JAKARTA, bungopos.com - Bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatra tak hanya menyisakan dampak sosial dan infrastruktur, tetapi juga mengancam ketahanan pangan nasional. Badan Pusat Statistik (BPS) menyoroti potensi gangguan serius terhadap produksi padi akibat banjir yang terjadi di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Ketiga provinsi tersebut selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung padi di kawasan barat Indonesia. Namun, banjir yang datang berulang di tengah musim tanam berjalan dinilai berisiko meningkatkan kegagalan panen petani. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, mengungkapkan bahwa hasil pemantauan terbaru menunjukkan sebagian lahan pertanian padi di wilayah terdampak kini berada dalam kondisi rawan.
BACA JUGA: Semangat Budaya dan Sinergi Warnai HUT ke-69 Provinsi Jambi di Bungo
“Dari total lahan padi yang ada, sekitar 11,43 persen tercatat masuk dalam kategori berpotensi tidak menghasilkan panen,” ujar Pudji Ismartini dalam konferensi pers yang dikutip dari NU Online melalui kanal YouTube Badan Pusat Statistik.
Angka tersebut mencerminkan lonjakan signifikan dibandingkan kondisi pada bulan-bulan sebelumnya. Menurut BPS, peningkatan risiko gagal panen ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan erat kaitannya dengan curah hujan ekstrem yang mengguyur wilayah Sumatra sejak November 2025.
Intensitas hujan yang tinggi menyebabkan banjir merendam areal persawahan di sejumlah sentra produksi padi. Genangan air yang berlangsung lama berdampak pada pertumbuhan tanaman, merusak perakaran, hingga meningkatkan risiko serangan hama dan penyakit. Selain itu, struktur tanah yang jenuh air juga menyulitkan petani melakukan perawatan tanaman secara optimal.
“Proporsi potensi gagal panen ini meningkat tajam dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya,” tegas Pudji, menandakan adanya tekanan serius terhadap produksi padi nasional jika kondisi cuaca ekstrem terus berlanjut.
BPS menilai situasi ini perlu menjadi perhatian bersama, terutama bagi pemangku kebijakan di sektor pertanian dan pangan. Upaya mitigasi, mulai dari perbaikan sistem drainase lahan, penyesuaian pola tanam, hingga perlindungan bagi petani terdampak, dinilai penting untuk menekan potensi kerugian yang lebih besar.
BACA JUGA: Muda, Cerdas, Tapi Korup ? Cermin Retak Menuju Indonesia Emas 2045
Di tengah tantangan perubahan iklim yang kian nyata, banjir di sentra-sentra produksi pangan kembali menjadi pengingat bahwa ketahanan pangan nasional sangat bergantung pada kesiapsiagaan menghadapi bencana. Jika tidak ditangani dengan cepat dan terukur, ancaman gagal panen bukan hanya berdampak pada petani, tetapi juga berpotensi memicu gejolak pasokan dan harga pangan di tingkat nasional. (***)