TERBITAN BARU : Buku sejarah yang diterbitkan oleh Kemendikmen

Pemerintah Terbitkan Buku Sejarah Baru, Sejarah Indonesia Berpotensi Dikaji Ulang

YOGYAKARTA, bungopos.com - Awal Desember 2025 menjadi penanda penting dalam perjalanan historiografi Indonesia. Kementerian Kebudayaan resmi meluncurkan buku Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global, sebuah karya monumental yang terdiri dari 10 jilid dan melibatkan 123 penulis dari 34 perguruan tinggi serta 11 lembaga non-perguruan tinggi. Peluncuran buku ini tidak hanya menghadirkan rujukan baru bagi penulisan sejarah nasional, tetapi juga membuka babak baru dalam cara bangsa ini memandang masa lalunya.

Pada hari yang sama, 14 Desember, pemerintah juga menetapkan Hari Sejarah Nasional. Penetapan ini merupakan usulan para sejarawan Indonesia, sebagai upaya memperkuat kesadaran publik akan pentingnya sejarah dalam membentuk identitas dan arah kebangsaan. Momentum ganda tersebut menegaskan keseriusan negara dalam menempatkan sejarah sebagai fondasi penting pembangunan karakter bangsa.

Salah satu editor buku tersebut, Dosen Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Agus Suwignyo, M.A., menyebut kehadiran buku ini hampir pasti akan berdampak langsung pada kurikulum pembelajaran sejarah di sekolah. Menurutnya, materi sejarah di tingkat SD, SMP, hingga SMA selama ini merujuk pada buku sejarah nasional yang disusun pemerintah.

“Pasti akan ada perubahan, pelan-pelan secara bertahap. Siswa perlu mengetahui pengetahuan sejarah yang belum pernah diperkenalkan sebelumnya,” ujar Agus saat ditemui, Selasa (6/1).

Perubahan tersebut, kata Agus, bukan semata soal penambahan fakta atau periode sejarah tertentu, melainkan juga perluasan sudut pandang. Buku Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global mencoba menempatkan perjalanan bangsa Indonesia dalam konteks yang lebih luas, tidak terlepas dari pengaruh global, interaksi antarbangsa, serta dinamika sosial-politik yang kompleks.

Namun, peluncuran buku ini juga tak lepas dari kekhawatiran sebagian masyarakat. Muncul kekhawatiran akan adanya perubahan signifikan dalam narasi sejarah, termasuk kemungkinan penonjolan tokoh atau peristiwa tertentu. Menanggapi hal tersebut, Agus menilai kekhawatiran itu wajar, tetapi belum bisa disimpulkan sebelum keseluruhan isi 10 jilid buku tersebut dibaca secara utuh.

“Hal itu baru akan terungkap setelah keseluruhan isi buku keluar dan dibaca secara detail, serta dibandingkan dengan model sejarah nasional sebelumnya,” jelasnya.

Alih-alih menutup ruang perbedaan tafsir, Agus justru berharap buku ini dapat menjadi pemantik diskusi publik yang sehat. Ia menginginkan sejarah Indonesia tidak lagi dibaca secara sempit dan terfragmentasi, tetapi dipahami sebagai rangkaian peristiwa yang kaya, berlapis, dan melibatkan banyak aktor sosial.

“Saya pribadi akan senang nanti peluncuran ini akan memancing diskusi-diskusi di ruang publik, di komunitas-komunitas, di perguruan tinggi, di sekolah mengenai sejarah Indonesia,” harapnya.

Di tengah tantangan globalisasi dan derasnya arus informasi, kehadiran buku Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global menjadi upaya penting untuk menata ulang ingatan kolektif bangsa. Bukan untuk menghapus masa lalu, melainkan untuk membacanya kembali dengan kacamata yang lebih terbuka, kritis, dan relevan dengan perkembangan zaman. (***)

Editor: Arya Abisatya
Sumber: https://ugm.ac.id/