Oleh : Mohd Haramen, S.E, M.E.Sy
DI SEBUAH perjalanan yang sunyi dan terik, ada seorang lelaki yang hampir roboh karena kehausan. Tenggorokannya kering, langkahnya berat. Hingga akhirnya ia menemukan sebuah sumur. Ia turun, meminum airnya dengan penuh syukur, lalu naik kembali dengan tubuh yang mulai pulih.
Namun belum jauh ia melangkah, ia melihat seekor anjing menjulurkan lidahnya, menjilati debu karena kehausan yang amat sangat. Lelaki itu terdiam. Hatinya bergetar. Ia berkata dalam dirinya, “Anjing ini merasakan haus seperti yang tadi aku rasakan.”
Tanpa ragu ia turun kembali ke dalam sumur. Ia penuhi khuf-nya dengan air, menggigitnya agar bisa memanjat naik, lalu ia beri minum anjing itu. Tindakan kecil. Sunyi. Tanpa saksi manusia. Tapi Allah menjadi saksi.
Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa Allah mengampuni dosa lelaki itu karena kasih sayangnya kepada seekor anjing. Hadis ini diriwayatkan oleh Muhammad dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj.
Para sahabat pun bertanya, “Apakah kami mendapat pahala jika berbuat baik kepada hewan ternak kami?”
Beliau menjawab, “Pada setiap makhluk bernyawa, ada pahala.”
Betapa luasnya rahmat Allah. Betapa besar nilai sebuah kasih sayang.
Kasih sayang adalah sifat yang paling sering Allah perkenalkan tentang diri-Nya. Ar-Rahman. Ar-Rahim. Maka siapa yang tidak menyayangi manusia, tidak akan disayangi Allah. Pesan ini juga diriwayatkan oleh Al-Tabarani.
Artinya apa?
Ibadah bukan hanya tentang rukuk dan sujud. Bukan hanya tentang gelar haji, doktor, atau panjangnya doa. Ibadah adalah tentang hati yang hidup. Hati yang peka. Hati yang tidak tega melihat makhluk lain menderita.
Bulan Ramadhan adalah madrasah kasih sayang. Di bulan ini, pahala dilipatgandakan. Sedekah menjadi amalan utama. Bahkan Rasulullah ﷺ bersabda bahwa sedekah yang paling utama adalah sedekah di bulan Ramadhan (HR. Tirmidzi).
Ramadhan bukan sekadar menahan lapar. Ia adalah latihan merasakan lapar. Supaya kita paham derita orang lain. Supaya tangan kita ringan memberi. Supaya hati kita lembut.
Karena di sisi lain, ada kisah yang menggetarkan. Seseorang datang di hari kiamat dengan pahala shalat, puasa, zakat yang menggunung. Namun ia suka menghardik, menyakiti, merendahkan orang lain. Maka satu per satu pahalanya diambil untuk membayar dosa kepada sesama. Hingga habis. Bahkan dosa orang lain dipikulkan kepadanya.
Apa artinya?
Allah tidak hanya melihat seberapa banyak ibadah kita. Allah melihat bagaimana kita memperlakukan makhluk-Nya.
Almarhum Abdurrahman Wahid pernah berkata, “Sayangi apa yang ada di bumi, maka yang di langit akan menyayangimu.” Sebuah kalimat sederhana, tetapi dalam maknanya.
Hari ini mungkin kita rajin shalat. Mungkin kita rutin puasa. Mungkin kita bergelar sarjana, magister, bahkan doktor. Tetapi jika lisan kita tajam, hati kita keras, dan tangan kita ringan menyakiti, maka kita sedang membangun istana pahala yang rapuh.
Mari belajar dari lelaki yang memberi minum seekor anjing.
Ia tidak bertanya, “Apa untungnya bagiku?”
Ia hanya bertanya dalam hatinya, “Bagaimana jika aku di posisi makhluk itu?”
Ramadhan adalah momentum. Momentum untuk melembutkan hati. Momentum untuk memperbanyak sedekah. Momentum untuk menahan amarah. Momentum untuk memperbaiki akhlak.
Karena pada akhirnya, yang akan menyelamatkan kita bukan hanya banyaknya amal, tetapi kualitas rahmat dalam hati kita.
Semoga kita menjadi pribadi yang bukan hanya rajin beribadah, tetapi juga lembut dalam bersikap.
Semoga kita menjunjung tinggi kemuliaan akhlak, meskipun bergelar doktor.
Dan semoga setiap tetes kasih sayang yang kita berikan di bumi, menjadi sebab turunnya kasih sayang Allah dari langit.
(Penulis adalah Wakil Ketua I Baznas Batang Hari bidang Penghimpunan Zakat Infak dan Sedekah)