Hj. ERNAWATI, S.Ag., M.Pd Ketua Umum Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) Perwakilan Provinsi Jambi

Ramadhan, Kebaikan, dan Ukuran Kemuliaan Manusia

Oleh: Hj. ERNAWATI, S.Ag., M.Pd

Ketua Umum Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) Perwakilan Provinsi Jambi

Bulan suci Ramadhan selalu hadir sebagai momentum yang istimewa bagi umat Islam.

Ia bukan sekadar bulan ibadah ritual, melainkan bulan pendidikan jiwa, penguatan empati sosial, serta peneguhan kembali makna kemanusiaan. Dalam Ramadhan, umat Islam diajak untuk tidak hanya memperbaiki hubungan dengan Allah SWT (hablum minallah), tetapi juga memperdalam kepedulian terhadap sesama manusia (hablum minannas).

Dalam konteks inilah, Islam memberikan ukuran kemuliaan manusia yang sangat jelas dan relevan lintas zaman. Rasulullah SAW bersabda:

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad, Ath-Thabrani, dan Ad-Daruquthni)

Hadis ini bukan sekadar nasihat moral, melainkan fondasi etika sosial Islam. Ia menegaskan bahwa kualitas keimanan seseorang tidak hanya diukur dari panjangnya ibadah personal, tetapi dari sejauh mana keberadaannya memberi manfaat nyata bagi kehidupan orang lain. Ramadhan menjadi ruang paling tepat untuk menghidupkan spirit hadis ini dalam tindakan nyata.

Sedekah sebagai Jalan Kebermanfaatan Islam menempatkan sedekah sebagai ibadah yang memiliki dimensi spiritual dan sosial sekaligus. Sedekah tidak hanya membersihkan harta, tetapi juga membersihkan hati dari sifat kikir, egoisme, dan ketidakpedulian. Allah SWT berfirman:

“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada tiap-tiap tangkai ada seratus biji.” (QS. Al-Baqarah: 261)

Ayat ini menegaskan bahwa kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas tidak pernah berhenti pada satu titik. Ia berlipat ganda, mengalir, dan berdampak luas, baik bagi pemberi maupun penerima. Sedekah bukanlah pengurangan, melainkan penambahan—bukan hanya secara materi, tetapi juga secara batin dan sosial.

Rasulullah SAW bahkan menegaskan bahwa sedekah memiliki nilai yang lebih utama di bulan Ramadhan. Dalam sebuah hadis disebutkan: “Sedekah yang paling utama adalah sedekah di bulan Ramadhan.”(HR. At-Tirmidzi)

Ini menunjukkan bahwa Ramadhan bukan hanya waktu menahan lapar dan dahaga, tetapi momentum memperluas kasih sayang dan kepedulian sosial. Ramadhan Berbagi: Menghadirkan Islam yang Membumi Dalam realitas kehidupan masyarakat perkotaan, masih banyak kelompok rentan yang berjuang memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari: anak yatim, kaum dhuafa, santri, pekerja sektor informal seperti ojek online, hingga masyarakat sekitar masjid yang membutuhkan.  

Islam tidak memandang mereka sebagai objek belas kasihan, melainkan sebagai saudara seiman dan sesama manusia yang memiliki hak untuk dibantu. 

Atas dasar inilah, program “Ramadhan Berbagi 500 Porsi Setiap Hari” yang dilaksanakan oleh Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) Perwakilan Provinsi Jambi bekerja sama dengan Masjid Al-Hasanah menjadi ikhtiar kolektif untuk menghadirkan Islam yang membumi, nyata, dan menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat.

Program ini bukan sekadar kegiatan berbagi makanan berbuka puasa. Ia adalah simbol kepedulian, sarana memperkuat ukhuwah, serta bentuk dakwah bil hal—dakwah melalui perbuatan nyata. Sebab pada hakikatnya, dakwah tidak selalu harus disampaikan dengan mimbar dan kata-kata, tetapi juga melalui keteladanan dan tindakan sosial.

Allah SWT berfirman:

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 2)

Ayat ini menegaskan bahwa kebaikan sejati lahir dari kerja bersama, kolaborasi, dan gotong royong. Tidak ada kebaikan besar yang lahir dari sikap individualistis. Program Ramadhan Berbagi adalah wujud nyata dari semangat tolong-menolong dalam kebajikan tersebut.

Masjid sebagai Pusat Peradaban Sosial Dalam sejarah Islam, masjid tidak pernah hanya berfungsi sebagai tempat ibadah ritual. Masjid adalah pusat pendidikan, sosial, ekonomi, dan peradaban. Rasulullah SAW menjadikan Masjid Nabawi sebagai pusat penguatan umat, tempat menyelesaikan persoalan sosial, dan ruang berbagi untuk kaum fakir dan miskin. Semangat inilah yang ingin dihidupkan kembali melalui kegiatan Ramadhan Berbagi.

Masjid Al-Hasanah diharapkan tidak hanya ramai oleh shalat berjamaah, tetapi juga menjadi pusat kepedulian sosial, tempat bertemunya nilai ibadah dan kemanusiaan.

Ketika masyarakat melihat bahwa masjid hadir memberi solusi, berbagi makanan, dan menguatkan solidaritas sosial, maka kepercayaan publik terhadap masjid dan organisasi keumatan akan tumbuh dengan sendirinya. Inilah Islam yang ramah, menenangkan, dan relevan dengan realitas kehidupan. (*)

Penulis: Hj. Ernawati, S.Ag., M.Pd
Editor: Linnaliska