PRESIDEN : Memberikan arahan terkait program MBG / BPMI Setpres/Cahyo

Dari Sepiring Nasi untuk Masa Depan, Rp. 335 Triliun APBN Guna Program MBG

JAKARTA, bungopos.com - Pagi hari di banyak sudut negeri sering kali dimulai dengan cerita yang sama. Anak-anak berangkat sekolah dengan perut kosong, ibu hamil menahan lapar demi menghemat belanja rumah tangga, dan keluarga prasejahtera berjuang memenuhi kebutuhan gizi sehari-hari. Di sinilah negara hadir, melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang menjadi salah satu ikhtiar terbesar pemerintah dalam membangun masa depan bangsa.

Tahun 2026, pemerintah mengalokasikan Rp335 triliun dari APBN untuk memastikan 82,9 juta warga Indonesia mendapatkan akses makanan bergizi. Targetnya jelas dan ambisius: realisasi penuh pada Mei 2026, agar manfaatnya dapat segera dirasakan hingga ke pelosok daerah.

Namun MBG bukan sekadar soal makanan di atas piring. Program ini membawa misi yang lebih luas—memutus rantai kekurangan gizi, menekan stunting, dan memberi anak-anak Indonesia kesempatan tumbuh sehat dan cerdas. Di balik setiap paket makanan bergizi, tersimpan harapan tentang generasi yang lebih kuat secara fisik, lebih siap belajar, dan lebih percaya diri menatap masa depan.

Yang menarik, dampak MBG tidak berhenti pada penerima manfaat. Skema operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menerapkan pembayaran di awal memberi napas lega bagi para pelaksana di lapangan. Arus kas yang stabil membuat roda usaha terus berputar—mulai dari petani sayur, peternak ayam dan sapi, nelayan, hingga pelaku UMKM penyedia bahan pangan dan jasa pengolahan.

Di banyak daerah, program ini diharapkan menjadi lokomotif ekonomi baru. Dapur-dapur gizi tumbuh, lapangan kerja terbuka, dan investasi lokal mulai bergerak. Uang negara yang dibelanjakan untuk gizi, secara perlahan kembali ke masyarakat dalam bentuk pendapatan, usaha, dan pertumbuhan ekonomi daerah.

Presiden mengungkapkan bahwa berbagai kajian menunjukkan persentase anak Indonesia mengalami kekurangan gizi mencapai lebih dari 20 hingga 30 persen.

“Itu yang jelas dikatakan malnutrisi, stunting, badannya sangat lemah, pertumbuhannya tidak normal. Kemudian ternyata puluhan juta anak-anak Indonesia berangkat sekolah tanpa makan pagi. Banyak juga makan mereka hanya nasi dengan daun-daun,” kata Presiden di Hambalang, Kabupaten Bogor.

Pada akhirnya, Program Makan Bergizi Gratis adalah cerita tentang keberpihakan. Tentang bagaimana negara tidak hanya menghitung angka anggaran, tetapi juga memahami makna satu porsi makanan bagi jutaan rakyatnya. Dari meja makan sederhana itulah, masa depan Indonesia disiapkan—pelan, pasti, dan penuh harapan. (***)

Editor: arya abisatya
Sumber: www.indonesia.go.id