JAMBI, bungopos.com - Rebung atau bambu muda berpotensi menjadi alternatif pangan fungsional yang sehat. Apalagi rebung sudah menjadi bahan pangan yang sejak dahulu telah dimanfaatkan oleh masyarakat. Dalam tradisi Jawa, rebung digunakan sebagai isian lumpia, bahan sayur lodeh, hingga pengganti nangka pada sayur gudeg ketika nangka sulit didapatkan. Di kalangan masyarakat suku Rejang di Sumatra, rebung fermentasi sudah menjadi menu masakan khas masyarakat setempat. Dengan begitu, secara historis, rebung telah dikonsumsi turun-temurun menjadi bahan pangan yang digunakan secara berkelanjutan yang memiliki nilai gizi dan bermanfaat untuk kesehatan.
Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada, Prof. Agung Endro Nugroho, menyebutkan rebung memiliki dua komponen utama nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh yakni makronutrien dan mikronutrien. Dari makronutrien, rebung tergolong rendah kalori, rendah lemak, memiliki protein nabati, dan yang paling menonjol adalah kandungan seratnya yang tinggi. Kombinasi ini membuat rebung bermanfaat untuk menghambat absorbsi gula, membantu menurunkan kadar kolesterol, serta mengontrol kadar glukosa darah. “Indeks glikemiknya juga relatif rendah, sehingga aman dikonsumsi oleh penderita diabetes maupun individu dengan obesitas,” katanya, Selasa (3/2).
Kemudian dari sisi mikronutrien, rebung mengandung mineral penting seperti kalium dan magnesium, serta vitamin seperti vitamin B dan vitamin C. Kandungan ini mendukung fungsi tubuh secara umum dan memperkuat posisi rebung sebagai pangan fungsional. Selain itu, Ia juga menyebutkan dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa rebung mengandung senyawa fenolik dan flavonoid yang berperan sebagai antioksidan, serta fitosterol yang membantu menurunkan kadar kolesterol. “Senyawa-senyawa ini juga berpotensi bersifat antiinflamasi (antiradang),” katanya.
Meski begitu, Agung mengingatkan untuk mengolah rebung terlebih dahulu sebelum dikonsumsi. Secara ilmiah, rebung mengandung glikosida sianogenik, senyawa yang berpotensi menghasilkan hidrogen sianida. Namun, senyawa ini mudah rusak oleh pemanasan. “Dengan perebusan selama sekitar 10–15 menit, kemudian air rebusannya dibuang, senyawa berpotensi toksik tersebut dapat dieliminasi. Jadi, rebung aman dikonsumsi dengan catatan harus diolah terlebih dahulu dan tidak dikonsumsi mentah”, terangnya.
Agung menyebut terdapat pula penelitian yang menunjukkan bahwa senyawa dalam bambu, fenolik dan flavonoid, dapat menghambat pembentukan akrilamida dan furan, yaitu senyawa berpotensi berbahaya yang bisa muncul pada proses penggorengan atau pemanggangan suhu tinggi. “Fakta ini menunjukkan bahwa bambu, termasuk rebung, justru dapat berkontribusi membuat pangan lebih aman bila diolah dengan tepat,” paparnya.
Sebagai negara dengan sumber bambu yang sangat melimpah dan mudah tumbuh. Baik bambu dewasa maupun rebung memiliki manfaat masing-masing. Jika rebung dimanfaatkan secara optimal dengan pengolahan yang benar rebung berpotensi menjadi alternatif pangan fungsional yang sehat, rendah kalori, dan tinggi serat. Agung menyebut rebung berpotensi menjadi Superfood dimana bahan pangan ini padat gizi, memiliki efek kesehatan yang nyata, serta resiko yang relatif rendah. Dengan pendekatan yang tepat, rebung tidak hanya berperan dalam peningkatan kesehatan masyarakat, tetapi juga memiliki nilai ekonomi. “Kuncinya adalah pengolahan yang benar, edukasi kepada masyarakat, dan pemanfaatan yang sesuai kaidah ilmiah”, pungkasnya.(***)