PADANG, bungopos.com — Hujan tidak pernah selembut ini ketika turun di Kota Padang. Dari Selasa (25/11/2025) hingga Kamis (27/11/2025), curah hujan yang mengguyur Sumatera Barat berubah menjadi bencana besar: banjir bandang dan tanah longsor yang meluluhlantakkan sejumlah daerah, termasuk Kota Padang.
Di Kecamatan Nanggalo, aroma lumpur dan kayu basah menguasai udara. Warga berpeluh, saling bahu membahu membersihkan rumah yang telah berubah menjadi ruang penuh lumpur setinggi betis. Namun bukan hanya lumpur yang menyulitkan—gelondongan kayu berdiameter hampir satu meter melintang begitu saja di ruang tamu, halaman, dan gang-gang kecil.
Aktivis Nahdlatul Ulama (NU) Sumbar, Armaidi Tanjung, menjadi salah satu saksi mata yang melihat betapa sulitnya warga memulihkan rumah mereka. Ia menyebut ukuran kayu yang terbawa arus sangat besar, “bukan jenis kayu yang jatuh sekadar karena hujan,” katanya.
“Kayu gelondongan ini bukan pohon yang tumbang akibat longsor, tetapi memang ditebang oleh manusia. Terlihat dari bentuk potongannya, mungkin sudah ditebang beberapa hari sebelum banjir datang,” ujar Armaidi, dikutip dari NU Online.
Ia menambahkan bahwa persoalan bencana di Sumbar tidak berdiri sendiri. Hujan mungkin pemicu, namun akar persoalannya lebih dalam: aktivitas pembukaan hutan secara masif di kawasan Pegunungan Barisan.
Bagi Armaidi, banjir kali ini adalah alarm keras bahwa alam telah lama memberi peringatan—dan manusia mengabaikannya.
Rumah-Rumah yang Terkepung Gelondongan
Di beberapa titik Nanggalo, warga bahkan harus menggunakan gergaji mesin dan tali tambang untuk memindahkan kayu-kayu yang tersangkut di dinding rumah. Sebagian dari mereka mengaku lebih takut pada gelondongan kayu daripada banjir itu sendiri.
“Banjir sudah sering kami hadapi. Tapi baru kali ini ada kayu sebesar ini masuk sampai dapur,” ujar salah seorang warga.
Bagi banyak keluarga, membersihkan rumah bukan sekadar mengembalikan kenyamanan, tetapi juga merelakan barang-barang yang tak lagi bisa diselamatkan—lemari yang terbelah, perabot yang terendam, hingga dinding yang retak karena hantaman kayu.
Armaidi menegaskan, kejadian ini adalah contoh nyata dari rusaknya ekosistem hutan. Ketika pepohonan ditebang secara ilegal, akar-akar yang seharusnya menahan air dan tanah tidak lagi berfungsi. Akibatnya, derasnya hujan membawa turun apa saja: lumpur, batu, hingga kayu-kayu hasil tebangan yang menunggu waktu untuk hanyut.
“Ini bukan bencana alam murni. Ini adalah bencana ekologis,” katanya.
Meski air sudah surut, Kota Padang belum benar-benar pulih. Warga masih berjibaku menormalkan hidup: membersihkan rumah, memperbaiki jalan lingkungan, dan menata kembali barang-barang yang tersisa.
Di tengah rasa lelah, ada harapan agar tragedi ini menjadi titik balik. Bahwa pembukaan hutan tanpa kontrol bukan hanya merusak pegunungan, tetapi juga meruntuhkan kehidupan di kaki gunung, di kota-kota yang kini semakin rentan.
Padang hari ini tidak hanya berurusan dengan lumpur dan kayu gelondongan—ia sedang menata ulang hubungan manusia dengan alam yang selama ini terabaikan. (***)