Mohd Haramen

PUASA KE XII : Syukur dan Sabar

Oleh : Mohd Haramen, S.E, M.E.Sy

Dalam karya monumentalnya, al-Tafsir al-Kabir atau Mafatih al-Ghaib, Fakhruddin al-Razi (w. 606 H) tidak hanya menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan kedalaman intelektual, tetapi juga menghadirkan kisah-kisah yang menggugah kesadaran jiwa. Salah satunya adalah cerita tentang seorang perawi hadis dan penyair bernama Imran bin Hiththan, yang dikenal pula sebagai Imran al-Khawariji.

Imran bukan lelaki rupawan. Namun ia menikahi seorang wanita yang sangat cantik dari kalangan Khawarij bernama Hamnah. Kecantikan dan pengaruh istrinya membuat Imran berubah haluan; dari seorang Sunni menjadi simpatisan Khawarij, bahkan memuji kelompok tersebut dalam syair-syairnya.

Suatu hari, Hamnah berkata dengan penuh percaya diri kepada suaminya:

“Aku dan dirimu sama-sama di jannah. Engkau memperoleh nikmat (istri cantik) lalu bersyukur, sementara aku diuji (bersuami yang buruk rupa) dan aku bersabar.”

Kalimat itu sederhana, namun mengandung samudera makna. Ia menyentuh satu hakikat besar dalam ajaran Islam: hidup adalah perpaduan antara nikmat dan ujian. Dan kunci keselamatannya ada pada dua sikap — sabar dan syukur.

Sebagaimana dijelaskan oleh Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin, iman terdiri dari dua bagian: separuhnya adalah sabar dan separuhnya lagi adalah syukur. Sabar menahan diri ketika diuji. Syukur menerima nikmat dengan kesadaran penuh. Keduanya menciptakan keseimbangan spiritual yang menyelamatkan manusia dari dua jurang: putus asa dan kesombongan.

Allah menegaskan kemuliaan sabar dalam Al-Qur’an:

“…Mereka itulah yang diberi balasan dengan tempat yang tinggi (dalam surga), karena kesabaran mereka…”
(QS. Al-Furqan: 75)

Dan tentang syukur, Allah berfirman:

“Tidaklah Allah akan mengadzab kalian jika kalian bersyukur dan beriman. Dan sungguh Allah itu Syakir lagi Alim.”
(QS. An-Nisa: 147)

Sabar dan syukur bukan teori. Ia terasa sangat hidup di bulan Ramadhan.

Saat tenggorokan kering dan waktu berbuka masih lama, hawa nafsu terasa nyata. Saat tubuh lelah dan emosi mudah naik, keinginan membalas terasa spontan. Di situlah sabar bekerja. Ia bukan kelemahan. Ia adalah keputusan sadar untuk memberi ruang bagi iman agar lebih kuat daripada dorongan sesaat.

Puasa memperlihatkan wajah asli diri kita. Ternyata bukan hanya lapar yang harus ditahan, tetapi juga kata-kata, nada suara, bahkan cara memandang orang lain. Di era media sosial, satu komentar bisa memantik perdebatan panjang. Dalam kondisi normal saja kita mudah terpancing, apalagi saat energi menurun.

Ramadhan adalah ujian yang sunyi. Pertarungannya tidak terlihat, tetapi sangat nyata. Siapa yang menang dalam percakapan batinnya, dialah yang sedang belajar sabar menurut makna Al-Ghazali.

Namun Ramadhan bukan hanya tentang menahan. Ia juga tentang menyadari.

Kita baru merasakan betapa berharganya seteguk air setelah seharian menahan haus. Kita baru memahami nikmatnya sebutir kurma setelah perut kosong sejak fajar. Allah mengingatkan:

“Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.”

Syukur membuat kita melihat bahwa yang kecil pun adalah besar. Bahwa yang biasa pun adalah luar biasa.

Ngaji sabar dan syukur menemukan ruang latihannya dalam Ramadhan. Setiap rasa lapar adalah latihan menguatkan dorongan agama. Setiap momen berbuka adalah latihan menyadari nikmat. Sabar menjaga hati agar tidak pecah oleh tekanan. Syukur menjaga jiwa agar tidak kosong oleh kelimpahan.

Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar sampai magrib. Ia tentang membentuk karakter sampai akhir hayat. Jika sabar dan syukur tumbuh bersama, maka puasa tidak berhenti ketika adzan berkumandang. Ia berlanjut dalam cara kita berbicara, bekerja, memimpin, dan memperlakukan sesama.

Dan mungkin, seperti kata Hamnah kepada Imran, surga bukan hanya tentang rupa atau keadaan. Ia tentang bagaimana kita merespons takdir: dengan sabar ketika diuji, dan dengan syukur ketika diberi. (***)

(Penulis adalah Wakil Ketua I Baznas Kabupaten Batang Hari bidang penghimpunan Zakat, Infaq dan Sedekah)

Penulis: Mohd Haramen
Editor: arya abisatya