YOGYAKARTA, bungopos.com - Sektor pariwisata nasional mencatatkan pergeseran tren signifikan pada momentum Libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) melalui penguatan fenomena micro tourism. Fenomena microturism atau berwisata dengan berfokus pada perjalanan dengan skala kecil, jarak dekat, dan durasi singkat menjadi tren pariwisata akhir-akhir ini. Pola perjalanan ini menekan biaya perjalanan tanpa mengurangi intensitas rekreasi, dengan fokus pada eksplorasi area lokal yang dinilai lebih aman.
Peneliti Pariwisata UGM, Dr. M. Yusuf, M.A., mengungkapkan bahwa lonjakan wisatawan di destinasi seperti Yogyakarta dan kota tujuan wisata lainnya pada libur Nataru didorong oleh kemudahan akses tol yang memangkas waktu tempuh secara drastis. Selain aksesibilitas, faktor perceived safety (persepsi keamanan) terhadap bencana alam juga menjadi pertimbangan krusial wisatawan. “Wisatawan mempersepsikan Jogja memiliki tingkat keamanan yang tinggi atau risiko kerawanan yang rendah sehingga banyak sekali wisatawan hingga membludak,” ujar Yusuf, Jum'at (2/1).
Namun, di balik tren tersebut. Yusuf juga memberikan catatan kritis mengenai urgensi mitigasi bencana pada destinasi wisata yang ada. Pasalnya, setiap destinasi wisata harus memiliki roadmap mitigasi bencana yang berisikan 3 poin penting. Pertama, identifikasi potensi bencana. Kedua, bagaimana menggunakan sumber daya baik untuk menjadi satu modal atau kekuatan dalam merespon bencana. Ketiga, jika terjadi bencana apa yang harus dilakukan,” rincinya.
Yusuf juga menyoroti penumpukan wisatawan (overtourism) yang kerap terjadi pada akhir pekan. Sebagai solusi, ia menyarankan agar pengelola wisata dapat megembangkan weekdays tourism melalui Health and wellness tourism. Dikarenakan peluang untuk menciptakan program wisata pada hari kerja sangat terbuka lebar. Apalagi program ini akan meringankan beban infrastruktur dan akan memecah tumpukan pengunjung di akhir pekan. “Sasarannya adalah segmen pengusaha, pensiunan, hingga pekerja remote yang tidak terikat jam kantor,” jelasnya.
Yusuf Juga melontarkan kritik keras terhadap wacana mengenai subsidi tiket pesawat. Ia menilai subsidi tiket hanya strategi pemasaran yang tidak menyelesaikan akar persoalan mahalnya biaya transportasi udara. “Orang jadi berpikir dua kali untuk berwisata jauh itu karena harga tiket pesawat tinggi. Gagasan subsidi tiket hanyalah bahasa pemasaran. Lebih tepat jika ditempuh melalui prosedur penurunan pajak suku cadang pesawat dan maskapai bandara juga harga avtur,” tuturnya.
Lebih lanjut, Yusuf juga mengkritisi ide work from mall (WFM) yang dinilai kurang tepat. Ketimbang bekerja dari pusat perbelanjaan besar, ia lebih mendorong konsep bekerja dari destinasi wisata (work from tourism destination). “Ketimbang kita menghidupkan kapitalis, mari kita coba berpihak kepada masyarakat rentan melalui desa wisata yang dikelola masyarakat,” ajaknya.
Sebagai penutup, Yusuf menekankan bahwa pariwisata inklusif adalah kunci karena penyegaran pikiran atau healing merupakan hak seluruh lapisan masyarakat. Ia mengapresiasi langkah pemerintah daerah yang membangun ruang publik gratis hingga tingkat kecamatan. Namun, ia juga mengingatkan agar pengelolaanya dilakukan secara profesional dan tidak alakadarnya. “Pariwisata inklusif sejatinya harus mampu menarik minat masyarakat luas, termasuk dari luar daerah. Tentunya dengan memegang teguh prinsip pengelolaan yang baik dan aspek keselamatan bencana,” pungkasnya. (***)