Mohd Haramen

PUASA KE XIII : Sedekah Tinta

oleh : Mohd Haramen, S.E, M.E.Sy

DALAM sejarah Islam, kita mengenal sosok agung bernama Imam al-Ghazali, seorang ulama besar yang dijuluki Hujjatul Islam. Ia bukan hanya seorang ahli fikih, sufi, dan filsuf, tetapi juga manusia yang hatinya dipenuhi kasih sayang.

Suatu ketika, saat beliau sedang tekun menulis kitab,   beliau mencelup penanya berulang-ulang ke dalam tinta. Lalu terbanglah seekor lalat dan hinggap di mangkuk tintanya. Lalat itu tampak kehausan dan mulai meminum tinta tersebut. Beliau membiarkan lalat itu minum.

Dalam hatinya terlintas, “Lalat juga makhluk Allah yang harus diberikan kasih sayang.”

Di situlah letak kemuliaan yang sering tak kita sadari. Kebaikan bukan hanya pada perkara besar, tetapi pada sikap kecil yang lahir dari hati yang lembut.

Dikisahkan, setelah beliau wafat, seorang sahabatnya bermimpi bertemu dengannya. Dalam mimpi itu, Imam al-Ghazali menyampaikan bahwa Allah menempatkannya di surga.

Kisah ini mengajarkan bahwa kemanusiaan adalah fondasi spiritualitas. Ilmu tanpa kasih sayang hanyalah tulisan kering. Ibadah tanpa empati hanyalah rutinitas.  Apalagi di bulan Ramadhan ini.

Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia adalah madrasah kasih sayang. Di bulan ini, pahala dilipatgandakan. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

“Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji…” (QS. Al-Baqarah: 261)

Terkait dengan jumlah sedekah, tidak ada batasannya. Bahkan Rasulullah pernah mengingatkan:

Bentengilah dirimu dari api neraka walau hanya dengan sebiji kurma.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Artinya, sekecil apa pun kebaikan itu, ia memiliki nilai di sisi Allah.

Imam al-Ghazali mengajarkan kepada kita bahwa rahmat itu tidak memilih objek. Ia mengalir kepada siapa saja, manusia, hewan, bahkan makhluk kecil yang sering kita abaikan.

Humanisme dalam Islam bukan konsep kosong. Ia adalah tindakan nyata. Senyum kepada tetangga. Memberi makan yang lapar. Menahan amarah. Membiarkan makhluk kecil minum. Itu adalah konsep kasih sayang dalam Islam.

Semoga Ramadhan ini menjadikan kita bukan hanya orang yang rajin beribadah, tetapi juga manusia yang lembut hatinya. Karena bisa jadi, satu sedekah kecil, satu empati yang tulus, atau satu kebaikan yang tak dianggap siapa pun, justru menjadi alasan Allah menempatkan kita di tempat terbaik di surga.

 

(Penulis adalah Wakil Ketua I Baznas Kabupaten Batang Hari, bidang penghimpunan Zakat, Infaq dan Sedekah)

Penulis: Mohd Haramen
Editor: arya abisatya