembaga zakat, pemerintah daerah, dan masyarakat dapat bergandengan tangan menghadirkan cahaya di tengah gelapnya musibah. Karena sejatinya, di setiap ujian selalu ada ruang bagi kepedulian untuk tumbuh. Dan di Batang Hari, kepedulian itu nyata adanya. (***)